Digagas Bung Karno dengan Semangat Sains

Gubernur Pramono Anung Aktifkan Planetarium Jakarta

| dilihat 398

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengaktifkan kembali Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ). Pengaktifan kembali tersebut direncanakan pada Selasa (23/12/25) di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki - Cikini, Jakarta.

POJ digagas oleh Presiden Soekarno sebagai salah seorang pemimpin dunia yang memandang penting keberadaan planetarium dan observatorium. Pada paruh pertama dekade 1960-an, ia memprakarsai pembangunan POJ.

Gagasan tersebut terkait dengan upaya Presiden Soekarno melakukan suatu proses transformasi sosio budaya dengan memperkenalkan astronomi sebagai bagian dari semangat pembangunan berbasis sains dan teknologi.

Dalam bahasa sederhana dapat dikemukakan, pembangunan POJ (1964-1968) -- yang dibiayai Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), itu -- terkait erat dengan upaya mengkaribkan rakyat dengan astronomi -- pengetahuan tentang benda-benda langit yang menyimpan banyak rahasia semesta. Sekaligus sebagai cara memerdekakan rakyat dari takhayul yang memengaruhi cara dan kebiasaan hidup rakyat sehari-hari.

Pembangunan POJ di Cikini, Jakarta Pusat -- yang kemudian menjadi kawasan Pusat Kesenian Jakarta - Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM) -- dibuka untuk umum sejak 1 Maret 1969. POJ dilengkapi dengan memutakhirkan -- modernisasi -- perangkat dan fasilitas, berupa proyektor dan teropong, serta teater bintang.

Upaya modernisasi dan penguatan fungsi POJ dilanjutkan oleh Ali Sadikin - Gubernur DKi Jakarta kala itu. Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta lantas mengambil tanggung jawab untuk merawat dan melakukan berbagai pembaruan sesuai dengan zamannya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga melakukan pengembangan fasilitas dan perangkat yang menjadikannya planetarium dan observatorium yang modern di zamannya. Gubernur Ali Sadikin lantas meresmikannya pad 10 November 1968, bersamaan dengan peresmian Pusat Kesenian Jakarta - Taman Ismail Marzuki. 1 Maret 1969, untuk pertama kali digelar pertunjukan untuk khalayak.

Di tengah berbagai tantangan dinamis kehidupan berbagai kota global yang juga tumpuan perekonomian nasional, sejumlah negara dan bangsa memberikan perhatian khas pada Planetarium dan Observatorium. Bahkan, Iran - negara yang 'dikucilkan' dan mengalami tekanan berat di berbagai aspek kehidupan, memberikan perhatian khas tentang Planetarium & Observatorium.

Budaya Langit

Penyempurnaan POJ terus dilakukan dengan membangun perpustakaan dan ruang arsip, studio, teleskop portabel untuk mengamati fenomena luar angkasa (1980). Kemudian dibentuk Badan Pengelola Planetarium dan Observatorium (BP POJ). Pada masa kepemimpinan Gubernur Tjokropranolo POJ dilengkapi dengan proyektor komputerisasi Universarium M VIII menggantikan Proyektor Zeiss Universal.

Peran POJ sebagaimana halnya planetarium dan observatorium -- di berbagai kota  dan negara-negara lain -- mengemban fungsi utama sebagai wahana pendidikan khalayak tentang astronomi, pengembangan minat pelajar dan mahasiswa tentang sains dan teknologi yang berkaitan dengan planet. Sekaligus untuk melakukan pengamatan fenomena luar angkasa yang merupakan bagian dari budaya langit.

Tak hanya itu, POJ juga berfungsi sebagai salah satu titik pengamatan benda langit, khasnya rembulan, sesuai pengetahuan tentang ru'yat yang bersifat religius dalam menentukan hari dimulai dan diakhirinya bulan Ramadan, yang berpengaruh pada penentuan bulan-bulan dalam kalender hijriah. Alhasil POJ sempat menjadi tumpuan untuk mempelajari budaya langit dalam konteks yang luas.

Tahun 2021, Akademi Jakarta yang dipimpin oleh sastrawan Seno Gumira Ajidarma dan astronom Karlina Supelli memberi perhatian khas tentang pengaktifan kembali POJ. Ketika itu AJ bekerjasama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menggelar diskusi tentang peran dan fungsi utama POJ dalam pemajuan kebudayaan.

Sebagaimana halnya planetarium dan observatorium lainnya di dunia, POJ diharapkan memberikan memberikan pengalaman unik yang mampu membuat pembelajaran berkesan. Khasnya, karena planetarium dan observatorium berkemampuan mendemonstrasikan konsep ilmiah dalam pengaturan tiga dimensi, memperbesar dan melihat fitur unik planet-planet di tata surya kita.

Planetarium juga mempermudah pemahaman dari berbagai konsep yang sulit dipahami dengan pengalaman mendalam yang diberikannya.  Planetarium Gene Roddenberry, misalnya, oleh pemerintah Texas diposisikan sebagai bagian dari Distrik Sekolah Independen El Paso. Pengelolaannya diperuntukan bagi upaya meningkatkan kesadaran akan dampak planetarium dalam dunia pendidikan, keterlibatan masyarakat, dan bidang STEM (sains, teknologi, engineering, matematika).

Di Iran, yang selama 25 tahun terakhir mengembangkan inisiatif besar dalam mempromosikan penelitian di bidang ilmu dasar. Planetarium dikembangkan  sebagai bagian dari budaya penelitian yang diikuti oleh perombakan besar-besaran pendidikan tinggi, dan menjadi manifestasi untuk membangun infrastruktur sains yang besar.

Planetarium dan observatorium menjadi tumpuan bagi 2 juta (dari sekitar 5 juta mahasiswa) mahasiswa pasca sarjana yang tengah melakukan studi  di bidang sains, kedokteran, dan teknik. Iran memiliki hampir 400 universitas negeri dan swasta dengan 400.000 mahasiswa Magister dan lebih dari 40.000 mahasiswa PhD. (Nader Haghighi, 2016)

Meski terkesan agak bergerak perlahan (karena tekanan politik dan ekonomi global), Iran terus mewujudkan inisiatif utama kebangkitan astronomi, dengan pembangunan teleskop penelitian internasional serbaguna berdiameter 3,4 meter yang dikenal sebagai Observatorium Nasional Iran (INO). Proyek pertama Iran dalam astronomi observasional dan kosmologi modern, ini dikenal dengan kode INO340 adalah proyek Teleskop ini telah ditetapkan sebagai salah satu dari tiga Inisiatif Ilmiah Nasional Utama Iran. Proyek ini ditempatkan pada lokasi di sekitar 200 mil selatan ibu kota Iran, Teheran.

Tantangan yang Harus Dijawab

Di Jepang, planetarium yang dibuka untuk khalayak umum untuk tujuan pendidikan, dan kini sedang mengembangkan mengembangkan layanan baru yang berpusat pada hiburan, dan merangkul tema-tema seperti tempat healing untuk orang dewasa. Jepang mengembangkan penelitian dan mengembangkan planetarium generasi berikutnya terus berevolusi.

Dalam konteks Jakarta, Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur memberi perhatian khas dan solusi atas masalah non astronomi POJ yang sedang menghadapi masalah berkaitan dengan revitalisasi PKJ TIM. Kesungguhan dalam mengatasi masalah POJ, terekspresikan dari berbagai pernyataan kedua pemimpin Jakarta, itu ketika meninjau POJ beberapa waktu berselang.

Kendati tak terucapkan secara eksplisit, dua pemimpin Provinsi DKI Jakarta tersebut sama berpandangan, bahwa aktivasi, pengembangan, dan  penegasan fungsi POJ  sebagai kunci untuk memfasilitasi dan memperluas mata pelajaran astronomi. Juga untuk menyelaraskan presentasi dengan standar kurikulum yang harus dipelajari siswa sesuai dengan tingkatan kelas.

Türk, C. & Kalkan (2015) mengemukakan, studi yang mengajarkan konsep astronomi dalam lingkungan planetarium dibandingkan dengan siswa yang mempelajari konsep yang sama dalam lingkungan kelas. Studi tersebut menyimpulkan bahwa "pengajaran konsep astronomi dalam lingkungan planetarium lebih efektif daripada dalam lingkungan kelas.

Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa siswa dalam kelompok yang dibantu planetarium lebih berhasil dalam memahami mata pelajaran yang memerlukan pemikiran tiga dimensi. Planetarium, menurut peneliti astronomi, ini dapat bermanfaat pula dalam mengajarkan mata pelajaran lain seperti matematika, studi sosial, bahasa, dan bahasa asing.

Menyelesaikan masalah yang menghambat pengembangan POJ merupakan pilihan, kata Pramono. Baginya, planetarium yang pernah direvitalisasi tahun 2021 tersebut merupakan tantangan yang harus segera diselesaikan agar bisa beroperasi kembali (Selasa, 20/5/2025).

Pernyataan Pramono tersebut menegaskan, aktivasi POJ merupakan agenda yang penting, dan diharapkan menjadi salah satu daya dalam menciptakan dan menghidupkan ekosistem terpadu PKJ TIM. Wakil Gubernur Rano Karno menyebutnya sebagai bagian penting dari upaya mengembalikan marwah Taman Ismail Marzuki di bidang kebudayaan. | delanova.

Artikel terbabit : Gubernur Pramono Anung Tertantang Atasi Masalah Planetarium Jakarta

 

Editor : haedar | Sumber : pemprofdki dan berbagai sumber
 
Sainstek
Polhukam
14 Jan 26, 09:12 WIB | Dilihat : 214
Trump Provokasi Pengunjuk Rasa Iran
11 Jan 26, 08:00 WIB | Dilihat : 256
Pemimpin Mendengar dan Menyimak Aspirasi Rakyatnya
09 Jan 26, 10:00 WIB | Dilihat : 304
Maduro Nyatakan Dirinya Diculik Pasukan AS
Selanjutnya