KEJUARAAN DUNIA BALAP MOBIL FORMULA E

Lesat Gagasan dari Atas Serbet Resto Paris ke Litar Formula E Jakarta

| dilihat 259

Catatan Bang Sém

BALAP bergengsi Formula E kelas dunia yang digelar di Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC) Ancol, Jakarta Utara yang berseberangan dengan Jakarta International Stadium (JIS), Sabtu (4/5/22), itu sukses! Patut disyukuri dengan sukacita.

Balapan di litar JIEC Ancol tersebut, secara real time, secara langsung disaksikan 22.000 orang langsung di lokasi, dipancarkan platform Youtube Official dan oleh saluran penyiaran lebih 150 saluran penyiaran seluruh dunia -- dengan multimedia, multi channel dan multi platform -- yang menjangkau jutaan orang.

Dari sisi pandang sosio budaya - politik - ekonomi, tak ada kata lain yang pantas dan patut disandangkan, kecuali 'sukses.' Perkembangan historis penyelenggaraan balap Formula E, memberi dampak khas pada pluralisme politik dan multikulturalisme, baik idologis maupun pragmatis.

Ikhtiar untuk menghimpun yang terserak, mendekatkan yang jauh, sekaligus  mengkaribkan yang dekat melalui satu peristiwa dalam satu peristiwa budaya yang mempertemukan sains, teknologi, seni, ekologi, dan bahkan geofisika, juga berhasil.

Petinggi dan rakyat Indonesia dengan beragam latar belakang, melalui inisiator penyelenggaraan dan pelaksanaan balapan tersebut (Gubernur Anies Baswedan, Wakil Rakyat Sahroni, profesional motosport, dan beribu anak bangsa yang bekerja dalam senyap tak terpengaruh kebisingan di luar litar), telah membuktikan Indonesia 'tandang makalayang' (eksis berkemajuan di jagad inovasi teknologi motosport) ramah lingkungan.

Anies beserta seluruh penyelenggara dan pelaksana balap Formula E tersebut membuktikan, Indonesia tak hanya pandai berwacana, bercakap-cakap, dan 'sentak sengor' (tarik urat di kedai kopi pinggiran jalan). Khasnya tentang persoalan-persoalan tetek bengek pragmatisme politik dan politik transaksional yang bising dan gaduh.

Menempatkan Jakarta dalam list kota penyelenggara balapan Formula E, telah memasukkan masyarakat Indonesia berada dalam arus antusiasme masyarakat dunia, untuk bersama-sama menggerakkan e-mobilitas.

Dari publikasi situs resmi ABB FORMULA E, diketahui, Balap Formula E yang diinisasi Fédération Internationale de l'Automobile (FIA) alias federasi otomotif internasional sejak 2014, tersebut dimulai dengan kick off di Beijing (China).

Lalu, antara 2014-2022 digelar di Putrajaya (Malaysia), Punta del Este (Uruguay), Buenos Aires (Argentina), Miami - Long Beach - New York City (Amerika Serikat), Monte Carlo (Monaco), Berlin (Jerman), Moscow (Russia), London (Inggris), Mexico City - Puebla (Mexico), Paris (Perancis), Hong Kong (China), Marrakesh (Maroko), Montreal (Kanada), Santiago (Chile), Roma (Italia), Zurich - Bern (Swtzerland), Ad Diriyah (Saudi Arabia), Sanya (China), Valensia (Spanyol), Jakarta (Indonesia), dan kelak Seoul (Korea Selatan).

Di Jakarta, pembalap Jaguar TCS Racing - Mitch EVANS (26) kelahiran Auckland yaang memulai debutnya di Formula E tahun 2016, menaklukan para kompetitornya. Ia naik podium dan menerima piala dari Presiden Joko Widodo sebagai jawara.

Menyusul di posisi kedua, pembalap tim DS Techeetah - Jean Éric VERGNE  (32) kelahiran Potoise - Perancis, yang memulai debutnya di Punta del Este E-Prix (2014). Posisi ketiga ditempati pembalap tim Rokit Venturi Racing - Edoardo MORTARA (35) kelahiran Jenewa, yang memulai debutnya di litar Hong Kong E-Prix (2017).

Setelah sukses di Jakarta, balap Formula E akan digelar di Marrakesh, Marocco. Anies menginformasikan melalui vlog di akun instagramnya, ketika melakukan pengecekan akhir (Ahad, 5.6.21) proses 'packaging' seluruh perangkat balap itu, sebelum diberangkatkan dari kawasan litar di Ancol.

