AS Kuasai Migas Venezuela

Maduro Nyatakan Dirinya Diculik Pasukan AS

| dilihat 303

Serangan militer AS ke Caracas, ibu kota Venezuela menimbulkan silang sengketa pendapat berbagai kalangan di dunia. Serangan yang berujung penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Serangan itu melibatkan lebih dari 150 pesawat dan 200 personel AS yang memasuki Venezuela.

Dengan gayanya, Trump bersumpah AS akan 'menjalankan' Venezuela sampai "transisi yang aman, tepat, dan bijaksana" dimungkinkan. Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer mengatakan rencana AS untuk menjalankan Venezuela 'tidak jelas, berdasarkan angan-angan, dan tidak memuaskan.'

Dari Gedung Capitol AS di Washington DC, berkembang tudingan kepada Trump yang melakukan penyerangan secara tidak sah, karena tidak dibicarakan lebih dulu dengan Senat. "Saya tidak menerima jaminan apa pun bahwa kita tidak akan mencoba melakukan hal yang sama di negara lain," kata Schumer.

Lebih jauh Schumer menyatakan, "Ketika Amerika Serikat terlibat dalam perubahan rezim dan apa yang disebut pembangunan bangsa seperti ini, pada akhirnya selalu merugikan Amerika Serikat." Pernyataan Schumer dibantah Ketua DPR AS, Mike Johnson yang menyatakan, AS tidak melakukan perubahan rezim. Serangan kepada Venezuela, menurut Schumer, merupakan "tuntutan untuk perubahan perilaku oleh suatu rezim."

Johnson mengandaikan operasi serdadu AS di Caracas tersebut "menentukan dan dibenarkan." Menurutnya, AS "selalu mempertahankan hak untuk menggunakan kekuatan guna membela kepentingan nasional kita, untuk menjaga keselamatan rakyat Amerika dan untuk mencegah ancaman berkelanjutan terhadap keamanannya."

Kontroversi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro selepas serangan serdadu Amerika Serikat (AS) yang melantakkan pemukiman kelas atas di Caracas, Sabtu (3/1/26), masih menjadi isu hangat berbagai media arus utama dan media sosial.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump makin kepayang dan menampakkan posisi AS dalam sebagai penguasa dalam pergaulan dunia. Trump tak pernah henti mendudukkan AS sebagai penguasa dunia. Melampaui citra yang dibangun selama bertahun-tahun sebagai 'polisi dunia.'

Konflik Tanpa Henti

Sun Lei, kuasa usaha Misi Tetap China untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan kepada Dewan Keamanan PBB yang melakukan pertemuan darurat di Markas PBB, New York (6/1/26). Ia tidak membenarkan tindakan AS atas Venezuela.

Lebih jauh ia menyatakan, serangan AS atas Venezuela, relatif sama dengan apa yang mereka lakukan di Irak, Amerika Latin, dan Karibia. Tindakan semena-mena yang mengakibatkan "konflik tanpa henti, ketidakstabilan, dan penderitaan yang luar biasa bagi rakyat biasa."

Trump dan AS tak hirau dengan ucapan Sun Lei atau siapapun petinggi berbagai negara di dunia yang melontarkan hal sama. Bahkan, pihak AS mengemukakan, penangkapan atas Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, puantama (first lady) Cilia Flores.

AS menangkap dan cepat memboyong Maduro dan Flores keluar Venezuela, menuju ke New York City (NYC), menggunakan kapal USS Iwo Jima, Sabtu (3/1/26) dan

Di bekas ibukota AS tersebut, Maduro dan istrinya ditahan. Maduro dan istrinya diperlakukan tanpa rasa hotmat. Kendaraan khas tahanan yang membawa pasangan ini melintasi Manhattan, sempat membuka pintunya, laksana selebrasi kemenangan.

Trump sendiri yeng mengabarkan penangkapan, itu melalui salah satu akun media-sosialnya. Peristiwa (yang ramai disebut sebagai penculikan) tersebut menyadarkan pemerintah Venezuela, bahwa intervensi militer AS yang terkait dengan pembongkaran rezim adalah ancaman yang sangat dekat.

AS menyebut Maduro sebagai seorang lelaki yang memegang kendali kekuasaan sangat besar, mengendalikan sistem pemilihan, peradilan, militer, serta loyal dari kelompok milisi yang kuat. Negara 'super power' yang senang menyerang berbagai negara dengan kekerasan, itu telah lama menuduh Maduro memimpin organisasi perdagangan ilegal.

Ancaman AS Nyata

Trump dan AS menggambarkan organisasi tersebut bernama  'Cartel de los Soles,' suatu kelompok teroris yang digerakkan sekelompok petinggi di Venezuela. Aktivitas utama kelompok ini adalah kegiatan perdagangan narkoba dan penambangan ilegal.

Tuduhan-tuduhan tersebut dan berbagai tuduhan lainnya, menjadi alasan Trump dan AS melakukan penahanan atas Maduro dan Flores, istrinya.  Keduanya di tahan di Pusat Penahanan (penjara) Metropolitan di Brooklyn.

Di Caracas sendiri penangkapan Maduro dan istrinya disambut terbelah. Sebagian kaum pembangkang, terutama Maria Corina Machardo, bersukacita. Meskipun direndahkan oleh Trump, pembangkang ini menyatakan, penangkapan itu menginspirasi banyak harapan.

Pendukung Machardo tak semuanya bersukacita, sikap Trump terhadap pemimpin pembangkang, itu (merendahkan) dianggap sebagai sikap yang tak semestinya dilakukan Trump dan AS. Yang pasti, hampir semua kalangan di Venezuela  akhirnya yakin, bahwa ancaman Trump untuk melakukan intervensi merupakan sesuatu yang nyata. Bukan sekadar ocehan.

Mahkamah Agung Venezuela telah memerintahkan Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengambil alih kekuasaan dan tugas sebagai presiden sementara. Keputusan itu membuat Machardo meradang dan menyerukan agar kandidat oposisi dalam Pemilihan Umum 2024, Edmund Gonzêles.  Ketika itu, Maduro secara tersirat menuduh musuh asing (AS)  ada di balik aksi meretas sistem pemungutan suara.

Sebaliknya, pihak pembangkang menyatakan, penghitungan suara yang mereka kumpulkan, menunjukkan González mengalahkan Maduro telak. González, seorang diplomat pensiunan yang tidak dikenal para pemilih dicalonkan mendadak sebagai pengganti Maria Corina Machado dalam kontestasi itu.

Penangkapan Maduro dan istrinya kini berada dalam kegamangan antara kegembiraan dan kecemasan. Karena, meskipun Mahkamah Agung sudah memerintahkan Rodriguez mengambil alih kekuasaan dan menjalankan fungsi sebagai pejabat Presiden Venezuela, dia berada dalam tekanan AS.

Kerjasama dengan AS

Rodríguez, wakil presiden sejak 2018, mengatakan ia merasa sedih atas apa yang disebutnya sebagai 'penculikan' Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang ditangkap oleh pasukan AS dalam penggerebekan Sabtu malam (3/1/26).

Usai mengucapkan sumpah jabatan, Rodríguez berbicara di hadapan rakyat dalam suatu rapat akbar. Rodríguez mengatakan kepada Majelis Nasional bahwa ia melakukannya "dengan berat hati" karena penderitaan yang disebabkan oleh "agresi militer yang tidak sah." Ia berjanji untuk menjamin perdamaian negara, "ketenangan spiritual rakyat kita, ketenangan ekonomi dan sosial rakyat kita."

Ribuan warga Venezuela berkumpul di luar Istana Legislatif Federal untuk menunjukkan dukungan kepada Maduro, istrinya, dan presiden sementara Rodríguez. Dalam pidatonya dihadapan rakyat Venezuela, ia mengindikasikan, pemerintahannya akan terlibat dalam beberapa kerja sama dengan AS. "Kami mengundang pemerintah AS untuk berkolaborasi dengan kami dalam agenda kerja sama yang berorientasi pada pembangunan bersama dalam kerangka hukum internasional."

Majelis juga mendengarkan keterangan dari putra Maduro yang menyatakan dukungannya kepada orang tuanya - dengan mengatakan bahwa mereka "akan kembali" ke Venezuela. Ia juga menawarkan "dukungan tanpa syarat" kepada Rodríguez.

Boleh jadi yang disampaikan Rodriguez adalah strategi meredakan ketegangan karena Trump menyatakan 'ancaman,' bila Rodriguez tak patuh pada AS, dia mungkin akan 'membayar lebih mahal' dari Maduro. Trump menuyatakan, AS akan 'menjalankan negara itu' sampai 'transisi yang bijaksana' dapat terjadi. Trump juga mengatakan AS akan menyita cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.

Menurut Ketua DPR AS Johnson, "Kita memiliki cara untuk membujuk, karena ekspor minyak mereka, seperti yang Anda ketahui, telah disita, dan saya pikir itu akan membawa negara itu ke pemerintahan baru dalam waktu yang sangat singkat."

"Saya di sini diculik"

Trump juga berjanji perusahaan minyak AS akan pindah ke negara itu untuk memperbaiki infrastruktur dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu.

Agaknya, itulah yang menjadi target Trump ketika menangkap Maduro dan istrinya, serta membawanya secara tidak hormat ke New York. Lantas menghadapkan Maduro dengan rantai borgol di kaki

AS menghadapi kritik tajam di PBB, tetapi duta besar AS menanggapi bahwa cadangan energi terbesar di dunia tidak dapat dibiarkan di tangan seorang pemimpin yang tidak sah, seorang "buronan."

Kepada wartawan yang meliput peristiwa itu (Senin, 5/1/26), Maduro mengatakan dirinya diculik dengan melanggar hukum internasional. Maduro nampak tenang, ketika Hakim Alvin Hellerstein meminta Maduro mengkonfirmasi identitasnya agar untuk memulai persidangan.

