
KESEDERHANAAN yang memancar dari rangkaian pelantikan dan angkat sumpah resmi Zohran Kwame Mamdani sebagai Wali Kota New York - Amerika Serikat (Kamis, 1/1/26) di tangga Stasiun Sub Way City Hall, dan pelantikan yang melibatkan khalayak di beranda Balai Kota New York sarat makna.
Pada dua momen bersejarah itu untuk pertama kalinya, Al Qur'an menjadi sesuatu yang penting dalam peristiwa tersebut. Terutama karena Zohran Kwame Mamdani yang dilantik dan mengangkat sumpah sebagai Wali Kota muslim pertama yang dipilih warga sebagai pemimpin ibu kota keuangan dunia, itu. Selama ini New York dikenal sebagai salah satu kota di Amerika Serikat (AS) yang nyaris didominasi oleh pemeluk ajaran agama Yahudi, Katolik dan Kristen.
Zohran Mamdani (kelahiran Kampala - Uganda, 18/10/1991) meletakkan telapak tangannya di atas dua Al Qur'an dalam genggaman istrinya, Rama Duaji, seraya mengikuti ucapan Jaksa wilayah New York Letitia James yang melantiknya di tangga stasiun subway. Hal yang sama dilakukannya, ketika ia mengikuti ucapan Senator Independen AS dari Vermont, Bernie Sander yang melantiknya pada upacara di beranda Balai Kota. Al Qur'an itu, masing-masing merupakan koleksi Perpustakaan Sejarah Afro-Latin Arturo Schomburg dan milik kakeknya. (Artikel Terkait : Dengan Al Qur'an Koleksi Schomburg dan Kakeknya Mamdani Angkat Sumpah)
Mamdani adalah putera pasangan ilmuwan Mahmood Mamdani (guru besar Universitas Columbia) asal Uganda dengan Mira Nair - sineas / pembuat film asal India. Sebagaimana kaum imigran di Amerika Serikat (AS), Mahmood Mamdani pernah mengalami perlakuan diskriminatif dari pemerintah AS di bawah kuasa Donald Trump, yang tak diketahui semua orang, sampai Barack Obama - Presiden AS (2009-2017) membuka dan mengemukakan kepada khalayak (publik) secara terbuka.
Menurut Obama, Mahmood Mamdani bukan operator politik. Dia juga bukan pejuang partisan yang mencari musuh. "Tidak..., Mahmood Mandani adalah seorang cendekiawan, profesor di Universitas Columbia, salah satu lembaga akademik paling dihormati di dunia," ungkap Obama lewat saluran YouTube. "Dia telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari kolonialisme, mempelajari demokrasi, mempelajari bagaimana kekuasaan bekerja, dan bagaimana masyarakat berkembang atau runtuh di bawah beban kontradiksi mereka sendiri," jelas Obama.
Apa yang dilakukan Donald Trump kepada Mahmood Mamdani? "Dia melarangnya memasuki Amerika Serikat. Pikirkan itu sejenak. Seorang cendekiawan terkenal di dunia, yang telah memberikan kontribusi lebih banyak pada wacana intelektual daripada kebanyakan dari kita dalam kehidupan, dilarang menginjakkan kaki di negara ini. Ini Amerika. Kita berbicara tentang tanah kebebasan, tempat yang seharusnya menyambut pikiran-pikiran terbaik dan tercerdas dari seluruh dunia." ungkap Obama.
Menyimak apa yang dikemukakan Obama, banyak orang mengaitkannya dengan sikap Donald Trump terhadap Zohran Mamdani yang dalam kampanye mengecam tindakan zionis Israel atas Palestina. Dengan lantang, Zohran Mamdani menyatakan akan menangkap Perdana Menteri (zionis) Israel Netanjahu, bila berada di wilayah New York.
Kampanye Mamdani menarik perhatian nasional, termasuk Presiden AS Donald Trump, yang beberapa hari sebelum pemungutan suara mengancam: Jika Zohran Mamdani menang, presiden akan menahan dana federal untuk New York.Trump bahkan menuduhnya komunis. Belakangan Trump mengundang Zohran Mamdani ke Gedung Putih dan Zohran Mamdani menyampaikan sikapnya. Terkesan Trump 'menawarkan rekonsiliasi.

Ana Minkum wa Alaykum
Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Walikota New York memang sempat bikin ketar ketir banyak kalangan, tak hanya Andrew Cuomo - bekas Gubernur Negara Bagian New York, kandidat yang menjadi lawan tandingnya. Zohran Mamdani tegar dan tak goyah, ia memperoleh dukungan kaum imigran, pekerja, dan kaum miskin kota yang terpinggirkan -- termasuk kalangan mayoritas Yahudi New York.
Zohran Mamdani dari Partai Demokrat menganut ideologi Sosialis Demokrat. Ia konsisten dengan sikap dan pandangannya. Kepada para pendukung dan warga kota New York, ia kerap mengemukakan sesanti "Ana minkum wa alaykum." (Saya bagian dari Anda dan untuk Anda). Ia kerap mengatakan, "Sejak dulu, kaum pekerja New York selalu diberitahu oleh orang kaya dan berpengaruh, bahwa kekuasaan milik orang kaya dan oligark. Kini, masa depan di tangan kita. Administrasi penyelenggara kota bekerja untuk melayani semua orang."