Dari Atas Serbet Meja Makan Resto

BERBEDA dengan balapan Formula 1, balap mobil listrik berbasis kota, Formula E - seperti ditulis Sam Carp (SportsPro - 2.2.2018) digagas oleh Jean Todt, Presiden Fédération Internationale de l'Automobile (FIA) - lembaga pengatur dunia motorsport,

Todt mengemukakan gagasannya saat makan malam di sebuah resto kecil Italia di sudut kota Paris (3.3.2011) bersama  Alejandro Agag -  pembalap Spanyol, yang ditulis Saj Chowdhurry - BBC Sport - London (10.9.2014), juga pebisnis sukses di litar (sirkuit) Formula I dan motorsports.

Agag  yang hadir bersama sahabat lamanya Alberto Longo, mendukung gagasan tersebut, setelah Todt membahas soal pembukaan tender FIA untuk menyelenggarakan seri tersebut.

Saat itu juga, Agag menyatakan dirinya akan mengambil tanggungjawab menggelar Formula E, dengan pertimbangan pengalamannya selama ini. Terutama dalam negosiasi kontrak dengan stasiun televisi, sponsorship dan pemasaran.

Alberto Longo, seperti ungkap NewsRoom mengemukakan, Tuan-tuan berbicara tentang masa depan mobilitas dan dengan cepat setuju bahwa itu pasti akan menjadi listrik.

Pada suatu titik selama malam yang penting ini, ketiga visioner itu muncul dengan gagasan bahwa FIA harus meluncurkan balapan formula elektrik pertama di dunia.

Alejandro segera menawarkan Alberto Longo menjadi promotor dalam perhelatan Formula E, sekaligus Co Founder. Semua yang hadir, termasuk dua orang lain: politisi dan aktor Itali, setuju.

"Serbet itu dibingkai dan sekarang digantung di atas meja restoran itu," cerita Alberto Longo kepada NewsRoom.

Kepada Chowdhury dari BBC Sports, Todt menyatakan, "Ini adalah upaya perintis. Tidak ada yang pernah melakukan ini sebelumnya. Kami berada di awal jenis teknologi ini - awal dari sebuah konsep." Todt menambahkan, "setiap upaya perintis berisiko, tetapi itu bagian dari tantangan."

Terbayangkan proses imagineering mewujudkan idenya dari konsep di atas serbet, creativity kick off, dan transformasi sains, teknologi, teknik, dan seni, sampai innovation breakthrough sebagai suatu gerakan budaya.

Todt sendiri mengakui, proses transformasi teknologi Formula E memerlukan waktu satu, dua, tiga dekade untuk mengakhiri seluruh proses pematangan dengan penyempurnaan tanpa henti.

Formula E menggabungkan inovasi, teknologi, keberlanjutan, dan hiburan, serta menjadikan keberlanjutan sebagai isu sentral, sesuai dengan transformasi kehidupan manusia menuju sustainable development goals.

Agag dan Longo beroleh izin resmi dari FIA untuk mendirikan Formula E pada 27 Agustus 2013. Viktoria Wohrlrapp - Juru Bicara dan Duta Jenama Formula E, menurut Longo, sejak awal sudah menghadirkanm tantangan besar.

 “Balapan pertama direncanakan untuk 2013. Itu saja sudah menimbulkan tantangan besar. Saat itu, kami sama sekali tidak memiliki apa-apa, tidak ada teknologi, tidak ada tim, tidak ada pembalap, tidak ada kota atau mitra, ”cerita Longo.

Namun, pada akhirnya, mereka diberi waktu lebih sedikit. Pada Januari 2014, tepat setelah tim pertama mendaftar, sebuah telepon datang dari markas FIA di Paris yang meminta agar mereka menggelar balapan pertama di awal musim gugur. Ini yang dimaksudkan tantangan terbesar dalam hidup kami, tetapi mimpi kami berubah menjadi kenyataan dengan balapan Formula E pertama di Beijing (13/9/2014).

Pada awalnya, Todt membayangkan perlombaan akan berlangsung satu jam dan akan berlangsung di jalan-jalan pada 10 kota di seluruh dunia - dan akan menampilkan gimmicks suara ban -- bukan mesin -- yang kemungkinan akan meninggalkan tradisionalis balapan mobil sport selama ini.

Ditanya Chowdhury tentang kesanggupan Agag mewujudkan mimpinya, Todt menjawab diplomatis, "Pikirkan karakter George Clooney di Ocean's Eleven - lelaki yang memiliki karisma dan daya pikat untuk menarik yang terbaik."

