
JELANG akhir Ramadan 1447 Hijriah, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) menggelar kegiatan iftar jama'i (buka puasa bersama) dengan 100 sanggar, konstituennya, Selasa (17/3/2026).
Acara digelar di kantor LKB, lantai IV Gedung Nyi Ageng Serang - Kuningan, Jakarta Selatan. Di ruang berornamen Betawi, itu para praktisi kesenian Betawi dan pengurus LKB duduk bersila di lantai, laiknya kaum Betawi menghelat acara keluarga.
Sekali sekala ada cletukan disambut tawa, ekspresi habitus sosial kaum Betawi kala berkumpul. Kejenakaan membuncah. Namun, serius kala menyimak ucap lampah para pembicara. Guyub dan gembira.
Ketua Umum LKB, H. Beky Mardani menyampaikan berbagai pandangan dan harapan, seraya mengingatkan, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi para pelaku seni Betawi dalam menyongsong peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027.
Para praktisi seni Betawi dari berbagai latar, khasnya seni pertunjukan (tari, teater, musik, palang pintu, silat tradisi, hikayat, dan lainnya) menyimak pandanganh Beky.
“Budaya Betawi harus menjadi cover atau etalase depan Jakarta," ujarnya. "Hal ini sejalan dengan komitmen Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang selalu menegaskan bahwa inti budaya Jakarta adalah budaya Betawi. Betawi harus menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri,” kata Beky.

Ekosistem Budaya
Beky menilai pemajuan budaya Betawi saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan sekaligus peluang. Sebagai kota yang berkembang menjadi pusat budaya dan ekonomi, Jakarta dinilai akan membuka ruang yang semakin luas bagi tampilnya karya-karya terbaik para seniman.
Dalam konteks itu, kata Beky, para pelaku seni juga dituntut untuk terus meningkatkan kualitas karya dan profesionalitas agar mampu bersaing dengan perkembangan zaman.
Menurut Beky, salah satu tantangan besar dalam pemajuan budaya Betawi adalah perubahan tata ruang Jakarta yang menyebabkan banyak kampung Betawi semakin terpinggirkan. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak pada keberlangsungan seni dan tradisi Betawi.
Beky menilai p[emajuan kebudayaan Betawi perlu dukungan regulasi serta ekosistem yang kuat. “Ekosistem ini penting agar mampu meningkatkan indeks pemajuan budaya Betawi, khususnya pada aspek ekspresi budaya dan ekonomi budaya,” ungkapnya.
LKB juga menyambut baik pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat Silaturahmi Akbar Majelis Kaum Betawi (MKB) yang menyampaikan bahwa muatan lokal Betawi akan diwajibkan di sekolah-sekolah di Jakarta.
Beky menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah strategis untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai budaya Betawi kepada generasi muda sejak dini.

Dinamika Perkembangan Zaman
Acara yang dipandu budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, itu juga mengingatkan para praktisi sastra Betawi dalam konteks pengembangan kreatif literasi Betawi, sebagaimana dikemukakan Firmansyah A. Wahid, mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga dan Kepala Dinas Perpustakaan & Kearsipan DKI Jakarta.
Firmansyah mewanti-wanti perihal upaya atau ikhtiar untuk terus memajukan dan mengembangkan kreativitas seni dan sastra Betawi sesuai dengan dinamika perkembangan zaman. Tanpa kecuali, perihal pengembangan kreativitas dan inovasi seni dan sastra Betawi.
Hal yang seirama dikemukakan oleh Sarnadi Adam, maestro pelukis Betawi yang juga dosen di Universitas Negeri Jakarta. Sarnadi mengemukakan pengalamannya mengembangkan kreativitas dan inovasi menghadirkan seni lukis Betawi dari Betawi untuk Jakarta, Indonesia, dan global.
Apa yang dikemukakan Firman dan Sarnadi terkait erat dengan pandangan Beky dalam konteks seniman dan sastrawan Betawi dalam merspon amanat undang undang No. 2 Tahun 2024, ihwal Jakarta sebagai Pusat Perekonomian Nasional dan Kota Global Berbudaya.
Akan halnya Bang Sèm (Syamsuddin Haèsy) mengemukakan konteks cara pandang tentang Betawi yang tak sebatas etnis, melainkan Betawi dalam keseluruhan konteks kebudayaan, antara lain meliputi : adat resam, tradisi, ritus dalam siklus kehidupan kaum Betawi, filosofi, arsitektur, tanpa kecuali produk budaya seperti fashion - food - face (matut dandan).
Sebagaimana gagasan dan latar berdirinya LKB melalui lokakarya kaum Betawi - dekade 70-an ketika Jakarta dipimpin Gubernur Haji Ali Sadikin, upaya memajukan budaya Betawi merupakan salah satu strategi penting pembangunan jangka panjang Jakarta.

Betawi Corner
Dalam konteks pemajuan kebudayaan Betawi, Bang Sèm memandang penting LKB menguatkan kerjasama dengan Pemerintah DKI Jakarta, via Dinas Kebudayaan dan dinas terkait, menyelenggarakan Betawi Corner yang menyediakan informasi dan karya budaya Betawi di setiap kantor Pemerintah Provinsi Jakarta, Community Center, dan Hotel di Jakarta.
Dalam percakapan di tengah acara iftar jama'i tersebut juga mengemuka ihwal pentingnya muatan lokal dalam kurikulum pendidikan di Jakarta.
Karenanya, seluruh komponen masyarakat Betawi secara bersama-sama mesti menyiapkan berbagai rancang praktis implementasi kebudayaan Betawi, yang juga penting dalam konteks perwujudan komitmen penguatan identitas Betawi di Jakarta.
Hal ini, kelak dapat menjadi legacy penting bagi Gubernur Pramono Anung dan para tokoh Betawi dalam memperkuat posisi budaya Betawi di kota ini.
Acara iftar jama'i tersebut juga dihadiri sejumlah pengurus LKB, antara lain: H. Mas'ud, Imbong Hasbullah, H. Hendi, Yoyo Muchtar, Igoees, Yusron Sjarief, Harsa, Sayadi, dan Mola Manaf.
Nampak pula artis sinetron Zeezee Shahab; penggiat sastra (Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta) Mpok Iyah; artis lenong Linda Nirin, Burhan Engkar (putra almarhum Mak Noory), para jurnalis yang terhimpun dalam Forum Jurnalis Betawi (FJB), serta para seniman - seniwati, sastrawan, dan penggiat manajemen kesenian Betawi dari berbagai bidang, termasuk pelaku industri kreatif. | javier