Trump Tak Bisa Pengaruhi Xi Jin Ping Ihwal Iran

| dilihat 110

Nota Bang Sèm

beli emping di pasar genjing
emping takeran ukuran kecil
Trump - Xi Jin Ping jumpa di Bejing
bincangkan Iran tiada hasil

PRINSIP diplomasi klasik, "menghormati tamu tanpa harus merendahkan diri" berlaku dalam kunjungan Presidem Amerika Donald Trump ke China, di Bejing, Kamis - Jum'at (14-15/5/26).

'Kepongahan Trump' selama ini bersambut komunikasi hemat kata. Xi Jin Ping fokus pada substansi kunjungan. Namun, sebagai tuan rumah Xi tetap memperlakukan Trump sebagaimana tradisi Tiongkok menerima tamu.

Memang sudah bisa diduga sebelumnya. Trump yang datang dengan 'Delegasi Diplomasi' jumbo-- terdiri dari sejumlah menteri kabinetnya, serta para oligark dan pengusaha 'besar' Amerika Serikat (AS) -- Elon Musk dan kawan-kawan -- tak bisa mempengaruhi Xi Jin Ping ihwal Iran.

Presiden Xi Jin Ping dengan sikap, mimik dan gesturnya termasuk senyum yang terbatas dan terukur, seperti diakui Trump fokus pada tiga isu yang sudah disiapkan. Yakni, perihal Iran yang 'dipaksa' perang oleh AS dan Zionis Israel; perihal Taiwan yang dianggap sebagai bagian dari Republik Rakyat China (RRC) dalam prinsip 'Satu China,' dan isau perdagangan.

Xi memang menggelar karpet merah secara harfiah dengan aneka hiasan yang menghangatkan suasana komunikasi kedua pemimpin. Karenanya, Trump seperti biasa, mengklaim pertemuan keduanya seolah momen teramat penting dalam sejarah.

Dari berbagai pemberitaan AS dan Barat disiarluaskan asumsi Trump atas pertemuan itu sebagai momen penghormatan yang luar biasa. Bahkan media mempublikasi asumsinya sendiri.

Kedua pemimpin, diberitakan media AS dan Barat, duduk bersebelahan di kursi berlengan. Agak akrab.. inilah gambaran yang sangat mencolok dari keduanya, sedangkan para anggota delegasi dudik berjarak, jauh, di meja besar Balairung Rakyat yang megah, tempat dialog berlangsung.

Jauh Sesumbar dari Realita

Isu ihwal Iran memengaruhi percakapan. Sebelum pembicaraan, memang mengemuka harapan tinggi bahwa Trump dapat mendorong (baca meminta bantuan) rekan sejawatnya dari Tiongkok, itu. Tapi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbincang dengan wartawan, dan buru-buru 'meredupkan' hal itu.

Trump dan para petinggi yang memungkinkan diajak bicara isu ini memang China, yang merupakan mitra diplomatik dekat Iran, sekaligus pembeli minyak Iran terbesar. Apalagi, sejak AD dan Zionis Israel menyerang Iran secara tidak sah, China merupakan pendukung perdamaian.

Tak tanggung-tanggung, isu Iran dibincangkan lebih dari 120 menit. Waktu terlama katimbang pembahasan ihwal Taiwan dan perdagangan. Tapi, pembicaraan terseburt boleh dikata tiada hasil. lagi-lagi mengklaim, seakan-akan percakapan di hari Kamis, itu sungguh bermakna.

Trump sesumbar, Presiden Xi menawarkan bantuan menyelesaikan konflik dan berjanji tidak memberikan peralatan militer kepada Iran. Uhu ! "Jemur ketumbar di atas bata, jauh sesumbar dari realita." Kontradiktif antara cerita dengan fakta.

Sampai pergi meninggalkan Bejing (Jum'at petang), kunjungan Trump yang kedua kali (setelah 2017) menjumpai Xi Jin Ping Xi -- nan heboh, itu -- tak menghasilkan perubahan signifikan.