Zohran Mamdani membuktikan omongannya. Pada hari pelantikan, dia dan istrinya datang ke Balaikota dengan taksi. Hari-hari kerja berikutnya dia ke kantor menggunakan transportasi publik.
Dia membuka kesempatan untuk mendengar dan menyimak aspirasi warga kota New York. "Masa depan ada di tangan kita," katanya, Pada upacara pelantikan yang dihadiri dan disaksikan ribuan warga, ia konsisten dengan pandangan, sikap, dan aksinya mengelola kota New York sesuai prinsip demokrasi yang harmonis.
Hal tersebut tercermin pada saat Imam Khaled Latif memimpin do'a yang didampingi oleh perwakilan dari berbagai komunitas agama di Kota New York, seperti Rabbi Ellen Lipman, Pastor Andrew Welps, Pendeta Steven Green, Penatua Jeffrey Sigler, Auria Arun Dosai, dan Sardep Tandep Core.
Latif lantas membaca basmalah dalam bahasa Arab. Lalu mengucapkan do'a. Begini bunyinya :
" Ya Allah, Yang Maha Pengasih di antara yang menunjukkan rahmat, kami menghadap kepada-Mu pada hari ini, dari kota kami dengan hati yang penuh harapan. Terima kasih atas momen ini. Terima kasih atas pribadi-pribadi luar biasa yang telah Engkau himpun di sini.
" Beragam warna kulit, bahasa, perjalanan hidup, dan nama, tetapi bersatu dalam tujuan. Dipersatukan oleh harapan bersama, semuanya mendambakan untuk membangun sesuatu yang bermakna, abadi, dan berakar pada cinta, martabat, rasa hormat, dan keadilan, bukan lagi untuk segelintir orang tetapi untuk semua.

Kepercayaan Bukan Abstrak
" Kami datang di hadapan-Mu dengan kesadaran bahwa momen seperti ini tidak datang dengan sendirinya. Momen ini diwujudkan melalui pengorbanan, pengorganisasian, keberanian, dan orang -orang yang menolak untuk menerima bahwa keadaan seperti dulu harus tetap seperti itu.
" Kami datang dengan mengetahui bahwa hari ini berdiri di atas pundak begitu banyak orang, yang menunggu giliran... untuk meredam tuntutan, untuk menurunkan harapan mereka, tetapi sebaliknya memilih untuk percaya bahwa New York yang lain mungkin terjadi.
" Kami menyadari bahwa kepercayaan itu bukanlah sesuatu yang abstrak. Hal itu dipraktikkan oleh para penyewa yang melawan penggusuran, oleh para pekerja yang menuntut upah yang adil, oleh para orang tua yang memperjuangkan masa depan anak-anak mereka, oleh komunitas yang terus hadir, bahkan ketika peluang mengatakan mereka seharusnya tidak hadir.
" Kami berkumpul hari ini dengan hati yang dibentuk oleh kota ini, oleh kebisingan di lingkungannya, oleh kereta bawah tanah dan tempat perlindungannya, oleh mimpi-mimpi yang diungkapkan dalam berbagai bahasa dan doa-doa yang dibisikkan di blok-blok yang ramai.
" Kami berterima kasih kepada Kota New York, atas tempat yang telah mengajarkan dunia bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan, bagaimana kelangsungan hidup dapat menjadi solidaritas, bagaimana orang asing dapat menjadi tetangga, dan atas keberadaan tempat yang mengajarkan kita, bahwa seorang Muslim sosialis demokrat, imigran muda dapat cukup berani untuk maju dan cukup berani untuk menang.
" Bukan dengan meninggalkan keyakinan, tetapi dengan berdiri teguh di dalamnya. Bukan dengan mengecilkan jati dirinya, tetapi dengan mempercayai bahwa otentisitas dapat menggerakkan kota menuju keadilan. Kami berterima kasih kepada-Mu atas keragaman yang indah di kota ini.
" Bagi masyarakat yang terbentuk di berbagai benua dan generasi, di berbagai ras dan agama, budaya dan kelas, ajari kami untuk tidak pernah melihat keragaman itu sebagai sesuatu yang harus dikelola atau ditakuti, tetapi sebagai amanah suci, warisan kolektif yang memperluas imajinasi moral kita, dan memperkuat masa depan kita bersama.
" Pada hari transisi dan tanggung jawab ini, kami memohon berkat-Mu untuk memberkati momen kepemimpinan ini, dan semua yang dipercayakan dengan beban pelayanan publik. Berikanlah kearifan kepada Walikota Zohran Mamdani dan ingatkan dia bahwa kepemimpinan bukanlah tentang kekuasaan tetapi tentang kedekatan.

Jabatan Hanya untuk Layani Rakyat
" Untuk orang-orang yang berjuang, untuk suara-suara yang terlalu sering diabaikan. Untuk kehidupan di balik statistik. Jaga agar dia tetap dekat dengan realitas kota ini.
