
Bang Sem
Kabar duka itu tiba selepas shubuh (Senin, 12/1/26), dari Tan Sri Johan Jaaffar (TSJJ) - Wartawan Negara Malaysia, mantan Chairman Media Prima Bhd yang membawahi sejumlah media cetak, radio, televisi dan periklanan.
"Salam Suboh jua, Dukacita dimaklumkan bahawa sahabat kita, Saba baru sahaja menghembuskan nafas terakhirnya pada kira-kira pukul 05.28 pagi tadi dan kini jenazah almarhom Sabaruddin Ahmad Sabri masih di Hospital Sg Buloh dan mengikut perancangan ahli keluarga jenazah akan dibawa daripada Hospital Sg Buloh ke Masjid FRIM Kepong sebelum dikebumikan di Tanah Perkuburan Bukit Lagong," ungkap maklumat itu.
Selang beberapa menit, Noor Azli, mantan Sulit Kanan Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan (PKK) Malaysia pun menghantar kabar yang sama. Teladan kesabaran dan keikhlasan itu berpulang.
Beberapa hari sebelumnya, TSJJ dan Noor Azli yang menyampaikan kabar, Chik Sabar masuk dan dirawat di hospital tersebut. Zusrina Shamsuddin, 55, ketika saya kontak, menyampaikan kabar agak melegakan tentang perkembangan kesehatan suaminya.
Beberapa hari kemudian, TSJJ mengirim gambar yang merekam kunjungannya menjenguk ke hospital. Nampak, Chik Sabar masih lemas dan pucat.
Sabaruddin Ahmad Sabri, 60, mantan wartawan Pertubuhan Berita Nasional Malaysia (Bernama) yang memulai karirnya di desk ekonomi, sebelum pindah ke Surat Kabar Utusan Malaysia. Selepas, itu ia bekerja di perusahaan pembangunan (konstruksi), lantas kembali ke dunia media sebagai wartawan sekaligus penyiar di RTM (Radio Talivisyen Malaysia), dan terkenal sebagai host sekaligus penyiar Selamat Pagi Malaysia dan memandu program temu bual (talkshow) dari Dewan Rakyat (Parlimen).

Media Baru
Hubungan persahabatan kami kian menguat kala sama aktif dalam pembentukan Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia (ISWAMI) yang memusatkan perhatian pada hubungan profesional dan persahabatan wartawan pengelola media di dua negara. Sekaligus menjalankan fungsi diplomasi khalayak. Allahyarham mengemban amanah sebagai Sekretaris (Setia Usaha) ISWAMI Malaysia. Allahyarhamlah yang mendampingi saya ketika menyampaikan syarahan umum untuk 1000 karyawan JASA - Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan (KPKK) Malaysia yang dipimpin Direktur Jendral (Alm) Fuad Hassan.
Dalam hubungan yang karib, itu dialog kami tak lagi terbatas dalam lingkup media dan budaya, merambah jauh sampai ke soal-soal yang lebih pribadi. Kebetulan, kami sama-sama pernah aktif dalam olah raga hoki. Saya pada dekade 1970-an dan Allahyarham pada dekade 1980-an kala Bernama membentuk klub hoki.
Selain kerap bertemu dalam momen-momen dunia media serantau, seperti Hari Pers Nasional (HPN) dan Hawana (Hari Wartawan Nasional), kami juga bersama dan berdiskusi dalam berbagai forum dan aktivitas sosio budaya. Termasuk mamfasilitasi pertemuan dan dialog antar aktivis mahasiswa dan pemuda dua negara.
Juga dialog dan seminar tentang ekonomi (proses mengubah minda usaha kecil menengah menjadi usaha kreatif mandiri) dan budaya, termasuk penelitian ihwal multikulturalisma, tamaddun Melayu, sampai kiat dan siasat pemajuan adat resam budaya di tengah arus besar transformasi yang bergerak cepat. Khasnya terkait dengan media baru.
Beberapa bulan belakangan, dialog kami -- yang melibatkan kalangan kreatif industri film -- mengarah ke soal-soal spiritual, termasuk dakwah ekonomi berbasis muamalah. Terutama kala Allahyarham aktif dalam bisnis berbasis ekonomi Islam dan fokus pada pangan.
Ketika berlangsung HAWANA 2023 di Ipoh - Perak, kami bertandang ke kediaman keluarga -- adik -- nya dan sempat diskusi ihwal penyebaran minda tentang perlunya pengembangan minat kaum muda terhadap niaga dan industri berbasis teknologi informasi.

Tantangan Zaman Baru
Isu ini kami bincangkan lebih mendalam, kala Allahyarham bersama Noor Azli dan beberapa rekan lainnya datang ke Jakarta. Kala itu, Allahyarham menyampaikan buku Datuk Zack bertajuk "Rahsia Tun Dr. Mahathir Mohammad."
Sepekan sebelum masuk hospital, suatu malam Allahyarham masih berkomunikasi dengan saya tentang sejumlah sahabat yang telah mendahului. Antara lain, Allahyarham Datuk Abdul Djalil Ali, Allahyarham Mohammad Nasir Yusoff, Allahyarham Datuk Baharom Mahusin, dan lainnya. Di Indonesia, kita mencatat Allahyarham Tarman Azzam, Allahyarham Saiful Hadi, dan lainnya.
Mereka adalah orang-orang baik yang mempunyai sikap dan integritas dalam menjalankan profesi dan kehidupan sehari-hari. Mereka tak hanya para wartawan yang mengalami beragam fase perjuangan kemerdekaan pers. Sampai akhir hayatnya, mereka konsisten memegang prinsip profesionalisme dan integritas. Orang - orang besar yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan senyuman dan keikhlasan.
Akan halnya Allahyarham Sabaruddin Ahmad Sabri yang sangat sabar dan konsisten dalam menjaga muruah profesi dan jiwa patria, sampai menjelang masuk ke hospital masih berbicara tentang bagaimana menyiapkan lima anaknya sebagai generasi baru yang harus menghadapi tantangan zaman baru, era post truth, yang gamang, tak pasti, ribet, dan mendua.
Saya merasa, kepergian mereka ke haribaan Ilahi merupakan kehilangan sahabat dan saudara dan menyadari betapa diri dengan bilangan usia, belumlah menjadi sesiapa.
Saya sepakat dengan TSJJ yang menyatakan, "Terlalu ramai kawan-kawan yg pergi akhir-akhir ini, setiap kali terasa kesedihan yg amat sangat, lalu mengingatkan tentang kecilnya diri di mata Allah..." Selamat jalan melintasi gerbang husnul khatimah, Chik Sabar... |
Artikel Terkait :
Tarman Azzam Ujung Pena yang Tak Pernah Patah
Berpulangnya Telangkai Indonesia Malaysia - Saiful Hadi
Selamat Jalan Sahabat Haji Mohammad Nasir Yusoff
Cermin Kearifan Datuk Baharom Mahusin