Tapi, laku lajak AS memang tiada dua. Gedung Putih - Washington DC menebar rilis.  Isinya, menyatakan antara lain, Trump dan Xi Jin Ping sepakat, Selat Hormuz harus tetap terbuka dan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Rilis sepihak, itu juga mengabarkan, penentangan China terhadap militerisasi Selat dan setiap aksi mengenakan biaya atas penggunaan Selat Hormuz yang dikenakan Iran. Ini, kata rilis, itu yang bikin pengusaha kedèkèran (melonjak).

Rilis itu tak mengungkap, sesuai bèwara - maklumat - pengumuman Iran, Selat Hormuz senantiasa terbuka, kecuali bagi kapal-kapal dari negara-negara sekutu AS - Zionis Israel. Termasuk negara-negara teluk yang memberikan dukungan seraya menyediakan sarana - prasarana bagi pangkalan militer di wilayahnya.

Tak Guna Melanjutkan Perang dengan Iran

Kapal-kapal dari berbagai negara yang tak menyokong AS-Israel bebas-bebas saja, tanpa kudu bayar tol ke Iran untuk melintasi selat itu. Termasuk China, Rusia, dan lain-lain. Bahkan, Iran memutuskan transaksi dengan Iran di Selat Hormus menggunakan mata uang China, Yuan.

Tapi, lantaran AS memblokade samudera di luar Selat Hormuz, minyak asal Iran yang dibeli China tak dikirim via laut, melainkan via darat, menggunakan kereta api. Namun, lagi-lagi, untuk memulihkan kepercayaan dari rakyatnya -- karena di ujung tahun bakal berlangsung pemilihan sela senator dan anggora palmn AS --, rilis Gedung Putih mengeksplorasi informasi, seolah-olah China mengisyaratkan bakal membeli lebih banyak minyak dari AS.

Boleh jadi Trump - Xi Jin Ping memang membincangkan kemungkinan kesepakatan energi AS-China secara bilateral. Mungkin juga kesepakatan itu sedang dalam proses, yang memungkinkan Beijing – yang selama ini mengimpor sejumlah besar minyak Iran – untuk membeli lebih banyak pasokan AS.

Para manager komunikasi politik Gedung Putih sengaja menutup informasi pembicaraan Menteri Luar Negeri RRC Wang Yi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arraghchi belakangan hari, sebelum Trump dan rombongan diplomasinya tiba di Bejing.

Selepas kunjungan yang disebut sebagai 'konferensi tingkat tinggi AS - China,' itu Menlu Wang Yi malah menyerukan AS dan Iran menyelesaikan perselisihan mereka, termasuk masalah nuklir, melalui negosiasi dan dialog. Pasalnya, karena lelakon (kelakuan) Trump dan AS yang konsisten dan pandai bermuslihat, Iran tak lagi percaya pada Trump dan para menterinya.

Alhasil, isu ihwal Iran memberatkan perbincangan Trump dengan Xi Jin Ping, yang 'menghemat kata-kata' dan nampak konsisten menjaga hubungan baiknya dengan Iran.

Araghchi menangkap cerdas dan cermat situasi dialog Trump - Xi Jin Ping. Menlu Iran itu memperingatkan AS tentang bakal meningkatnya biaya ekonomi akibat 'pilihan perang' Trump. AS bakal menghadapi kesulitan ekonomi karena utang dan suku bunga hipotek yang meningkat. AS bakal menghadapi konsekuensi ekonomi yang semakin besar dari "pilihan perang"-nya terhadap Iran.

Pertemuan Trump - Xi Jin Ping tak berpengaruh pada Iran, bahkan ketika sekutu AS, seperti Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Iran berunding dengan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Yang jelas, dalam KTT AS - China, mengemuka pandangan China: "Tak ada gunanya melanjutkan perang dengan Iran." |

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber / foto: screenshot SCMP
 
Humaniora
11 Mei 26, 09:34 WIB | Dilihat : 337
Sandal dan Kain Ihram Gratis
30 Apr 26, 15:18 WIB | Dilihat : 291
Layanan Fast Track Memudahkan Jamaah Haji 2026
25 Apr 26, 18:31 WIB | Dilihat : 277
Dahilang
Selanjutnya
Sainstek