Menguntungkan Asing Merugikan Rakyat

Kebijakan Bisu BBM Pemerintahan Jokowi

| dilihat 1969

AKARPADINEWS.COM | DIAM-diam pemerintah menaikkan harga BBM dengan menaikkan harga bensin RON 88 atau Premium sebesar Rp 200 per liter menjadi Rp 6.900 dari Rp 6.700 untuk wilayah Jawa dan Bali mulai 1 Maret 2015.  Kenaikan ini tak diketahui masyarakat, sampai Menteri Energi Sumberdaya Mineral, Sudirman Said melapor kepada Presiden Jokowi, Senin (2/3).

Kepada juru warta yang mangkal di Istana, Sudirman mengatakan, masyarakat harus terbiasa dengan naik turun harga BBM yang mengikuti harga pasar. Kenaikan itu sendiri, tak sesuai dengan harapan Pertamina, yang mengkalkulasi, semestinya kenaikan itu sebesar Rp 400 dari harga sebelumnya.

Sudirman mengatakan, kenaikan sebesar itu, setelah pemerintah menimbang situasi nasional yang sedang menghadapi kenaikan harga beras, yang kini harga per kg sebesar Rp12.000.- Sekaligus kenaikan harga gas elpiji tabung 3 kilogram.

Selain menaikkan harga Premium RON 88, pemerintah pun menaikkan harga minyak tanah Rp 2.500 dan solar Rp 6.400 per liter. Pemerintah pun tidak menaikkan harga solar untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mempertimbangkan selisih harga, dan menuai untung. Kenaikan itu mengikuti kenaikan harga dengan harga acuan Singapura alias MOPS (Mid Oil Platts Singapore).

Semenjak memerintah 20 Oktober 2014, Pemerintahan Jokowi menaik-turunkan harga BBM tanpa terlebih dahulu melakukan public sounding. Kebijakan menaik-turunkan harga BBM, seperti kebijakan bisu yang hanya diketahui pemerintah sendiri. Dampaknya, rakyat menderita.

Nurhasanah, pedagang sembako di pasar Panakukang – Makassar mengatakan, kenaikan barang-barang di pasar selama ini, akibat dari kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM di awal pemerintahannya, ketika harga minyak mentah dunia sedang merosot tajam. Pemerintah berharap, saat harga BBM diturunkan, harga sembako bakal ikut turun. Ternyata tidak. “Siapa yang mau menurunkan harga kalau sudah naik?” ujar Nur.

Dan, seperti biasanya, ketika kebijakan bisu yang dilakukannya berdampak buruk bagi perekonomian nasional, yang dilakukan Jokowi dan para menterinya, bukanlah mencari cara menurunkan harga. Melainkan mencari kambing hitam.

Tanpa disuruh, rakyat akan dengan sendirinya mengikuti naik turun harga BBM, tetapi kebijakannya kudu jelas, jangan pakai kebijakan bisu di ‘balik’ tirai.  Paling tidak, pemerintah kudu bicara dengan DPR RI, agar kebijakan yang ditempuhnya secara politik menjadi kebijakan negara keseluruhan.

Melalui kebijakan bisu seperti yang dilakukannya terhadap harga BBM, yang akan menjadi korban pertama adalah rakyat. Terutama, karena watak pedagang di negeri ini, hanya berpatokan pada satu rumusan saja: mendapat untung sebesar-besarnya, menekan rugi serendah-rendahnya.

Bila kebijakan bisu semacam ini dilakukan terus menerus, bakal banyak persoalan yang dihadapi. Seberapapun besarnya harga kenaikan BBM, pasti akan dimasukkan ke dalam kos operasi dan kos produksi, dan harga barang yang terkait, akan naik pula secara diam-diam.

Dengan kebijakan bisu yang ditempuhnya, nampak Jokowi memang tak sepenuhnya memikirkan rakyat. Apalagi, sampai kini, kebijakan tentang beragam kartu – kecuali kartu diskon – yang ditempuhnya ketika akan menaikkan harga BBM, belum pula dipublikasikan secara terbuka hasil evaluasinya kepada rakyat.

Bila dibiarkan, kebijakan bisu semacam ini, akan menjadi jerat bagi rakyat.  Pastinya, kebijakan semacam itu akan menguntungkan SPBU asing, karena lebih awal mendidik konsumen mengikuti harga pasar.| bang sem

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 302
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 391
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 558
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 541
Mengharap Garuda di Langit
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1899
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2269
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1417
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya