
Notes Kene' Bang Sém
Selama lebih dari tujuh dekade, rakyat Palestina telah dirampas hak kemerdekaannya. / Saat ini, mereka tidak hanya dirampas kebebasannya, tetapi juga hak untuk hidup sebagai manusia, hak untuk hidup. / Setiap hari, penderitaan manusia semakin meningkat. /Warga sipil tewas saat mengantre makanan. / Struktur masyarakat Palestina sedang terkoyak. // Ketika bantuan pangan menjadi hukuman mati, seberapa parahkah keadaannya sebelum kita bertindak? // Kita semua telah bersuara lantang. Kita telah mengutuk. / Namun kini kita harus bertindak. Tanyakan berapa lama lagi kita akan membiarkan ini berlanjut?
Narasi dengan rangkaian diksi puitik berdaya kedalaman insaniah yang memadu padan kecerdasan nalar, kepekaan nurani, kehalusan rasa, dan ketegasan dria, itu mengalir melalui pidato Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Arrmanatha Nasir, di hadapan para menteri luar negeri dan utusan berbagai negara yang mengikuti Sidang Pleno Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Solusi Dua Negara penyelesaian masalah Palestina, di Ruang Majelis Umum - Markas Besar PBB, New York - AS (Rabu, 30 Juli 2025).
Applaus atas pidato itu bukan basa-basi, sekaligus menunjukkan, bahwa para wakil berbagai negara, peserta konferensi mengapresiasi pandangan dan sikap Indonesia.
Hasil Konferensi PBB yang diselenggarakan atas inisiatif Republik Prancis dan Kerajaan Saudi Arabia, itu sejalan dengan pernyataan para Kepala Negara - Kepala Pemerintahan di berbagai belahan dunia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyusul sejumlah Kepala Negara / Pemerintahan melakukan aksi diseminasi sikap dan pandangan politik pengakuan atas eksistensi Palestina sebagai negara yang berhak merdeka.
Berbagai sahabat dari berbagai negara memuji sikap dan pandangan Indonesia yang menyaksikan Wakil Menlu Arrmanatha Nasir menyampaikan sikap damn pandangan Indonesia tersebut.

Memperjuangkan Kemanusiaan dan Keadilan
Tajam! Menyentak! Menghunjam! Membangunkan kesadaran asasi kolektif, bahwa selama ini secara global terjadi kelambanan bersikap dan beraksi menyatakan pengakuan eksistensi Palestina sebagai negara dan mengesahkannya sebagai anggota penuh PBB. Sekaligus menegaskan relasinya dengan kewajiban moral dan hukum internasional.
Amerika Serikat (AS) dan zionis Israel memboikot konferensi yang berlangsung dua hari itu. Indonesia yang bersama Italia dipercaya sebagai co chair kelompok kerja tentang keamanan.
Mengawali pidatonya, Arrmanatha Nasir mengusik para pimpinan dan khalayak di ruangan tersebut. "Kita di sini, hari ini, untuk memperjuangkan kemanusiaan, menuntut keadilan bagi rakyat Palestina, dan mendorong solusi abadi bagi konflik paling berkepanjangan dalam sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa," ungkapnya.
Dia lantas menyampaikan luah akal budi dengan narasi dan diksi puitik pernyataan -- yang saya kutip di awal artikel ini --, dengan menjaga irama dan ketegasan maknanya. Suatu pernyataan yang membuka belenggu nalar serta mata dan telinga batin, bahwa selama tujuh dasawarsa lebih masyarakat global lebih banyak 'berbendi-bendi' dengan wacana.
Dalam satu tarikan nafas, selama masa itu juga berlangsung penjajahan kejam telak dilakukan zionis Israel dan indung pengasuhnya. Memenuhi birahi kekuasaan untuk menguasai dan menghapuskan Palestina dari peta dunia. Membuat rakyat Palestina terlunta-lunta, hidup dalam tekanan di seluruh aspek kehidupan, sampai tiba kelaparan.
Masyarakat global diam dalam senyap dan sekadar berkisik-kisik perihal laku lajak penjajah zionis Israel melakukan perampasan hak asasi manusia, penghancuran tanah air, mempertontonkan aksi genosida sosial, ekonomi, budaya dan akhirnya genosida kemanusiaan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi dehumanitas.
Selama titimangsa peradaban -- dari peradaban bercocok tanam sampai bercocok akal imitasi di era Society 5.0. Mengubah peradaban modern menjadi peradaban sangat primitif barbarian: memancang monumen kepandiran berlumuran sikap pongah, jumawa, dan takabbur yang bukan merupakan keadaban manusia.
"Saat ini, mereka tidak hanya dirampas kebebasannya, tetapi juga hak untuk hidup sebagai manusia, hak untuk hidup. Setiap hari, penderitaan manusia semakin meningkat. Warga sipil tewas saat mengantre makanan. Struktur masyarakat Palestina sedang terkoyak. Ketika bantuan pangan menjadi hukuman mati, seberapa parahkah keadaannya sebelum kita bertindak?" ungkap Arrmanatha Nasir, membuat kita tercekat.

