Pelantikan Walikota New York City

Dengan Al Quran Koleksi Schomburg dan Kakeknya Mamdani Angkat Sumpah

| dilihat 387

Zohran Mamdani sudah memasuki hari keempat tugas dan tanggung jawabnya sebagai Walikota NEW York City (NYC). Mamdani didampingi Rama Duaji, istrinya yang memegang Al Qur'an -- koleksi Perpustakaan Schomburg dan koleksi kakeknya, angkat sumpah secara resmi lepas tengah malam di peron stasiun bawah tanah dan di beranda - pelataran Balai Kota kota New York, Kamis (1 Januari 2026).

Upacara pelantikan untuk publik berlangsung di beranda gedung awal abad 19 (1803-1811) yang terindah di Amerika Serikat (AS) rancangan arsitek Joseph Francois Mangin dan John McComb, Jr., itu dipenuhi para pendukung dan bukan pendukung Mamdani. Mereka datang dari berbagai penjuru, melawan 'tekanan suhu dingin,' termasuk dari Town Square NYC pusat perayaan pergantian tahun.

Zaman berganti berulang kali mengikuti perubahan sejak abad ke 17 kala Belanda membangun balai kota di bekas kedai di Jalan Pearl. Balai Kota sebagai sentra administratur dan layanan khalayak lantas dibangun pada di Jalan Wall dan Nassau. Namanya sempat berubah menjadi Federal Hall, kala New York menjadi ibu kota pertama AS. Ketika ibu kota AS pindah ke Washington DC, dan NYC terus berkembang 'ibukota keuangan dunia,' balai kota itu berubah lagi menjadi City Hall hingga kini.

Yojana (visi) Mamdani ihwal perubahan sejarah baru bagi NYC, seolah terkoneksi dengan riwayat bangunan yang menjadi latar historis, artistika, estetika, dan etika pelantikan di hadapan khalayak. Bangunan balai kota itu, menyimpan kombinasi gerakan sejarah terkenal Renaisans Prancis dan Georgia Amerika. Tak hanya karena Zohran kerap lantang menyatakan identitas dirinya sebagai muslim dan sosialis demokrat.

Nilai Historis Stasiun Bawah Tanah

Adalah Jaksa NY, Letitia James yang secara resmi melantik dan mengambil sumpah Mamdani sebagai Walikota NYC di hadapan kalangan terbatas. Mamdani mengangkat sumpah dengan Al Qur'an yang dipegang isterinya, Rama Duaji, disaksikan kalangan terbatas, termasuk ibu dan ayahnya: Sineas Mira Nair dan guru besar Universitas Columbia Mahmood Mamdani. Al Qur'an tersebut merupakan koleksi Perpustakaan Umum NYC -- yang semula merupakan bagian dari perpustakaan pribadi sejarawan Afro-Latin Arturo Schomburg. Selain, itu Mamdani juga menggunakan Al-Quran milik kakeknya dalam upacara pelantikan tengah malam di peron stasiun kereta bawah tanah Balai Kota lama di bawah Taman Balai Kota di Manhattan – sebuah keajaiban arsitektur di mana langit-langit lengkung berubin, jendela atap kaca berwarna, dan lampu gantung kuningan telah terbengkalai sejak stasiun tersebut ditutup pada tahun 1945.

Nilai historis, momenta dan lokasi pelantikan yang merupakan salah satu dari 28 stasiun kereta bawah tanah asli New York yang dibuka pada tahun 1904, mengantarkan era baru inovasi dan pertumbuhan di Kota New York. Nilai lain yang juga sangat bermakna historis di masa depan adalah Jaksa Negara Bagian New York, Letitia James, yang bagi Mamdani sebagai "inspirasi politik." Mamdani mengemukakan pentingnya lokasi tersebut, sebagai "bukti pentingnya transportasi umum bagi vitalitas, kesehatan, dan warisan kota kita."

Nilai kesejarahan Al Qur'an koleksi Schomburg pun sangat tinggi dan menjadi titik penting sejarah baru NYC. Selain karena bertepatan dengan perayaan seratus tahun perpustakaan sejarah Schomburg, juga menandai momen penting dalam sejarah NYC. "Kami sangat merasa terhormat bahwa Walikota Mamdani telah memilih untuk mengucapkan sumpah jabatan menggunakan salah satu Al-Qur'an milik Perpustakaan kita,” kata Anthony W. Marx, Presiden dan CEO Perpustakaan Umum New York. Dikatakannya, “Al-Qur'an khusus ini, yang dilestarikan oleh Arturo Schomburg untuk pengetahuan dan kebahagiaan semua warga New York, melambangkan kisah yang lebih besar tentang inklusi, representasi, dan kesadaran sipil.. sangat simbolis, karena hubungannya dengan salah satu cendekiawan paling inovatif di NYC, maupun karena kualitasnya yang sederhana dan fungsional.

Al Qur'an tersebut, jelas Marx lagi, dari tulisan naskh yang sangat kecil dan jilidnya yang menampilkan medali berstempel emas berisi komposisi ornamen bunga, menandai masa produksi dan penerbitannya di Suriah Utsmaniyah pada abad ke-19. Karenanya, setelah upacara pelantikan tengah malam, Al-Quran tersebut akan dipamerkan kepada publik mulai 6 Januari di Rotunda McGraw di Gedung Stephen A. Schwarzman di Jalan ke-42.

Signifikansi Al Qur'an

Intuisi dan pilihan Mamdani memilih Al Qur'an tersebut, menurut Joy Bivins, Direktur Pusat Schomburg, membuat “Pusat Schomburg merasa terhormat memiliki sebuah objek dari koleksinya yang disertakan dalam momen bersejarah bagi Kota New York ini.” Sedangkan Hiba Abid, Kurator Studi Timur Tengah dan Islam menyatakan,  “Signifikansi Al-Qur'an ini jauh melampaui keindahan halamannya. Al-Qur'an ini dekat dengan masyarakat... Kepentingannya terletak bukan pada kemewahan, melainkan pada aksesibilitasnya. "Kami berharap hal ini menginspirasi lebih banyak warga NYC untuk menjelajahi kekayaan dan keragaman koleksi Timur Tengah dan Islam kami,” lanjut Hiba. Pilihan tersebut bagi Mamdani dan ratusan ribu Muslim lainnya sarat makna, yang menandai NYC sebagai rumah mereka.

Lebih jauh dari itu Mamdani yang lantang menyebut Islam dan Sosialis Demokrat sebagai identitas diri dan gairahnya melakukan pembelaan terhadap kaum pekerja, menurut Senator Independen AS dari Vermont, Bernie Sanders dalam pidatonya sebelum melantik dan mengangkat sumpah jabatan, merupakan pelajaran sangat penting. “Anda telah menunjukkan kepada dunia, pelajaran terpenting yang dapat dipelajari hari ini," kata Sanders kepada Mamdani dalam pidato sebelum pelantikan, di hadapan puluhan ribu orang yang berkumpul di luar Balai Kota NYC.

Yang tak kalah pentingnya bagi Sanders maupun Mamdani adalah keduanya -- sebagai sosialis Demokrat -- berada di garis depan politik progresif nasional. Mamdani menyebut Sanders sebagai "tokoh politik paling berpengaruh dalam hidup saya," sehingga mengalahkan mantan Gubernur New York Andrew Cuomo, yang mencalonkan diri sebagai independen setelah Mamdani mengalahkannya dan sejumlah lawan lainnya dalam kemenangan mengejutkan di pemilihan pendahuluan Demokrat musim panas.

Anggota DPR AS dari Partai Demokrat New York, Alexandria Ocasio-Cortez, seorang pemimpin progresif lainnya, juga berbicara pada acara tersebut. Cortez mengemukakan, Mamdani telah mengusulkan untuk mengenakan pajak kepada orang kaya, sesuatu yang hanya dapat dilakukannya dengan dukungan dari badan legislatif negara bagian dan gubernur. Meskipun Mamdani menjabat pada saat ekonomi kota secara umum sedang kuat, tingginya biaya hidup mencekik warga New York kelas pekerja.

Selain itu, awal pemerintahan Mamdani juga dimulai ketika Partai Demokrat nasional sedang bergulat dan berjuang untuk membangkitkan basis pendukung yang kurang solid. Kemenangan Mamdani telah memicu perdebatan tentang ke mana partai tersebut harus bergerak lebih jauh.. Pelantikan Mamdani sebagai Walikota NYC diawali pembacaan do'a oleh Imam Khaled Latif, didampingi Rabbi Ellen Lipman, Pastor Andrew Welps, Pendeta Steven Green, Penatua Jeffrey Sigler, Auria Arun Dosai, dan Sardep Tandep Core. Javar Munoz menyanyikan lagu kebangsaan AS. Pada pelantikan untuk publik, ini juga dilantik pengawas keuangan NYC Mark D. Lavine dan Advokat Publik Jumani D. Williams, pidato anggota parlemen Alexandria Okassio Cortez, pembacaan puisi oleh Profesor Cornelius Ed yang baru saja pensiun dari Universitas Tennessee, Knoxville. Juga sajian paduan suara belia PS22 dari Staten Island, sajian lagu dari penyanyi rock indie, Lucy Dacus.    | jeanny, delanova

Editor : delanova | Sumber : NYC Mayor Office, PBSNews, berbagai sumber