Dalam bahasa Spanyol (yang diterjemahkan), Maduro tenang dan lugas menyatakan, "Saya Nicolás Maduro. Saya presiden Republik Venezuela, dan saya berada di sini diculik sejak 3 Januari. Saya ditangkap di rumah saya di Caracas, Venezuela."

Hakim Hellerstein yang berusia 92 tahun, itu segera menyela untuk memberi tahu Maduro bahwa akan ada 'waktu dan tempat untuk membahas semua ini.' Pada persidangan dramatis yang berlangsung selama 40 menit, itu Maduro dan istrinya, Cilia Flores, menyatakan tidak bersalah atas tuduhan narkoba dan senjata. "Saya tidak bersalah. Saya lelaki yang baik," kata Maduro. Sedangkan Flores yang nampak lebih tenang, menguatkan, bahwa dirinya 'sungguh tidak bersalah."

Serangan Bersenjata Ilegal

Flores tampil dengan ikatan rambut pirangnya yang rapi. Ada verban di dahinya, dekat mata yang luka sejak penangkapan. Pengacaranya meminta Flores diberikan perawatan medis yang layak, termasuk rontgen untuk kemungkinan memar tulang rusuk dan patah tulang.

Persidangan berlangsung tak lama. Selepas itu, Maduro dan istrinya dipindahkan ke penjara New York setelah mereka ditangkap oleh serdadu AS.  Ketika meninggalkan ruang sidang, Maduro berulang menyatakan dirinya tidak bersalah.

Dewan Keamanan PBB segera mengadakan sesi darurat untuk membahas situasi di Venezuela. Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, mengatakan negaranya telah menjadi sasaran "serangan bersenjata ilegal yang tidak memiliki dasar hukum".

Pernyataan itu ditepis Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, yang membenarkan serangan tersebut dengan menggambarkan Maduro sebagai "presiden yang disebut-sebut tidak sah." Waltz menambahkan, AS telah melakukan 'operasi penegakan hukum yang tepat sasaran' untuk menangkap Maduro, yang juga disebutnya sebagai "buronan".

Maduro telah dituduh melakukan konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat peledak, serta konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan alat peledak.

Perdana Menteri X Malaysia Anwar Ibrahim mendesak AS segera membebaskan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya.  Dalam pernyataannya di Kuala Lumpur, sebelum berangkat ke Turki, PMX Malaysia Anwar menilai penangkapan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan bentuk penggunaan kekuatan yang tidak sah terhadap negara berdaulat.

Anwar menegaskan, perubahan kepemimpinan tidak boleh dipaksakan melalui intervensi eksternal karena berpotensi menciptakan preseden berbahaya dalam tatanan global. Menurutnya, hak rakyat Venezuela untuk menentukan masa depan politiknya sendiri serta menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog, de-eskalasi, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara demi melindungi warga sipil.

Sangat Prihatin

Penggulingan Maduro oleh Trump penuh dengan risiko. AS agaknya menghendaki, banyak musuhnya disingkirkan dari kekuasaan. Biasanya AS tidak mengirimkan militer dan secara fisik menyingkirkan mereka. Namun, apa yang akan terjadi selanjutnya masih tidak jelas.

Serangan itu dilakukan, boleh jadi karena AS was was menyaksikan  kebangkitan mendadak Venezuela terjadi pada masa terkini.  Baik dalam konteks ekspor migasnya ke Rusia dan beberapa negara lain yang 'mengancam' perekonomian AS.

Indonesia mengeluarkan pernyataan yang disusun dengan hati-hati yang menyatakan “keprihatinan mendalam” atas penggunaan atau ancaman kekerasan. Juga menambahkan peringatan, bahwa tindakan tersebut berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional.

Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam bahasa yang sangat normatif mengemukakan, penghormatan terhadap kedaulatan, diplomasi, dan hukum humaniter internasional sangat penting, khususnya perlindungan warga sipil, menandakan kekuatiran atas seberapa cepat kekuatan militer dikerahkan dalam operasi penculikan Maduro.

Singapura juga menanggapi dengan bahasa sangat normatif, sangat prihatin atas intervensi AS ke Venezuela.  Sedangkan India, yang telah berupaya mempertahankan otonomi strategis di tengah tekanan yang bersaing, menyatakan “keprihatinan mendalam” tanpa secara langsung mengkritik Washington.

Para analis mencatat, sikap India terkait dengan keengganan New Delhi untuk memusuhi AS di tengah ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung – terutama dengan pembicaraan perdagangan yang mencapai tahap akhir – dan kehati-hatiannya yang lebih luas dalam konflik yang melibatkan mitra-mitranya. | jeanny, sharia.

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber (tvvenezuela, bbc, nbc, aljazeera
 
Budaya
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 512
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
15 Nov 25, 12:24 WIB | Dilihat : 708
Jakarta dalam Kopor Afrizal Malna
14 Okt 25, 20:21 WIB | Dilihat : 608
Masihkah Kita Sungguh Sebangsa Se-Tanah Air ?
Selanjutnya
Sporta