Saatnya Bertindak
Dengan format dan struktur retorika yang baik dan menggugah, Arrmanatha Nasir, meluahkan suara batin. "Kita semua telah bersuara lantang. Kita telah mengutuk. Namun kini kita harus bertindak. Tanyakan berapa lama lagi kita akan membiarkan ini berlanjut? Berapa banyak lagi nyawa yang harus hilang sebelum sistem multilateral ini memenuhi tujuannya untuk menegakkan perdamaian dan keadilan?"
Dia menyatakan, Indonesia bangga menjadi ketua bersama meja bundar tentang keamanan bersama Italia. "Kami menyuarakan solidaritas, prinsip, dan tindakan. Konferensi ini harus lebih dari sekadar pertemuan PBB. Konferensi ini harus menjadi titik kumpul bagi kesadaran global. Masa depan tidak boleh menjadi realitas satu negara yang dibangun di atas aneksasi dan apartheid."
Dia juga menyatakan, "Konferensi ini harus menjadi solusi dua negara di mana Israel dan Palestina hidup berdampingan secara damai dan aman di dalam batas-batas yang diakui berdasarkan garis 1967 sesuai dengan hukum internasional, resolusi PBB, dan perjanjian internasional."
Pernyataan yang lebih logis, rasional, realistis, mendahulukan cara (the way to solve the problem) katimbang berlarat-larat dengan intuitive reason.
Hal lain yang membanggakan adalah Arrmanatha Nasir telah membuka mata, bahwa Indonesia konsisten dan konsekuen melaksanakan prinsip dasar - amanah dalam pembukaan konstitusi (UUD 45) yang menegaskan frasa "Kemerdekaan adalah hak segala bangsa."
Pernyataan yang memandu kita untuk menolak penjajahan dan menegaskan kemerdekaan merupakan hak universal setiap bangsa. Sesuatu yang kemudian menjadi energizer dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955.
Sesuatu yang sangat relevan dan mendasari sikap dan komitmen yang lebih menguatkan hakikat atas prinsip luar negeri bebas aktif. Sekaligus lebih bermakna mendalam dari sekadar pernyataan, "Satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit."
Pidato Arrmanata Nasir juga menunjukkan sikap bijak sesuai 'diplomacy manner,' ketika ia menyatakan, "Kami menyambut baik pernyataan bersama dan kepemimpinan hampir 30 negara yang menyerukan diakhirinya perang dan krisis kemanusiaan di Gaza. Kami juga menyambut baik inisiatif global lainnya yang mendukung negara Palestina."

Tiga Sikap Konkret
Kepribadian Indonesia mengemuka, ketika dia menyampaikan tiga butir strategis dengan gaya retorika Cicero yang mengingatkan kita pada ketangkasan HOS Tjokroaminoto, Bung Karno, dan Haji Agus Salim menyampaikan gagasan. Yakni:
Pertama, pengakuan bukanlah simbolis. Ini strategis. Mengakui Palestina bukanlah sebuah bantuan. Ini adalah kewajiban di bawah hukum internasional. Mengakui Palestina berarti memperjuangkan keadilan. Ini berarti percaya pada Piagam PBB. Ini berarti menyeimbangkan persaingan diplomatik. Solusi dua negara dimulai dengan pengakuan politik.
Hanya dengan demikianlah negosiasi perdamaian sejati dapat terjadi. Hanya dengan demikianlah kita dapat mengakhiri pendudukan ilegal sebagaimana ditegaskan oleh Mahkamah Internasional.
Kedua, permusuhan harus diakhiri. Gencatan senjata bukanlah taktik. Ini adalah keharusan moral. Bantuan kemanusiaan harus mengalir. Warga sipil harus dilindungi, baik bagi warga Palestina maupun Israel.
Dia pun menegaskan, "Presiden Prabowo telah menegaskan kesiapan Indonesia untuk berkontribusi bagi perdamaian, termasuk melalui penyediaan personel untuk mendukung upaya pasukan stabilisasi di Gaza di bawah mandat PBB. Kami bukan advokat, kami tidak hanya mengadvokasi perdamaian, kami siap membantu membangunnya di lapangan."
Ketiga, masa depan Palestina harus dipimpin oleh Palestina. Membangun kembali Gaza dan membentuk masa depan politiknya harus menjadi tanggung jawab rakyat Palestina. Tidak ada yang bisa membangun negara Palestina. Hanya Palestina yang bisa. Setiap upaya untuk menggusur paksa mereka atau memaksakan persyaratan pada kedaulatan mereka, harus ditolak dengan tegas.
Kita juga menggarisbawahi pernyataannya sebagai pernyataan Indonesia, bahwa "Negara Palestina yang kuat dan bersatu dengan kendali penuh atas wilayah, institusi, dan fondasinya adalah fondasi bagi perdamaian yang berkelanjutan. Hanya dengan demikian Israel dapat benar-benar diterima sebagai tetangga yang damai di Timur Tengah yang aman."
Terlepas dari kehancuran yang terjadi, kata Arrmanatha, "Indonesia terus berinvestasi pada pemuda Palestina, terutama melalui pendidikan, karena kami percaya suatu hari nanti kaum muda ini akan memimpin Palestina yang bebas, demokratis, dan berdaulat. Saatnya telah tiba untuk langkah-langkah tegas dan tak terelakkan... Indonesia siap bekerja sama dengan semua negara untuk tujuan ini."
Tabek ! |