Agag, pembalap berusia 43 tahun, itu berhasil membawa mantan juara dunia F1 Alain Prost, raja motorsport Mario dan Michael Andretti, jenama Virgin Sir Richard Branson dan, berbicara tentang Hollywood dan tokoh terkemuka, Leonardo DiCaprio.

Dia telah berhasil membuat kesepakatan penyiaran lapangan secara langsung dengan ITV dan BT Sport di Inggris, bahkan Fox Sports dan saluran olahraga utama China juga telah membeli hak.

Transformasi di Balik JIEC

Agag juga telah meyakinkan kota-kota untuk memberikan jalan mereka untuk menjadi tuan rumah  sepanjang hari.  Beijing menyediakan jalan-jalan di sekitar stadion 'sarang burung' Olimpiade, di London Formula E berlangsung di sekitar Taman Battersea. Putrajaya Malaysia menyediakan ruas jalan bulevard menuju kantor Perdana Menteri, jembatan Seri Wawasan, dan jalan-jalan di belakang kantor kementerian Keuangan menjadi litar.

Di Jakarta, karena manajemen beberapa ruang berada di bawah kewenangan pemerintah pusat, seperti Monas dan kawasan Gelanggang Olahraga Bung Karno, beberapa rencana tak bisa diwujudkan.

Akhirnya, Anies selaku Gubernur Jakarta - Pemerintah Provinsi Jakarta, memindahkan ke Ancol, lokasi sentra wisata terluas di utara Jakarta. Di bekas lokasi litar Ancol dibangunlah litar baru Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC), berseberangan dengan Jakarta International Stadium (JIS), dengan bentuk litar terinspirasi 'kuda kepang.'

Kawasan dengan view luar biasa, akhirnya kini yang menjadi ikon baru Jakarta, meskipun Anies masih berusaha tetap menghadirkan Monas sebagai ikon kota, melalui rekaman presenter siaran balap Formula E, sebagaimana nampak di layar televisi dan YouTube.

Di litar Ancol, itu tak hanya pertarungan pembalap dan tim Formula E yang sejak 2014, memperlihatkan daya pikir visioner dan kerja profesional mereka dalam 'pecah telur' penyelenggaraan peristiwa bersejarah balap mobil listrik.

Bila balapan pertama di Beijing, tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi dengan motorsport ini. Di Jakarta, tidak ada yang bisa menduga kolaborasi beragam anasir pemerintah, BUMD (JakPro, JayaAncol, Jaya Konstruksi, Pembangunan Jaya), Panitia Pelaksana, dan tim internasional FIA mampu menghasilkan transformasi (perubahan dramatik) yang mengundang decak: litar Formula E terbaik di dunia dari banyak sisi.

Formula E memang hanya mungkin dipahami oleh mereka yang visioner, berpikiran luas, cerdas bernas, karib dengan pemahaman sains dan teknologi sebagai seni yang tak bisa dilepaskan dengan geofisika, serta tidak berfikir kalkulatif untuk melihat dampak promotif eksistensi Jakarta sebagai global city yang setara dengan kota-kota besar dunia.

Chowdhury menulis, dengan fokus sistematis pada e-mobilitas, Formula E saat ini mungkin merupakan seri motorsport paling penting di dunia dan tentu saja paling inovatif. Meningkatnya jumlah penggemar dan meningkatnya keterlibatan produsen mobil paling terkenal adalah buktinya.

Apa yang ditulis Chowdhury beberapa tahun lalu, sebelum pandemi nanomonster Covid-19, itu merupakan perspektif bagi siapa saja untuk melihat Formula E yang jernih. Apalagi, secara teknologi, ketika balapan Formula E diselenggarakan di Ancol - Jakarta, secara sains dan teknologi sudah mengalami perkembangan inovasi cepat generasi kedua.

Apa yang dilakukan Jaguar, Mercedez Benz, Nissan, dan industri otomotif dunia lainnya, itu dan disaksikan di Ancol - Jakarta, itu melampaui apa yang dicapai sebelumnya oleh FIA dan Agag empat tahun di awal (dengan 35 balapan di 13 kota dunia, mencakupl lima benua), seperti ditulis Sam Carp: menarik pabrikan besar seperti Porsche, Massireti, Audi , dan mendapatkan dukungan dari beragam jenama kaya termasuk Julius Baer, ??Tag Heuer dan Allianz, selain ABB sebagai sponsor pertama.

