
Perang yang dipaksakan rezim genosida dan Amerika Serikat (AS) - zionis Israel kepada Iran sudah berlangsung lebih sebulan. Perang dimulai oleh serangan brutal rudal AS-zionis Israel secara biadab, saat proses negosiasi mewujudkan perdamaian berlangsung (28 Februari 2026). Iran tak pernah memulai serangan.
Serangan atau agresi AS-zionis Israel menyasar sekolah dasar di kota Minab. Sekolah itu nyaris lantak, dan menewaskan lebih dari seratus orang. Lantas, segera 'meletupkan' fajeeh ensani (petaka kemanusiaan).
Pada hari yang sama, sejumlah rudal juga menyasar dan meledakkan kediaman Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran, Rahbar Ayatollah Sayed Ali Khamenei -- yang juga mantan Presiden Iran -- yang gugur bersama istri, menantu dan cucunya yang adalah ayah, ibu, istri, dan anak Sayed Mojtaba Hosseini Khamenei.
Iran membalas, dengan menyerang ibu kota Israel, Tel Aviv, Haifa -- dan beberapa lokasi strategis lain yang dikuasai paksa serdadu zionis Israel -- menjadi wilayah Israel.
Dalam pembalasannya, Iran juga menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk di Qatar, Kuwait, Bahrain, dan lain-lain. Setelah itu, beberapa hari kemudian, para pemimpin Iran anggota Majelis Ahli secara demokratis melakukan proses pemilihan Rahbar. Ayatollah Sayed Mojtaba Hosseini Khamenei (57, kelahiran Mashhad 8 September 1969) adalah putera kedua pasangan Ayatollah Sayed Ali Khamenei dan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh.
Sebagaimana ayahnya, Sayed Mojtaba Hosseini Khamenei adalah seorang ulama dan politisi yang layak dan patut sebagai Rahbah yang memegang kendali atas militer, IRGC (Islamic Revolutionary Corps) - pasukan khas Garda Revolusi Iran. Selain itu, sebagai Rahbah ia juga menyandang kuasa sebagai pemutus final dalam berbagai hal terkait negara.

Fantasi AS-zionis Israel Buyar
Ihwal agresi udara AS dan zionis Israel, Presiden AS Donald Trump dan -- anak semangnya -- Perdana Menteri Zionis Israel Benyamin Netanyahu -- yang diputuskan Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang -- berfantasi bahwa serangan agresif ke Teheran akan merobohkan pemerintah Iran.
Keduanya merasa berhasil dengan agresi dan serangan rudal (28/02/26) yang menewaskan Sayed Ali Khamenei beserta istri, menantu dan anaknya tersebut. Keduanya juga membayangkan pemerintahan Iran segera roboh dan negara para mulah, itu dapat dikendalikan. Termasuk mengganti kepemimpinan dan pemerintahan, sebagaimana terjadi di Venezuela, selepas serdadu AS 'menculik' Presiden Venezuela Maduro dan istrinya.
Fantasi keduanya buyar. Iran bukan yang mereka bayangkan. Sistem ketahanan nasional dengan peta jalan kepemimpinan yang terkelola baik dan tak mudah ditaklukan.
Serangan-serangan balasan yang dilakukan Iran ke jantung negara zionis Israel dan berbagai pangkalan militer AS di Teluk menunjukkan Iran terlalu kokoh untuk ditaklukan.
Iran berhasil mengolah citra AS dan zionis Israel dan sekutunya sebagai penjahat perang biadab yang harus dilawan bersama oleh seluruh negara dan bangsa yang beradab dan bermuruah.
Via zoom Menteri Luar Negeri Iran, Sayed Abbas Araghchi di hadapan sidang 'debat darurat' Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) - (27/03/26). Iran mengusik kesadaran pikiran dan nurani khalayak.
"Iran saat ini berada di tengah-tengah cengkeraman perang ilegal yang dipaksakan oleh dua rezim bersenjata nuklir yang suka menindas, Amerika Serikat dan Israel," paparnya.
Araghchi berhasil meyakinkan sebagian terbesar delegasi sidang itu dengan mengangkat ulang peristiwa penyerangan zionis Israel dan AS merupakan pengkhianatan atas diplomasi untuk kedua kali dalam waktu sembilan bulan terakhir.

