Petaka

| dilihat 489

Bang Sèm

Di tengah proses penanggulangan Petaka, tanpa kecuali Petaka Sumatra yang sedang menimpa rakyat Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, hal utama yang harus mengemuka adalah bagaimana menguatkan harmoni akal budi untuk mendahulukan niat dan manifestasi kebajikan.

Sekali-sekala, jangan pernah ada niat dan aksi politisasi dalam bentuk apa pun. Lakoni perintah aksi dan upaya kongkret 'berlomba-lomba dalam kebajikan.' Lantas, menguatkan buhul kesadaran untuk saling bahu membahu melakukan kolaborasi.

Hindari sejauh mungkin sikap jahil (pandir) mengeluarkan pernyataan dengan narasi naif. Setarikan nafas, para awak media dan siapapun untuk menyampaikan fakta atas realitas di lapangan, kendati sangat pahit.

Para awak media berkewajiban melaksanakan seluruh hal yang diatur dalam kode etik jurnalistik dan pedoman perilaku jurnalis. Dengan demikian, tugas dan fungsi utama awak media, "menguji kebenaran dan menyajikan informasi yang benar kepada khalayak."

Saat ini, rakyat - korban petaka sedang memerlukan cara untuk selamat, keluar dari segala masalah dan kerumitan, sehingga secara berangsur-angsur mampu bangkit dan  melanjutkan kehidupan normal, kendati tak seperti sedia kala.

Setarikan nafas, pemerintah sebagai pelayan rakyat - civil servant dan civic mission -- bergerak lebih cepat melaksanakan tugas, tanggung jawab dan fungsinya. Tak usah sungkan dan gengsi untuk bercermin diri.

Komunikasi Beradab

Petaka selalu menyediakan peluang kepada siapa saja untuk menabung kebajikan, membuang pikiran buram dan kusam, seraya memperluas dimensi insaniahnya sebagai makhluk sosial yang mulia.

Berikan prioritas bagi sisi baik manusia berada di hadapan, dengan terus menghidupkan kesadaran secara entusias menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek, cinta dan keikhlasan. Termasuk menjaga baik nalar, naluri, dan rasa dari kehendak apapun yang langsung atau tak langsung mengontaminasi kebajikan.

Dari sudut pandang kepemimpinan, Petaka juga merupakan peluang bagi siapa saja untuk jujur sejujur-jujurnya secara nyata menghidupkan komunikasi yang beradab dan jernih kepada khalayak. Antara lain, menyatakan secara jelas dan terbuka berbagai fakta di balik isyarat alamiah yang kasad mata.

Secara selintas, dari kalangan formal penyelenggara negara, setidaknya kita dapat belajar dari Gubernur Aceh Muzakkir Manaf (Mualem) beserta staf dan para petinggi lokal, yang dalam situasi darurat berada di tengah-tengah rakyatnya.

Dari kalangan masyarakat madani, netizen, setidaknya kita juga dapat belajar dari aksi spontan Ferry Irwandi cum suis yang dalam waktu singkat mampu menggalang kesadaran dan tanggung jawab sosial khalayak memantik ghairah dan ghirah ta'awun secara rasional dan realistis membantu para korban.

Dari Mualem, Usman, Ferry Irwandi cum suis kita dapat belajar bagaimana praktik good governance (transparansi, kewajaran, tanggung jawab, kebertanggung-jawaban, dan kemandirian) dalam mengelola cara bertindak ketika masih banyak petinggi berkilah begini dan begitu.

Rudapaksa atas Alam

Di tengah keadaan darurat apalagi dengan kondisi medan yang teruk dan lantak,  prioritas utama adalah melakukan aksi -- terkoordinasi -- penanggulangan Petaka. Prinsip asasinya adalah "korban didahulukan, kemanusiaan diutamakan." Terutama dalam mengelola kesadaran dan tanggung jawab kolektif 'rakyat bantu rakyat, korban bantu korban.'

Pikiran, sikap dan tindakan nyata -- sebagaimana tampak pada watak kepemimpinan Mualem -- totalitas seorang pemimpin. Tenang menghadapi tantangan berat, dan tegas mengambil keputusan dalam ketenangannya. Juga lugas dan jernih membuka ruang mutual respect khalayak.

Ia membuka peluang bagi siapa saja -- dari dalam atau luar negeri -- yang akan berkontribusi membantu percepatan menanggulangi masalah. Ia tak perlu memasang wajahnya di kemasan barang-barang bantuan sosial kepada korban.

Pun demikian pada aksi Ferry Irwandi yang secara sederhana dan terbuka menegaskan bantuan yang dikirim kepada korban adalah bantuan masyarakat.

Ia juga sangat terbuka dan jelas mengabarkan kepada rakyat, bantuan Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang memungkinkan bantuan itu tiba pada tujuan yang tepat.

Transparansi (kejelasan informasi) itu penting, agar petaka yang dihantar semesta sebagai akibat kejahatan manusia melakukan tudapaksa atas alam (membabat hutan - deforestasi, alih fungsi lahan, melanggar rencana tata ruang - khasnya tata ruang hutan) yang menyebabkan bumi 'lelah,' daya dukungnya menurun.

Dalam situasi demikian, anomali iklim menerjang. Banjir bandang dan tanah longsor tak dapat dibendung.

Cukuplah Petaka kali ini memporak-perandakan tatanan kehidupan, merenggut hampir seribu nyawa, seraya menghilangkan ratusan manusia dan hartanah.. dan, jangan berulang lagi... |

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber.. ilustrasi pngwings
 
Budaya
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 512
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
15 Nov 25, 12:24 WIB | Dilihat : 708
Jakarta dalam Kopor Afrizal Malna
14 Okt 25, 20:21 WIB | Dilihat : 608
Masihkah Kita Sungguh Sebangsa Se-Tanah Air ?
Selanjutnya
Energi & Tambang