Perang Israel-AS versus Iran

Malaysia Perlu Ambil Peran

| dilihat 359

Bang Sèm

MALAYSIA boleh tersenyum sekejap. Iran memberikan akses khas bagi kapal Malaysia untuk melintas di Selat Hormuz, Teluk Persia.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi -- yang menyimpan ketegasan dan konsistensi di balik senyum tipisnya -- memberikan kemudahan itu melalui Menlu Malaysia Mohamad Hasan -- yang kaya pengalaman sebagai profesional dan politisi.

Boleh jadi, ketegasan Malaysia sebagai negara pertama di dunia yang membatalkan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat (AS) -- menyusul keputusan Mahkamah Agung AS beberapa waktu berselang -- menjadi salah satu pertimbangan Iran memberikan akses tersebut.

Apalagi, sebelumnya, terkait Idul Fitri 1447 Hijriah, secara khusus Menlu Iran menyampaikan salam persahabatan dan persaudaraan sebagai sesama muslim dengan Malaysia, Indonesia, dan Brunei Darussalam. Suatu pesan diplomatik yang  sangat mendalam dan 'mengalirkan' nilai ikhwah.

Dalam banyak kesempatan, Menlu Iran Araghchi -- baik langsung maupun melalui Duta Besar-nya -- kerap mengirim sinyal tersirat kepada Malaysia, Indonesia, dan Brunei Darussalam untuk menjaga komitmen dan tidak mengkhianati kepercayaan yang selama ini terpelihara melampaui hubungan persahabatan dan persaudaraan antar negara dan bangsa, yang secara kultural (dalam dimensi tamaddun Persia) mempunyai kedekatan yang jauh lebih dalam.

Pemaksaan Perang

Di tengah situasi geopolitik mutakhir yang sangat sensitif, Malaysia lebih mengemuka. Khasnya, karena ketegasan sikap menampik 'undangan' Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk bergabung ke dalam Board of Peace (BoP) yang mengabaikan Palestina dan tidak mencerminkan egaliterianisma.

Termasuk kesadaran kebangsaan berbasis perlembagaan (konstitusi) yang tak memberi ruang bagi zionis Israel. Konsistensi sikap kebangsaan yang terpelihara dari masa ke masa pemerintahan.

Meski Perdana Menteri (PM) Malaysia X Anwar Ibrahim sempat 'bermesra-mesra' dengan Donald Trump - dalam ASEAN SUMMIT 2025, sehingga memantik riak politik dalam negeri, Malaysia jeli melihat dan tangkas bertindak.

Terutama memanfaatkan momentum Keputusan MA AS yang membatalkan kebijakan dagang Trump, menolak BoP, bersikap tegas tentang Gaza dan Palestina, dan sigap merutuk serangan AS dan Israel terhadap Iran, seraya menunjukkan empati atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran, Allahyarham Ayatollah Ali Khamenei.      

Boleh dikata, Malaysia mampu memainkan aksi diplomasi yang tangkas dan menunjukkan kemampuan diplomasi kemanusiaan atas kondisi 'pemaksaan perang' yang diinisiasi dan dilakukan oleh Trump dan Netanyahu.

Mengacu pada pandangan Jeffrey Sachs, Perang Israel dan AS terhasap Iran, sudah merenggut dimensi kemanusiaan dan keadaban luar biasa. Mereka menghancurkan semua sekolah, klinik, masjid, rumah sakit, perumahan, air, dan sanitasi.

Rezim Jahat dan Brutal

Sachs menyatakan, "Kita tidak tahu jumlah korban jiwa secara pasti, tetapi hampir pasti mencapai ratusan ribu jika kita menghitung tidak hanya jenazah yang telah dikumpulkan, yang berjumlah sekitar 80.000, dan mereka yang berada di bawah reruntuhan, tetapi juga orang-orang yang meninggal karena kedinginan, kekurangan air bersih, kekurangan gizi, kurangnya akses ke layanan kesehatan, dan sebagainya. Ini adalah rezim yang brutal. Ini mengerikan. Ini adalah rezim yang jahat dan brutal."

Jadi, tak ada alasan bersimpati, apalagi berteman dengan Trump -- apalagi penjahat perang Netanyahu. Apalagi, mereka melakukan hal yang sama di Lebanon sekarang. Dan mereka melakukan hal yang sama dengan pemboman karpet di Teheran, Iran.

Boleh jadi, Malaysia dan siapapun di dunia, seperti kata Sachs, perlu berdiri dan setop menerima (realitas) ini sebagai sesuatu yang normal atau dapat diterima. Harus 'memulangkan' (bukjan melindungi) Israel untuk hidup di dalam perbatasannya sendiri dan kembali berpikir jernih, karena mereka bertindak dengan cara yang benar-benar gila.

Mereka harus menghentikan ini. Ini adalah pembunuhan massal dengan keterlibatan AS. Jadi ini adalah sesuatu yang mutlak harus dihentikan.

PMX Anwar Ibrahim, sebagai senior di Asia Tenggara, perlu mengambil inisiatif-inisiatif untuk bersikap dan bertindak yang jelas dan tegas -- tanpa keraguan -- atas perang Israel - AS yang memaksa Iran berperang. Tanpa kecuali mengambil inisiatif-inisiatif damai, pengakhiran perang.

Kepemimpinan PMX Anwar Ibrahim menjadi penting. Khasnya, dalam memainkan komunikasi melalui lobi-lobi geopolitik dengan Iran, negara-negara Teluk Persia (Asia Barat), China, Rusia, dan AS tanpa kehilangan harga diri.

Kita paham, PMX Anwar Ibrahim sedang banyak menghadapi masalah internal Malaysia. Tetapi di tengah situasi geopolitik yang sedang sensitif saat ini, Malaysia perlu melakukan aksi diplomasi. Tak perlu menyandang fungsi mediator! Sebagai komunikator pun, cukup ! |

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 320
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 639
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 737
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya