Catatan Atas Petaka Sumatera

Jangan Pernah Menentang Semesta

| dilihat 472

Haèdar Muhammad

Sebutlah berbagai kata yang menunjukkan situasi teruk (nestapa, duka, derita, lara, sansai, pilu, dan berbagai padanannya) kala petaka yang disebabkan kejahatan manusia atas semesta.

Lantas, abaikanlah fakta pembalakan hutan, deforestasi secara massif sebagai bagian dari keserakahan segelintir kaum beruang, penguasa sebagian terbesar lahan untuk kepentingan alih fungsi lahan.

Bicaralah dengan lantang, tak usah takut atau kuatir dengan deforestasi, meski sudah diperingatkan dalam rumpaka naratagan goyong, "gunung-gunung dibarubuh, tatangkalan dituasaran, cai ca'ah babanjiran." (gunung-gung dirobohkan -- via bad mining practices mana allin minería ruwaykuna; pembalakan hutan (deforestasi) seenak udel (dan tanggunglah) banjir besar - galodo datang menghantam - melumatkan apa dan siapa saja, di mana saja.

Hitung-hitunglah mayat rakyat dan kaum miskin papa tak berdosa yang menjadi korban. Hitung-hitunglah berapa besar kerugian yang dialami, dan berapa besar belanja negara untuk memulihkan seluruh kawasan yang menjadi episentrum petaka.

Sampai Rabu (3/12/25) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sudah 744 orang rakyat tewas petaka Sumatera -- yang meliputi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat -- itu. 551 jiwa lainnya, masih hilang.

Dengar-dengarkanlah petinggi yang mengurusi hutan, yang dengan jahil (pandir) dan kumpeu-nya menyatakan batang-batang pohon -- yang tak lagi berkulit kayu dengan ukuran potongan-potongan tertentu -- yang dihempas banjir bukan sebagai gelondongan kayu hasil pembalakan. Melainkan pohon tumbang alamiah, kala hujan turun lebat dan tak henti beberapa jam, lantas diseret banjir bandang, begitu saja.

Simak baik-baik video adegan petinggi silung, ketua umum partai politik, memanggul beras, dan bak dermawan berjanji menolong ibu tua dengan kepeng pribadinya. Video pencitraan diri yang mengelabui khalayak -- lantar sengaja dipublis melalui media sosial -- itu sesat menyesatkan. Apalagi, sang petinggi pada masanya selaku petinggi yang mengurusi hutan ringan tangan mengeluarkan izin penguasaan hutan.

Petaka Sumatra menghantam dan melumatkan kehidupan manusia. Salahkanlah Tuhan sebagai pelantak hutan, penghela banjir bandang yang senyatanya ditimbulkan oleh manusia yang menjelma rupa sebagai 'hantu' serakah yang tamak, upa (konyol), dan biadab! Kaum kapitalis yang kelak menghampiri lokasi petaka dan pengungsian para korban dengan mengibarkan bendera citra: kapitalisme hijau!

Saya terantuk seketika, saat 'menyaksikan video petaka,' itu melalui saluran youtube, cucu saya sedang menderas beberapa ayat dalam Al Qur'an. Ayat-ayat yang relevan dengan petaka di bumi. Ayat-ayat yang menjelaskan laku lajak, perbuatan buruk manusia yang mendatangkan petaka semesta, seperti banjir, tanah longsor, badai dahsyat yang mampu melantakkan makhluknya (manusia, hewan, hutan, kebun, dan lainnya).

Allah mengingatkan manusia tentang bencana dengan badai dahsyat yang melanda kaum Sheba (QS 34:16), banjir besar yang menggenangi dan memporak-porandakan kota-kota di masa kenabian Nuh alaihis-salam (QS 29:14), dan badai es yang menimpa kaum 'Ad (QS 69-6). Karenanya, jangan pernah menantang semesta.

Taubat Nasuha

Di berbagai surah lainnya, Allah memperingatkan manusia secara sengaja dan tidak sengaja -- melalui kewenangan yang dititipkan kepadanya melakukan salah kelola dan membiarkan alam, khasnya bumi hanya untuk memenuhi ketamakan keuntungan semata. Diamsalkan sebagai kaum yang 'memiliki' air dan tanah subur yang melimpah tetapi gagal mengelola sumber air dan mengolah tanah lantaran mereka enggan melakukan upaya yang diperlukan dan menyebabkan mereka bergantung pada orang lain, mereka kehilangan rahmat Allah.

Membiarkan deforestasi dan praktik penambangan buruk, mengabaikan ilmu pengetahuan dalam mengelola kekuasaan -- tanpa kecuali memberikan konsesi lahan -- yang tak memakmurkan rakyat - ummah, adalah pelanggaran atas peraturan dan ketentuan Allah, selaku pemilik tunggal semesta.

Dalam konteks demikian, siapa saja yang dititipkan kekuasaan oleh rakyat dalam takdir Ilahi, kemudian bertindak derhaka kepada-Nya, maka bagi mereka tak ada lagi rahmat Allah, kecuali mereka bertaubat. Salah satu bentuk pertobatan tersebut adalah melakukan secara nyata dan ikhlas merawat bumi laiknya mereka merawat ibu; menindak tegas siapa saja yang merusak alam (termasuk mencegah perang total). Termasuk mencegah dan menaklukan penyakit yang disebabkan oleh rusaknya ekologi.

Lantas menjamin tata kelola semesta, termasuk planet dengan memanfaatkan bandwidth secara efektif dan efisien, sekaligus menjalani gaya hidup lestari (berkelanjutan) dengan kebijakan tata kelola kekuasaan yang mempertimbangkan daya dukung ekologi dan menghidupkan ekosistem sosio budaya untuk kepentingan ekonomi yang mensejahrterakan rakyat - umat. Apalagi, lingkungan hidup yang sehat merupakan hak asasi manusia yang utama, dan memeliharanya merupakan kewajiban manusia.

Maka mulailah bersikap santun dan memelihara akhlak terhadap semesta. Secara budaya (khasnya dalam budaya Sunda) setiap manusia mesti mencegah kelakuan biadab: gunung-gunung dibarubuh (bad mining practices), tatangkalan dituaran (deforestasi), supaya terhindar dari murka alam : cai caah babanjiran (banjir bandang, tanah longsor), bhuwana marudah montah (bumi memuntahkan lahar).

Dalam keseluruhan konteks mengelola kekayaan sumber daya alam, 'kekayaan masalah' juga harus diatasi. Karena itulah, penting mengkaji tujuan hidup manusia sebagai rahmat bagi semesta, mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang terbebas dari petaka. |

Editor : delanova | Sumber : foto berbagai sumber +YTAlJazeera