
Bang Sèm
Kala fajar (1 Januari 2026) merambat terbit, memancarkan cahaya, tak ada hal yang lebih utama dari mewujudkan rasa syukur yang menghunjam ke pangkal kesadaran insaniah untuk senantiasa tunduk, patuh, dan menyerah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah memberi kesempatan mengawali hidup di tahun 2026 dengan segala tantangan dan peluang yang menyertainya. Sekaligus memelihara kesadaran yang mesti dikelola secara antusias, guna terus merawat simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta berdimensi kemanusiaan dan kebenaran berkeadilan.
Rasionalitas berpangkal akal budi dalam melayari realitas hidup dan kehidupan mesti terus dirawat agar tak melulu dihampiri dengan intuitive reason. Apalagi, bila lebih banyak menyeret diri ke dalam jebakan fantasi bergelimang kilah yang lebih karib dengan pembenaran, katimbang kebenaran.
Laksana seorang pendaki yang sedang menuruni tebing terjal jalan pulang, merambah belukar risiko, menembus kabut tebal misteri, berpedoman pada sebersih-bersih tauhid dan ilmu pengetahuan, agar kiat dan siasat yang dipilih pun terpelihara baik. Khasnya dalam berlomba-lomba mendulang kebajikan.
Ilmu pengetahuan yang selalu cenderung merupakan daya di luar diri (ekstrinsik) boleh digunakan untuk menemukan kiat dan siasat, masuk ke dalam empirisma, sebagai alat menemukan solusi atas berbagai persoalan yang sedang dan akan dihadapi. Berikan ruang baginya di dalam diri, sehingga dapat bersanding dan berpadan dengan iman, daya di dalam diri (intrinsik) yang mewujud dalam semangat, gairah, bahkan ghirah. Pertemuan keduanya memberikan nilai khas yang menjelma sebagai sebagai norma.
Nilai khas ilmu pengetahuan dan iman yang berintegrasi, sering saya yakini merupakan cahaya dalam remang dan gelap, suluh penting ketika harus memilih dan memilah, pada saat bagaimana intuitive reason diberi peran guna menguatkan cara hidup (the way of life) kala harus menyeruak belantara fenomena yang seringkali tak pasti, gamang, ribet, ampang, dan mendua.
Adalah fakta empiris ketika melangkah, berjalan turun di lereng tebing kehidupan menuju ke titik nol, kita dihadapkan oleh kesadaran untuk mengejawantahkan ilmu pengetahuan dan iman, bukan sebagai sesuatu yang terpisah. Melainkan perangkat (instrumen dan atau tools) yang terintegrasi, sehingga penting dalam mengenali segala kekurangan dan kelemahan diri untuk menemukan daya (kekuatan) di dalam diri -- harmonisasi nalar, naluri, nurani, dan rasa -- yang diperlukan dalam melangkah di 'jalan setapak' menuju gapura di gerbang husnul khatimah, yang juga misteri.

Prinsip-prinsip Moral
Setiap kali berada di persinggahan masa, titik temu akhir dengan awal, termasuk pergantian masa -- Masehi ataupun Hijriah -- seringkali kita dihadapkan dengan cermin besar muhasabah untuk menemukan neraca hidup yang menguji, seberapa besar perbandingan takaran kebaikan dan keburukan, kejujuran dan dusta, keadilan dan kezaliman, yang terlakoni dalam suatu masa.
Upaya-upaya perbaikan diri kerap dicatatkan pada helai demi helai resolusi diri. Sebagian kalangan konsisten dengan apa yang dicatatnya dalam resolusi, sebagian kalangan lainnya melakoni secara persisten, bahkan ramai kalangan yang melupakan atau mengabaikannya begitu saja. Tak hanya oleh mereka yang diuji dengan kekuasaan, kegemilangan dan kegemerlapan, dan keberlimpahan yang meruah. Pun, tak hanya oleh mereka yang diuji dengan ketiadaan daya, kesengsaraan hidup nan sansai, dekapan derita dan nestapa, kefakiran dan kemiskinan.
Pada situasi dan kondisi demikian manusia dihadapkan pada pilihan hidup nista, madya, dan utama. Pilihan di tengah dinamika kehidupan sosial umat manusia dengan beragam watak yang tampak jelas: tamak, serakah, bakhil, dzalim, koruptif, curang, culas, derhaka, dan degil di satu sisi. Sedangkan di sisi lain menampakkan watak arif, bijaksana, dermawan - murah hati, tawaddu,' saleh - salehah, jujur, dan segala kebaikan lainnya. Baik sebagai watak asli dan atau watak imitasi. Semuanya hadir dan menampakkan dirinya dengan cara dan format masing-masing. Boleh jadi, hal semacam ini yang memantik para wali atau orang-orang tua dulu memberi isyarat penting tentang adab berperilaku. Termasuk memberi takaran atau parameter perilaku.
Etika berperilaku dalam kehidupan sehari-hari dirumuskan oleh para leluhur, termasuk para wali. Misalnya, Malima, lima prinsip moral yang tak boleh dilakukan, yakni: Mabuk (melakukan sesuatu yang dilarang secara berlebihan dan menghilangkan kesadaran diri, termasuk mabuk kuasa); Main (melakoni kehidupan laksana berjudi, termasuk mempertaruhkan nasib dalam ketidakpastian); Maling dan atau merompak (mengambil sesuatu yang bukan hak, antara lain korupsi); Madon melacurkan diri -- secara konotatif dan denotatif -- untuk mendapatkan kepuasan sesat sesaat, tanpa kecuali yang terhubung dengan kekuasaan; dan, Mateni alias membunuh, termasuk membunuh karakter orang lain.
Lima pamali dalam budaya Jawa itu, kian kuat nilainya, kala sesanding dengan lima prinsip moral budaya Bugis, yakni: Lempu - kejujuran; Acca - kearifan; Getteng - keteguhan; Resso - kerja tangkas; Siri' - harga diri. Lima prinsip tersebut menguatkan nilai Pesse - solidaritas; Sipakainge - mengingatkan; Sipakalebbi- saling memuliakan. Setarikan nafas, lima prinsip moral tersebut relevan dengan prinsip moral Aceh: Rendah hati - Tawaddu (Meah desya lon awai ngon ache, Mangat gleh hate.. - Maafkan dosaku awal dan akhir, agar bersih hati.. ); Jujur - Tak melebih-lebihkan tak pula mengurangi sesuatu (Yang na bek ta phe tan, Yang tan bek ta phe na - Yang ada jangan kamu tiadakan, Yang tiada jangan kamu adakan); Kerja tangkas - (Meunyoe hana ta usaha, Penee atra rhet dimanyang - Bila tak ada ikhtiar, Mana ada harta jatuh dari langit ); ; Kendali diri - (Ka sakét bah di dalam, Bèk hiram bak ie muka - Sakit biarlah di dalam, jangan terekspresikan pada air wajah ); Tolong menolong (Sabe syedara menghalang tulong, Na ta tampong hana ta ilah : Sesama saudara saling tolong menolong, bila ada kita beri, bila tiada kita ikhtiar).
Iman, Ilmu dan cara hidup yang bersih - tak terkontaminasi oleh niat jahat laksana obor penerang jalan ketika menembus rimba saat mendaki dan saat meniti jalan turun. Trilogi ini pula yang relevan kini, kala kita harus melangkah menyeruak beragam tantangan dan rintangan menuju masa depan yang masih merupakan misteri. | (Bait Al Hikmah: 1.1.26)