Pembantaian Murid dan Guru
AS dan zionis Israel memulai agresi, ketika Iran dan AS terlibat dalam proses diplomatik untuk menyelesaikan kekhawatiran Amerika atas program nuklir Iran. Mereka menggagalkan dan meninggalkan meja perundingan.
Pada bagian lain pidatonya yang 'menghunjam' itu, Araghchi mengemukakan, di antara manifestasi agresi paling mengerikan yang mereka lakukan, adalah serangan bertahap yang terencana terhadap Sekolah Dasar Shajarata di kota Minab, selatan Iran, di mana lebih dari 175 siswa dan guru dibantai dengan kejam.
Serangan barbar ini disebut Arghchi hanya puncak yang terlihat dari gunung es yang jauh lebih besar, yang di bawahnya menyembunyikan bencana yang jauh lebih besar, normalisasi pelanggaran hak asasi manusia dan hukum humaniter yang paling menjijikkan, sekaligus keberanian melakukan kejahatan keji tanpa hukuman.
Pada saat agresor Amerika-Israel yang mengklaim memiliki teknologi perang paling canggih dan sistem data militer dengan presisi tertinggi, ungkap Araghchi, menunjukan, bahwa serangan terhadap sekolah itu merupakan tindakan yang disengaja dan terencana.
Tegas, Araghchi mengungkap, serangan terencana AS-zionis Israel sekolah Shajal adalah kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan yang menuntut kecaman tegas dari semua pihak dan pertanggungjawaban yang jelas bagi para pelakunya.
"Kekejaman ini tak dapat dibenarkan, tak dapat disembunyikan, tak boleh ditanggapi dengan diam dan acuh tak acuh," sambungnya.
Serangan terhadap sekolah Shajal di Minab bukanlah sekadar insiden atau kesalahan perhitungan. Pernyataan kontradiktif AS yang bertujuan untuk membenarkan kejahatan mereka tidak dapat dengan cara apa pun menghindari tanggung jawab mereka.

AS- zionis Israel, Penyerang Sangat Brutal
Mengecam serangan tanpa ampun terhadap tempat yang pada dasarnya sipil, tempat di mana orang-orang yang paling tidak berdosa tinggal dan mengejar ilmu, bukanlah sekadar kewajiban hukum dalam kerangka hak asasi manusia.
"Ini adalah keharusan moral dan kemanusiaan. Hati nurani kita akan menghakimi kita lebih dalam daripada pengadilan mana pun," tegasnya.
Araghchi pun menyatakan, bahwa Sekolah Dasar Shaj bukanlah satu-satunya korban kejahatan keji Amerika-Israel selama 27 hari terakhir perang ilegal mereka.
"Hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional telah dilanggar secara besar-besaran dan sistematis oleh para penyerang dengan cara yang sangat brutal. Mereka menargetkan warga dan infrastruktur sipil tanpa menghiraukan hukum perang, serta prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan kesopanan," ungkapnya.
Lebih dari 600 sekolah telah dihancurkan atau rusak di seluruh Iran dan lebih dari 1.000 siswa dan guru gugur atau terluka. Akibatnya, para agresor dengan arogan meneriakkan "tidak ada ampun, tidak ada belas kasihan."
AS - zionis Israel mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran telah menyerang rumah sakit, ambulans, petugas kesehatan, tim penyelamat Bulan Sabit Merah, kilang minyak, sumber air, dan daerah pemukiman.
"Kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan tidak cukup menggambarkan beratnya kekejaman yang mereka lakukan," ungkapnya tegas.
Pola penargetan para agresor yang disertai dengan retorika mereka tidak menyisakan keraguan tentang niat mereka yang jelas untuk melakukan genosida.

PBB dalam Bahaya Serius
Artikulkatif dan aksentuatif, Araghchi menyatakan, perang yang tidak adil dan penuh kesewenang-wenangan ini diinisasi oleh AS-zionis Israel terhadap negara Iran. Perang ini terjadi sebagai akibat langsung dari kebungkaman dalam menghadapi pelanggaran hukum dan kekejaman sebelumnya di Palestina yang diduduki, Lebanon, dan tempat lain.
Sikap acuh tak acuh dan diam dalam menghadapi ketidakadilan tidak akan membawa keamanan dan perdamaian. Sebaliknya, justru akan mengundang lebih banyak ketidakamanan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Araghchi mengingatkan, PBB dan nilai-nilai inti yang diwujudkannya, serta kerangka kerja hak asasi manusia secara keseluruhan, berada dalam bahaya serius.
"Anda semua perlu mengecam para agresor dan memberi tahu mereka bahwa komunitas negara-negara, hati nurani kolektif manusia, meminta pertanggungjawaban atas aksi kejahatan mengerikan yang mereka lakukan terhadap rakyat Iran. Iran tidak pernah menginginkan perang," ungkap Araghchi, lanjut.
Rakyat Iran adalah bangsa yang damai dan mulia, mewarisi salah satu peradaban terkaya di bumi. Kendati demikian, mereka telah menunjukkan tekad dan keteguhan hati yang mutlak untuk membela diri terhadap para agresor brutal tidak mengenal batas dalam melakukan segala macam kejahatan. Pembelaan yang akan terus berlanjut selama dibutuhkan.
Dalam konteks pembelaan diri dan perlawanan rakyat Iran tersebut, keberadaan dan kepemimpinan Rahbar Syed Mojtaba Hossein Khamenei menambah 'darah segar' perjuangan integral pemimpin dan rakyat Iran.
Kepemimpinan Syed Mojtaba Khamenei pun menguatkan dan memberi arah perjuangan lanjut rakyat Iran. Perjuangan yang didedikasikan bagi pencapaian hak asasi manusia secara total.
Setarikan nafas, juga merupakan perjuangan mewujudkan perdamaian berkeadilan dunia yang mesti ditandai dengan kemerdekaan Palestina dan pembebasan negara-negara tertindas lainnya. | jeahan, tique