
BADAI ekonomi sedang bergerak ke khatulistiwa dan sempat menghantam 'kapal besar Lancang Merah Putih' yang sedang berlayar malam, menuju lautan dalam.
Kapal sempat terguncang karena 'angin utara' berembus kencang dan tiba-tiba. 'Angin koncang dari Utara' itu membuat perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terperosok pada Rabu - Kamis (28-29/1/26), sehingga perdagangan sempat dihentikan selama 30 menit. 'Angin Koncang' itu 'menerbangkan' investasi asing hingga Rp11 triliun, ditarik para investor.
Jum'at (30/1/26) Direktur Utama BEI Iman Rachman, mundur. Tak berapa lama, dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berembus kabar hangat, Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) mundur. Mundur dari jabatannya pula, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) telah menyampaikan mundur dari jabatannya.
Mahendra Siregar, lewat rilis resmi OJK menyatakan, pengunduran dirinya bersama KE PMDK dan DKTK merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan. Rilis dari OJK menyebut, proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional.
Rontoknya ISHG (indeks harga saham gabungan) BEI, itu dikaitkan dengan MSCI (Morgan Stanley Capital International) - perusahaan riset penyedia indeks dan data pasar saham global yang menjadi rujukan pertimbangan investor melakukan investasi. Salah satu produk MSCI yang bermarkas di Amerika Serikat, itu adalah MSCI Indonesia Index, yang meliputi saham besar dan menengah di BEI yang mencerminkan mayoritas kapitalisasi pasar saham Indonesia.
MSCI Indonesia Index ini mampu memacu naik emiten atau sebaliknya, bisa bikin nasib emiten terjerembab dan rontok, Sampai Senin (2/2/26) Kompas memberitakan, 602 saham rontok beberapa menit usai pembukaan perdagangan. IHSG anjlok 4,37 persen atau 363,76 poin ke level 7.965,85. Lagi, BEI sempat menghentikan perdagangan.
Ketika perdagangan dibuka lagi, IHSG berada di level 8.306,16, sempat menyentuh 8.313,06 sebagai level tertinggi harian. Lantas tekanan jual kian dalam dan menyeret indeks ke titik terendah di 7.904,17. Data perdagangan di BEI menunjukkan, hanya 63 saham yang menguat, 48 saham stagnan, dan 602 saham meletoi.
Situasi demikian, bisa juga diamsalkan laksana gempa (lindu) yang mengguncang menyusul rangkaian gempa sebelumnya. Tak banyak yang mafhum, bagaimana kudu menghadapi lindu dan badai ekonomi yang dahsyat. Sejumlah petinggi negeri, khasnya di bidang ekonomi dengan berbagai mazhabnya menampakkan wajah murung, bahkan ada juga yang air wajahnya menyimpan bingung. Khalayak juga banyak yang bingung.

Gunem Catur Purbaya
Selasa - Rabu (3-4/2/26) Dewan Bisnis Indonesia (Indonesia Business Council) menggelar Indonesia Economic Summit (Konferensi Tingkat Tinggi Ekonomi Indonesia) di Jakarta. Membahas isu-isu kunci ekonomi, mulai dari pertumbuhan inklusif, model ekonomi nasional, kebijakan perdagangan, investasi industri, daya saing bisnis, transformasi digital, posisi ekonomi ASEAN, dan strategi untuk mengatasi tantangan risiko global
Isu aktual terkait rontoknya ISHG BEI pun dibahas. Mengemuka pada sesi gunemcatur Haslinda Amin - pewawancara beken Bloomberg TV dari Singapura dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
Percakapan ekonomi yang segar, mendalam, cendekia, dan tak kudu disaksikan dengan berkerut kening. Sesuai karakter Purbaya -- yang kebijakan dan aksinya -- selaku Menteri Keuangan -- sebagai problem shooter ekonomi -- oleh pemerhati sosioekonomi disebiut sebagai 'Kabayanomic.' (Haesy, 2025)
Purbaya laksana Kabayan (dalam folklore Sunda) : sosok cendekia 'kaya cara jauh alasan;' penuh percaya diri (sinatria pilih tanding), cendekia (pinter), profesional - kompeten (singer), berfikir - bersikap - dilandasi akal sehat (cageur), dan berbudi (bageur), dan menggunakan pemehaman dan wibawa untuk mencapai solusi terbaik (Pangaweruh jeung pangartina mudu mapadanan).
Bersikap dan bertindak efektif - efisien (pageuh keupeul lega awur), tidak melakukan sesuatu karena kepentingan tersembunyi (ulah nanon ku nanaon), berdaya mempertimbangkan prioritas secara bijak (jeujeur leles liat tali), bertegak di atas konstitusi / hukum, berorientasi kepentingan negara (nyang hulu ka hukum nganunjang ka nagara), konsisten berikhtiar menegakkan misi mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran (deugdeug kayu edag karaton nabi sulaeman).
Menggerakkan kebijakan ekonomi, khasnya fiskal paralel dengan kebijakan moneter bagi pertumbuhan dan penguatan daya ekonomi muli dari lingkung sosial terkecil: sekeluarga (sakasur, sadapur), sedusun - antar tetangga (sasumur), sedesa (salembur) sampai sebangsa senegara.
