70 Negara Kutuk Serangan Terhadap UNIFIL

| dilihat 131

NEW YORK | 70 negara anggota Persyarikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan Uni Eropa mengutuk serangan yang terus-menerus terhadap Pasukan Sementara PBB di Libanon (UNIFIL) termasuk serangan serius terbaru yang menelan korban jiwa tiga anggota pasukan penjaga perdamaian dari Indonesia, dan melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lainnya dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia.

Indonesia dan Prancis memimpin perumusan pernyataan bersama tersebut. Umar Hadi, Utusan tetap Indonesia untuk PBB menyampaikan pernyataan tersebut di Markas Besar PBB (Jum'at, 10/4/26), disaksikan oleh seluruh wakil 70 negara dan Uni Eropa tersebut.

Dari penyelidikan PBB diketahui, tiga prajurit Indonesia yang gugur (masing-masing: Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, serta Kopda Anumerta Farizal Rhomadon) dan beberapa prajurit yang luka terkena proyektil tank milik Zionis Israel.

Negara-negara tersebut menyerukan de-eskalasi segera, pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab, dan langkah-langkah perlindungan yang lebih kuat bagi personel PBB di tengah meningkatnya kekerasan dan pengungsian massal di Lebanon.

Pernyataan tersebut juga menyoroti secara khusus  meningkatnya kekuatiran global atas kian memburuknya situasi keamanan di lokasi dan implikasinya terhadap operasi penjaga perdamaian internasional.

Pernyataan bersama ihwal keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian tersebut atas nama  Aljazair, Armenia, Australia, Austria, Bahrain, Bangladesh, Belgia, Brasil, Brunei, Kamboja, Republik Rakyat Tiongkok, Kolombia, Kroasia, Siprus, Republik Demokratik Kongo, Denmark, Mesir, El Salvador, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Ghana, Yunani, Guatemala, Hongaria, Indonesia, Irlandia, Italia, Yordania, Latvia, Liberia, Luksemburg, Malaysia, Malta, Moldova, Mongolia, Maroko, Nepal, Belanda, Makedonia Utara, Pakistan, Panama, Filipina, Polandia, Portugal, Qatar, Republik Korea, Rumania, Federasi Rusia, Sierra Leone, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Tanzania, Thailand, Denmark, Turki, Inggris Raya, Uruguay, Zambia, dan Uni Eropa, dan daftar ini masih panjang.

"Saat ini kami mendapat indikasi bahwa lebih banyak negara akan bergabung dalam pernyataan ini," ungkap Hadi.

Kejahatan Perang

Selengkapnya, pernyataan tersebut mengemukakan :

" Kami, negara-negara kontributor pasukan untuk pasukan sementara PBB di Lebanon atau UNIFIL, bersama dengan beberapa negara anggota lainnya dan Uni Eropa, menyatakan keprihatinan mendalam atas peningkatan ketegangan di Lebanon sejak 2 Maret 2026 dan dampaknya terhadap keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian.

" Kami mengutuk keras serangan terus-menerus terhadap UNIFIL, termasuk serangan serius terbaru yang menelan korban jiwa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia dan melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lainnya dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia.

" Kami juga mengutuk keras perilaku agresif (yang tidak dapat diterima) terhadap personel dan pimpinan UNIFIL yang baru-baru ini kami saksikan.

" Kami mengingatkan, bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran serangan, dan serangan terhadap mereka yang dalam perlindungan, dilarang,. berdasarkan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan, serta dapat dinilai sebagai kejahatan perang.

" Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar. Kami mendesak PBB dan Dewan Keamanan untuk menggunakan semua alat yang tersedia guna memperkuat perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB dalam lingkungan yang semakin berbahaya.

" Kami menegaskan kembali dukungan penuh untuk mandat UNIFIL sebagaimana tercantum dalam resolusi Dewan Keamanan yang relevan, seraya mendesak semua pihak dalam segala keadaan mengambil semua tindakan,  guna memastikan keselamatan dan keamanan personel dan tempat pasukan penjaga perdamaian sesuai dengan hukum internasional.

" Kami menyerukan kepada PBB untuk terus menyelidiki semua serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dengan cara yang cepat, transparan, dan komprehensif serta terus menginformasikan negara kontributor pasukan terkait tentang kemajuan yang konsisten, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan 2518 tahun 2020 dan 2589 tahun 2021. Kami meminta agar mereka yang bertanggung jawab atas serangan - serangan tersebut dimintai pertanggungjawaban.

" Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan di Lebanon, terutama korban sipil yang signifikan, kerusakan infrastruktur sipil yang luas, dan pengungsian massal lebih dari satu juta orang.

 

" Kami menyerukan kepada semua pihak untuk segera kembali pada kesepakatan penghentian permusuhan tahun 2024 dan menghormati resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 tahun 2026.

" Kami menyerukan penghentian konflik di Lebanon, de-eskalasi ketegangan, agar semua pihak kembali ke meja perundingan.

" Kami menegaskan kembali komitmen kuat kami terhadap kedaulatan, kemerdekaan, integritas wilayah, dan persatuan Lebanon.

" Kami memberikan penghormatan atas dedikasi dan pengabdian semua pasukan penjaga perdamaian PBB yang mempertaruhkan nyawa mereka demi perdamaian dan keamanan internasional dan menyampaikan apresiasi mendalam kami kepada semua negara kontributor pasukan." | jeanny

Editor : haedar | Sumber : SCUN
 
Polhukam
10 Apr 26, 20:49 WIB | Dilihat : 132
70 Negara Kutuk Serangan Terhadap UNIFIL
10 Apr 26, 17:21 WIB | Dilihat : 121
Iran Kian Tangguh Hadapi AS dan Zionis Israel
03 Apr 26, 19:23 WIB | Dilihat : 286
Rudal Iran sebagai Platform Baru Media
03 Apr 26, 11:46 WIB | Dilihat : 270
Perlawanan Iran Terus Berlangsung
Selanjutnya
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 288
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 610
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 719
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya