
Rangkaian unjuk rasa yang berlangsung sejak Desember 2025, masih terus berlangsung. Di tengah situasi yang terus meningkat eskalasi dan dinamikanya, Amerika Serikat dan 'anak semangnya' Zionis Israel dan para begundal sekutunya berjelas-jelas menghasut para demonstran.
"Teruslah berunjuk rasa, bantuan sedang dalam perjalanan," ujar Presiden AS Donald Trump. Di balik hasutannya, Trump terkesan memberi 'assignment' kepada para pengunjuk rasa untuk “mengambil alih” lembaga-lembaga di negara tersebut. Trump juga menyatakan, ia telah membatalkan 'semua pertemuan' dengan pejabat Iran.
Trump mengunggah di akun media sosialnya, Truth Social, “Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!”
Ahad (10/1/26), dalam penerbangan di dalam pesawat Air Force One, kepada wartawan yang menyertainya, Trump mengemukakan, “Militer sedang mempertimbangkan. Kami sedang melihat beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan membuat keputusan.”
Pernyataan Trump itu terbabit dengan matlamatnya yang telah memperingatkan para pemimpin Iran untuk tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran. AS, katanya, sudah berulang kali mengatakan, AS sedang mempertimbangkan tindakan militer.
Ancaman dan provokasi itu ditanggapi ringan saja oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Menjawab pertanyaan Al Jazeera, Araghchi mengatakan, “Jika Washington ingin menguji opsi militer yang telah mereka uji sebelumnya, kami siap untuk itu.” Singkat kata, Araghchi menyatakan, Iran siap meladeni apapun opsi yang diberikan kepada negaranya : jalan diplomasi atau perang sekalipun.

Presiden Pezeshkian Dengarkan Aspirasi Rakyat
Dikabarkan oleh berbagai informasi melalui berbagai media, saluran, dan platform aksi demonstrasi itu telah terseret ke dalam aksi anarki, termasuk pembakaran kantor polisi. Dikabarkan juga, ratusan orang telah tewas selama aksi demonstrasi berlangsung. Termasuk seratus petugas keamanan. Informasi yang belum terverifikasi dari para demonstran korban yang jatuh dan tewas telah mencapai tiga digit bilangan.
Unjuk rasa yang semula dipicu oleh krisis ekonomi dan moneter akibat jatuhnya nilai mata uang, itu kemudian berubah menjadi aksi menuju revolusi untuk mengembalikan Iran menjadi negara demokrasi sekular. Lantas memantik kerusuhan. Reza Pahlevi putra mendiang Shah Iran yang digulingkan para mullah pimpinan Allahyarham Ayatullah Ruhullah Khomeiny (1979), sejak lama memelopori aksi demikian.
Ahad (11/1/26) Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah merespon tuntutan pengunjunk rasa ihwal ekonomi. Ia menjelaskan, pemerintah sedang belakukan berbagai upaya mengatasi masalah ekonomi tersebut. Ia juga menyatakan, pemerintah yang dipimpinnya, "siap mendengarkan rakyatnya."
Pezeshkian mengakui dan memahami kekuatiran rakyat. "Kita harus duduk bersama mereka, kita harus menyelesaikan kekuatiran rakyat, karena memang begitulah tugas pemerintah." Kendati demikian, ia menyatakan, pemerintahnya tidak akan membiarkan para smuggler protestor alias pengunjuk rasa imitasi, yang bergerak karena hasutan AS dan zionis Israel yang berusaha mengarahkan elemen-elemen kerusuhan.
"Tidak membiarkan kelompok perusuh dan menghancurkan seluruh masyarakat ada tugas yang lebih tinggi bagi pemerintah," serunya.
Protes nasional yang terus berlanjut yang telah melanda Iran sejak akhir Desember telah memecah opini global, dengan beberapa pemerintah menyuarakan kekhawatiran tentang apa yang mereka takuti sebagai kerusuhan yang dihasut oleh pihak asing, sementara yang lain menuduh para pemimpin Iran menanggapi protes tersebut dengan kekerasan.

Campur Tangan AS dan Zionis Israel
Beberapa tokoh senior Iran telah mengakui telah memilah para pengunjuk rasa antara yang murni dan pengunjuk rasa penyeludup. Pengunjuk rasa yang murni terpanggil melakukan aksi karena termotivasi oleh tekanan ekonomi dan kenaikan biaya hidup, akan halnya pengunjuk rasa penyeludup memprovokasi kerusuhan, yang berusaha 'menabur perpecahan,' seperti diungkapkan Araghchi. Iran tak menghendaki perang, tetapi siap untuk semua opsi, termasuk perang, yang tersirat dalam berbagai pernyataan Donald Trump.
Pun tersirat dalam pernyataan penjahat perang Perdana Menteri Zionis Israel, Benjamin Netanjahu, yang seperti induk semangnya (AS) menyatakan, telah memberikan dukungan kuat kepada para pengunjuk rasa. Penjahat perang, itu melontarkan pujian kepada para pengunjuk rasa, seolah para pejuang dengan kepahlawanan yang luar biasa. Serdadu zionis Israel menyatakan, aksi protes di Iran bersifat internal, tetapi serdadu zionis Israel telah dilengkapi untuk merespons dengan kekuatan jika diperlukan.
Peningkatan eskalasi unjuk rasa sudah terasa. Para pengunjuk rasa penyeludup alias perusuh sudah melakukan aksinya, dan pemerintah Iran tak membiarkannya. Campur tangan AS, zionis Israel dan para sekutunya sudah tampak dengan polah mereka. Termasuk aksi Reza Pahlevi yang hendak memanfaatkan situasi bagi kepentingannya. Termasuk kepentingan para diaspora Iran yang sedang menghidupkan kembali fantasi tentang Iran sebagai demokrasi sekuler.
Situasi mutakhir di Iran membuat sejumlah negara telik ketar ketir, terutama Qatar, yang selama ini aktif menjadi telangkai dan berusaha memediasi konflik Iran versus AS dan zionis Israel. Seperti kata Majed al-Ansari, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar dalam konferensi pers di Doha.
“Ketegangan (di Iran) saat ini akan menyebabkan eskalasi di kawasan ini, dan kami sedang berupaya untuk meredakan situasi,” ungkapnya. “Kami tahu, setiap eskalasi akan berakibat konsekuensi yang dahsyat di kawasan ini dan sekitarnya. Karena itu, kami ingin menghindarinya sebisa mungkin,” jelas al- Ansari lagi.
Al-Anshari menambahkan, diplomasi adalah cara paling efektif untuk menyelesaikan krisis regional, dan “kami dengan negara-negara tetangga dan mitra kami sedang berupaya memberikan pilihan jalan diplomasi."

Berbalik Menghadapi 'Smuggler Protestor'
Akan halnya pemerintah Inggris Raya melihat banyak kemungkinan yang dapat ditempuh, bukan hanya diplomasi dan perang. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, (Selasa, 13/1/26). Secara tersirat, Cooper memandang tekanan ekonomi. Karenanya, ada rencana, 'sanksi penuh dan lebih lanjut' terhadap Iran yang kemungkinan akan datang dari London. Pernyataan itu didukung Kemi Badenoch, pemimpin oposisi konservatif.
Hal senada mengemuka dari Uni Eropa. Kepala urusan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, (Senin, 12/1/26) mengatakan blok beranggotakan 27 negara itu sedang 'membahas pemberlakuan sanksi tambahan.' Kallas mengisyaratkan kesiapan UE untuk memberlakukan langkah-langkah lebih lanjut. Langkah UE tersebut, selain senada dengan Inggris Raya, juga seirama dengan Jerman dan Prancis.
Apa mungkin? Karena selama ini, Iran mengimbangi praktik politik 27 anggota UE yang sering tak senada antara ucapan dan aksi. Misalnya perihal pemerintah menangani aksi unjuk rasa. Mereka “mengutuk keras” Iran yang dianggap melakukan kekerasan kepada para demonstran. Sesuatu yang juga dilakukan mereka, terutama Jerman.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengemukakan, bahwa protes para pengunjuk rasa telah "berubah menjadi kekerasan dan berdarah," karena provokasi pengunjuk rasa penyeludup "untuk memberi alasan" bagi Donald Trump untuk melakukan intervensi militer ke Iran.
Kepada para diplomat asing di Teheran, (Senin, 12/2/26) Araghchi mengatakan, kekerasan meningkat selama akhir pekan tetapi "situasi sekarang berada di bawah kendali penuh."
Ia menyatakan, protes nasional yang dipicu oleh masalah ekonomi dan kos sara hidup (biaya hidup harian) berubah menjadi aksi anarki 'kerusuhan' terbatas di lingkungan Navvab dan Saadat Abad sudut kota Teheran; Junqan dan Hafshejan di provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, serta Taybad di Mashhad, yang dibubarkan pasukan keamanan pemerintah.
Sedangkan di berbagai kota dan wilayah lain Iran, relatif tenang tanpa kerusuhan. Unjuk rasa sangat besar melibatkan ribuan orang, memang terjadi di Teheran. Belakangan, para pengunjuk rasa murni, balik menghajar smuggler protestor yang melancarkan provokasi dan memancing kerusuhan. | jeahan