" Untuk keluarga yang tinggal berdesakan di apartemen satu kamar karena sewa telah melampaui upah. Untuk petugas perawatan kesehatan rumahan yang setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam untuk merawat orang lain sambil berjuang untuk membiayai perawatan diri sendiri.
" Untuk siswa sekolah negeri yang menghadapi kelas yang penuh sesak. Untuk pemilik usaha kecil yang harus memilih antara menutup usahanya atau membebankan kenaikan biaya kepada tetangga yang sudah kekurangan. Berkatilah dia dengan keberanian untuk tetap membumi, kerendahan hati untuk terus belajar, dan kekuatan untuk memimpin dengan prinsip bahkan ketika tekanan untuk berkompromi sangat besar.
" Biarkan kepemimpinannya mencerminkan gerakan dan komunitas yang memungkinkan momen ini terjadi. Dan jangan pernah biarkan dia lupa bahwa jabatan ini ada untuk melayani rakyat, bukan untuk berada di atas mereka. Kami menjunjung tinggi semua orang yang bersatu untuk mewujudkan apa yang menurut banyak orang tidak mungkin terjadi.
" Para penyelenggara dan sukarelawan. Tetangga yang berbicara kepada tetangga. Kaum muda yang percaya bahwa suara mereka penting. Para sesepuh yang mengingat perjuangan masa lalu dan mengenali momen ini sebagai bagian dari perjalanan yang lebih panjang.
" Berkatilah mereka yang mengetuk pintu di tengah dinginnya cuaca. Yang berdiri di sudut jalan dengan papan catatan dan harapan, yang melakukan percakapan sulit yang berakar pada kasih sayang, dan yang memilih partisipasi daripada keputusasaan. Semoga semangat yang membawa momen ini ke depan tidak memudar setelah hari ini, tetapi semakin dalam dan selalu bertahan.
" Jadikan kota ini terjangkau bagi keluarga yang membangunnya dan para pekerja yang menopangnya. Jangan biarkan siapa pun harus memilih antara sewa dan martabat, antara obat-obatan dan makanan, antara bertahan hidup dan sekadar bertahan.
" Kami mengangkat tangan di hadapan-Mu untuk mereka yang hidup dari gaji ke gaji di bawah bayang-bayang kekayaan yang tak terbayangkan. Mereka yang bekerja di beberapa pekerjaan namun masih satu keadaan darurat lagi dari krisis. Mereka yang kerja kerasnya membuat kota tetap berjalan, tetapi kehidupan mereka semakin terpinggirkan.

Cermin Keadilan
" Semoga keadilan bukan sekadar slogan, tetapi sebuah struktur. Semoga kesetaraan bukan sekadar janji, tetapi sebuah praktik. Semoga kebijakan dibentuk oleh belas kasih dan anggaran yang mencerminkan nilai-nilai kita.
" Lindungi mereka yang paling rentan di antara kita. Anak-anak dan para lansia kita, para imigran dan pencari suaka kita, tetangga kita yang tunawisma, para pekerja kita, para seniman kita, para pengasuh kita, dan para siswa yang menjaga kota ini tetap hidup. Sembuhkan apa yang telah rusak karena kelalaian dan keserakahan. Lunakkan hati yang mengeras karena ketakutan.
" Gantikan sinisme dengan keberanian dan keputusasaan dengan harapan bersama. Biarkan harapan itu menjadi sesuatu yang kita praktikkan setiap hari, bukan sesuatu yang kita tolak. Biarkan harapan itu hidup dalam kebijakan kita, jalanan kita, sekolah kita, dan sistem kita.
" Ajari kami bahwa harapan bukanlah sesuatu yang pasif. Harapan dibangun melalui akuntabilitas, melalui kepedulian, dan melalui penolakan untuk saling meninggalkan. Ingatkan semua warga New York, mereka yang lahir di sini, dan mereka yang tiba kemarin, bahwa kota ini milik semua, dan bahwa pembebasan kita terikat bersama. Bantu kami untuk saling hadir, bukan hanya di saat krisis, tetapi dalam pekerjaan perawatan yang panjang dan sabar.
" Ajari kami bahwa kota yang kita doakan adalah kota yang juga harus kita bangun. Dan jadikan tata kelola kota ini dan kita semua yang menyebut tempat ini sebagai rumah kita sebagai sarana belas kasihan, kekuatan untuk keadilan, dan cerminan keadilan-Mu di dunia ini.
"Jadikanlah momen ini bukan akhir, melainkan awal. Jadikanlah apa yang dulunya dianggap mustahil menjadi standar yang kita gunakan untuk mengukur masa depan kita. Dan biarlah Kota New York terus menunjukkan kepada dunia apa yang mungkin terjadi ketika orang-orang saling percaya. Dan teruslah menunjukkan bahwa rasa hormat, martabat, dan kasih sayang bukan lagi untuk segelintir orang, tetapi untuk semua. Amin. Amin. Amin." | jeanny, delanova