Pada putaran kedua dan ketiga di Jakarta kelak, boleh jadi sudah akan dapat disaksikan apa yang pernah terjadi di Galeri Saatchi London, yang dihadiri oleh pembalap kejuaraan, berbagai perwakilan dari media, dan sepasang robot yang beroperasi penuh melayani tamu secara  mengejutkan tamu. Tak terkecuali, terlibatnya lebih banyak usaha kreatif mandiri yang dikembangkan JakPreneur.

Merayakan Kebahagiaan Kolaboratif

Jakarta kini sudah masuk ke dalam litar babak baru inovasi sains dan teknologi sebagai gerakan budaya, yang menurut Sam, menghadapkan menghadapkan tradisi dengan masa depan, menantang norma motorsport, dan pendekatan digital-first, yang cukup jelas ditujukan untuk para pecinta masa depan. Terutama kini, ketika kita dihadapkan krisis lingkungan -- tak hanya pemanasan global -- yang terus mengancam.

Longo yang terjun ke Jakarta sebagai Chairman Chief Competition Officer FEO dan di lapangan bersama Gemma Roura - Event Planning Director FEO dan seluruh timnya, termasuk yang mengurusi paddock dan logistik, merasakan langsung kerja kolaboratif profesional sebagai bagian dari komitmen kepada gaya hidup berkelanjutan (sustainable life data-style).

Benar yang dikatakan Anies tentang komitmen Jakarta tentang kendali emisi sesuai prinsip-prinsip konvensi Paris, dan relevan dengan penegasan Presiden Jokowi usai menonton balapan Formula E tentang arah orientasi Indonesia menjadi pusat industri pengolahan sumberdaya alam dan industri substantif baterai lithium dan pemasalan kendaraan listrik  (mulai dari mobil hybrid) secara gradual. Khasnya transportasi publik listrik seperti dimulai Pemerintah Provinsi Jakarta dengan BUMD di bawahnya.

Sam mengungkapkan pandangan Agag, di berbagai kota dunia yang menjadi ajang Formula E di dunia (lima benua) perlombaan sirkuit jalanan pusat kota kejuaraan tidak mungkin diabaikan.

Merayakan kebahagiaan warga secara kolektif dengan terus menghadirkan hiburan langsung ke penonton, yang secara digital bisa diundang memilih dalam jajak pendapat media sosial pembalap yang mereka ingin lihat mendapatkan dorongan daya tambahan untuk listrik mesin mobil balap mereka di tengah balapan.

Hal lain yang menarik lagi adalah, ajang balap Formula E - termasuk di litar Ancol yang belum lama berlalu, memberikan ruang demokrasi sebagai cara mencapai keseimbangan dan harmoni. Simak dan imbang (check and balance), bahkan sampai ada yang terperosok lumpur jauh sebelum litar dibangun ditinggalkan kambing-kambingnya.

Ada – dan mungkin masih ada  - kumpulan keraguan awal yang mempertanyakan apakah Formula E,  seri motorsport ramah lingkungan tanpa kebisingan dapat menyaingi kecepatan ekstrem yang sama pada Formula I, seperti ditulis Sam Carp di Sports Pro., sehingga membuat balapan yang sukses begitu ditonton.

Apa yang berlangsung di litar Formula E - Ancol, terbukti, bisa. Jalan senyap, cerdas, menggunakan akal budi sehat, terbukti bisa mengimbangi kebisingan dan kegaduhan.

Inilah yang menurut Agag, seperti dikutip Sam, tantangan pengubah presumsi menjadi asumsi, dengan jeli melihat inovasi, tanggung jawab lingkungan, aktif memembalap perubahan iklim. Ini juga, kini dan kelak yang membuat Formula E begitu menarik bagi merek, investor, meski BUMN masih memerlukan waktu untuk ikut ambil bagian di ajang masa depan ini.

Mudah-mudahan tak terlalu lama belajarnya, karena selebriti papan atas seperti aktor Amerika Leonardo DiCaprio, sudah sejak awal mendirikan Tim Venturi Formula E jelang musim perdana kejuaraan tahun 2014.

Litar Formula E - JIEC - Ancol, mempertemukan sosok-sosok visioner : Alejandro Agag, Anies Rasyid Baswedan, Alfredo Longo, dan lain-lain. Tak terkecuali Ahmad Sahroni..

Timur berkolaborasi dengan Barat, menghadirkan Indonesia di pentas dunia dengan nyata, disertai kedalaman makna kata-kata.. | [dari berbagai sumber]

Editor : delanova | Sumber : SportsPro, formulaecom, newsroomporsche, BBC sport, ARB
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 369
Mata Maut
Selanjutnya
Sporta