Pendekatan, kebijakan, dan aksi ekonomi Purbaya berorientasi rakyat - kerakyatan, dihidupkan oleh optimisme yang kuat, tak mudah terguncang oleh dinamika perubahan (nasional, regional, global), tak pula melakukan sesuatu yang mendatangkan bencana (ulah inggis ka linduan ulah geudag ka anginan).
Kebijakan dan aksinya dilandasi prinsip asasi yang dianut Kabayan : Sebagai penguasa, berani menegakkan kebenaran, faham membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta berkemampuan menjadi teladan atas mereka yang dipimpin. (Ari raja teh mudu bener. Nyaho dibener, nyaho disalah. Nyaho dihade, nyaho dihenteu pihadeun. Ulah eudeuk digaweun. Ari nyaho teu pihadeeun, te pihadeeun ka nu diurus. Ulah bener bae pieun nu ngurus. Ulah hade pieun nu ngurus wungkul). Kecerdasan, profesionalitas, dan integritas dirinya tersimpan di balik kejenakaan. (Haesy & Hidayat, Sangkakala Padjadjaran, 2004)
Semua itu tampak dalam performa Purbaya merespon pikiran dan pertanyaan Haslinda Amin. Bahkan pada momen-momen tertentu, kala Purbaya mengekspresikan kejenakaannya, membuat Haslinda -- yang biasa mewawancarai tokoh-tokoh global yang serius -- agak repot mengarahkan perbincangan.

Pemulihan Ekonomi Gaya Kabayan
Di awal, ketika ditanya ihwal ekonomi Indonesia, Purbaya dengan enteng tetapi meyakinkan menyatakan, "Ekonomi Indonesia akan secara otomatis bangkit kembali dengan sangat kuat.." Percaya diri, seolah Kabayan menghadapi Ambu, dia menegaskan secara jenaka, "Saya menteri yang baik, ekonom yang mumpuni dengan pengetahuan yang cukup untuk menguasai ekonomi global yang tidak stabil saat ini."
Haslinda bertanya ihwal apa yang salah dipahami investor sehingga salah membaca Indonesia, sehingga kuatir tentang tata kelola, transparansi, dan disiplin fiskal di negara ini. Purbaya menjawab dengan gaya Kabayan, rileks tanpa beban, "Dalam dua tahun terakhir mungkin mereka melihat ekonomi nasional terus melambat, dan Agustus tahun lalu melihat pertumbuhan ekonomi paling rendah terjadi, ketika semua orang turun ke jalan karena perut mereka mulai sakit, tidak ada pekerjaan dan segalanya."
Lantas dia menjelaskan, pemerintah kemudian menunjuk (melantik) dirinya sebagai menteri keuangan dan memintanya untuk mengubah arah ekonomi. Sekarang ekonomi bergerak ke arah yang benar, terus berakselerasi. Karena pengalaman masa lalu mereka menduga, pemulihan ekonomi Indonesia akan rapuh. "Tetapi setelah empat bulan apa yang terjadi di bidang ekonomi. Saya pikir jelas, pemulihan ekonomi kuat dan akan semakin kuat. Transparansi pasar telah mewujud," ungkap Purbaya.
Purbaya melanjutkan, "Saya pikir di setiap pasar di dunia ada semacam ketidaktransparanan sampai batas tertentu, tetapi di negara saya, ketidaktransparanan itu semakin parah, itulah sebabnya ada reaksi pasar, tetapi itu normal. Jika kita memperbaiki ketidaktransparanan tersebut, maka kita akan menghilangkan penyakit dari pasar, kita akan menerapkan transparansi di pasar, dan orang-orang akan melihat fundamental ekonomi yang kuat, karena kita sedang memperbaiki kondisi ekonomi."
Menjawab pertanyaan lanjut, Purbaya menegaskan, "Kita telah menyediakan likuiditas yang cukup dalam sistem, stabilitas fiskal kita, ekspansi fiskal kita, memberikan stimulus kepada ekonomi, tetapi tidak melebihi batas 3 persen dari PDB (pendapatan domestik bruto) misalnya."
Jadi, ungkap Purbaya, terlepas dari stimulus tersebut, kita tetap menjaga kehati-hatian fiskal. Dibandingkan dengan Jepang, AS, dan negara lain mana pun di dunia. Kita berada dalam posisi yang cukup baik. Jadi, jangan khawatir untuk berinvestasi di negara ini. Saya menteri yang cerdas.
Tentang 'ancaman' MSCI bahwa Indonesia berisiko mengalami penurunan peringkat, Purbaya senyum. "Seperti yang sudah saya katakan, kurangnya transparansi di pasar cukup besar. Saya bahkan sudah memberi tahu manajemen pasar saham beberapa bulan lalu untuk mengklarifikasi pasar dari praktik manipulasi harga saham ini, tetapi mereka tidak melakukan apa pun," tegasnya.
Jadi menurut Purbaya, peringatan MSCI adalah hal yang baik karena kita dapat membersihkan praktik pasar ke arah yang lebih baik. Ini salah satu cara Kabayan menghadapi badai ekonomi. Ulah inggis ka linduan, ulah geudag ka anginan. Tenang dan rileks saja. Tapi serius mengatasi masalah.. | Haedar Mohammad