
Menghadapi ketidakpastian pasokan energi (khasnya minyak bumi, gas dan listrik, Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese bersama Menteri Luar Negeri / Senator Penny Wong dan Menteri Perubahan Iklim dan Energi Chris Bown mengayun langkah menyambangi jiran di rantau Asia Tenggara: Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia.
Australia, Singapura, Brunei dan Malaysia sebagai bagian dari negara-negara persemakmuran Inggris sama mewujudkan berbagai kesepakatan dan keputusan yang selama ini terbina di forum Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN (Perhimpunan Negara-negara di Asia Tenggara), di Kuala Lumpur (Agustus 2025)
PM Albanese, PM Singapura Lawrence Wong, Sultan Brunei Darussalam Sultan Bolkiah, dan PM Anwar Ibrahim menyadari, konflik -- perang antara Amerika Serikat dan Israel versus Iran) di Asia Barat (Timur Tengah) telah dan akan 'mengguncang' negaranya masing-masing. Khasnya Australia dan Singapura yang menghadapi kekurangan minyak, dan Singapura yang terancam pasokan Gas.
Kunjungan PM Albanese bersama Menlteri Luar Negeri dan Menteri Perubahan Iklim dan Negeri ke Singapura (9-11/4/26), Brunei Darussalam (14-15/4/26) , dan Malaysia (15-17) telah 'ditunggu' oleh Pemimpin oposisi, Angus Taylor.
Taylor menuntut Albanese, agar kunjungannya ke tiga negara jiran, membawa pulang jaminan, pasokan bahan bakar dan energi Australia akan akan mewujud tanpa hambatan.
Menteri Luar Negeri Australia (kelahiran Sabah) Penny Wong mengemukakan, PM Australia Anthony Albanese mengunjungi Singapura, Brunei, dan Malaysia untuk memperkuat keamanan energi, mengamankan jaminan pasokan bahan bakar dan pupuk yang berkelanjutan di tengah gangguan konflik di Timur Tengah. Kunjungan tersebut berfokus pada penguatan ketahanan rantai pasokan, dengan Brunei dan Malaysia memberikan jaminan terhadap pembatasan ekspor.
Di Singapura, selain pertemuan tahunan, Albanese akan berbicara dengan PM Lawrence Wong perihal keamanan energi yang ditandai dengan kunjungannya ke fasilitas bahan bakar (kilang) di Pulau Jurong, yang menampung fasilitas milik perusahan dunia, seperti ExxonMobil.
Minyak bumi, diesel dan gas alam cair hasil olahan Singapura memainkan peran penting dalam pengamanan energi di negeri Kangoroo, itu. Singapura merupakan salah satu pusat penyulingan minyak terbesar di dunia. Memproses sekitar 1,3 juta barel.

Ketahanan Rantai Pasokan Energi
Singapura menyumbang lebih dari seperempat total impor bahan bakar olahan Australia, termasuk 55 persen bensin, 22 persen bahan bakar jet, dan 15 persen solar senilai lebih dari $10 miliar. Australia memasok 32 persen LNG Singapura, senilai sekitar $5 miliar.
Di Brunei, Albanese berunding dengan Sultan Bolkiah untuk melakukan kerjasama mengamankan jaminan pasokan minyak dan pupuk, ang dicatat oleh ABC News, yang mencapai sekitar 10 persen impor diesel dan urea.
Di Malaysia, Albanese bertemu dengan PMX Anwar Ibrahim untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan energi, khasnya sumber bahan bakar olahan terbesar ketiga Australia.
Maret 2026 PM Albanese dan PM Wong telah menyampaikan pernyataan bersama, bahwa kedua negara bakal terus melakukan perdagangan energi, sekaligus berkomitmen untuk "mendukung arus barang-barang penting, termasuk minyak bumi, seperti solar, dan gas alam cair antara kedua negara kita."
Secara khas, Menteri Energi Chris Bowen, menyatakan, Singapura bisa menjadi salah satu negara tempat kilang-kilang minyak, sehingga Australia dapat memperoleh pasokan bahan bakar baru, di bawah pengaturan pembiayaan ekspor baru di mana pemerintah akan menanggung biaya pembelian pasokan bahan bakar baru.
Akan halnya Brunei dan Malaysia, 'wajib' dikunjungi PM Albanese untuk mengamankan pasokan bahan bakar minyak dan gas bumi dan pupuk.
Langkah diplomasi yang fokus pada migas dan pupuk, itu juga mengacu pada pandangan kritis para ahli energi yang kian khawatir bahwa negara-negara akan mulai menyimpan minyak untuk konsumsi domestik mereka masing-masing.
PM Albanese juga menangkap isyarat Malaysia yang Maret lalu mengemukakan, pemerintah Malaysia akan memprioritaskan keperluan energi mereka sendiri. Isyarat tersebut, bila tak segera 'ditangkap' dapat menjadi 'ancaman' bagi Australia.
Ketika bersama berbicara dengan media, PMX Anwar Ibrahim mengatakan, Petronas -- perusahaan energi negara Malaysia -- akan memprioritaskan penyediaan pasokan bahan bakar berlebih untuk Australia.

Teguh Bersama
Anwar menyatakan, prioritas utama adalah keperluan tempatan (domestik). Karenanya negosiasi antar sahabat sangat penting. Termasuk negosiasi ihwal pertukaran urea dengan fosfat mineral dari Australia.
Negosiasi Albanese dengan Sultan Bolkiah juga mencapai kesepakatan untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan energi. Lagi, kepada wartawan Albanese mengatakan, Brunei telah menawarkan “jaminan,” bahwa Brunesi tidak akan memberlakukan pembatasan ekspor terhadap Australia.
Di sisi lain, Australia kemungkinan akan meningkatkan pasokan makanan, sebagai imbalan atas lebih banyak pupuk, yang memasok sekitar 9 persen diesel Australia dan 11 persen pupuk urea-nya.
Keempat negara ini sama memandang, bahwa penguatan keamanan energi tak lepas dari pengamanan pangan di sektor pertanian dan pangan pada umumnya dan sama menjaga kelancarakan rantai pasokan di atas kekhawatiran bersama.
Albanese dan para menterinya – termasuk Penny Wong, Don Farrell, dan Richard Marles – telah memastikan para mitra dekatnya tersebut untuk memastikan bahan bakar terus mengalir ke Australia yang berdampak pada keamanan ekonomi..
“Keamanan ekonomi kita tidak dapat dipisahkan dari stabilitas kawasan kita,” kata Albanese. Akan halnya Menlu Penny Wong mengemukakan, "Di saat seperti ini, teman yang terpercaya lebih penting dari sebelumnya."
Penny Wong juga mengemukakan, Malaysia, Singapura, dan Brunei merupakan mitra dagang vital dan sahabat lama. Dalam hubungan dagang dengan Malaysia, Penny Wong menyatakan, Australia memasok gas alam jangka panjang yang terpercaya bagi Malaysia, dan Malaysia merupakan pemasok penting bahan bakar olahan bagi Australia.
"Kita saling bergantung satu sama lain. Dan kini semakin teguh bersama," pungkas Penny Wong. | iasha