Iran Kian Tangguh Hadapi AS dan Zionis Israel

| dilihat 121

Mencermati Perang yang dipaksakan oleh Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel versus Iran dengan menyerang Teheran (28/2/26) secara membabi buta. Menghantam sekolah di Minab -- membantai lebih 170 siswa (anak-anak dan sebagian besar perempuan) yang sedang belajar di sekolah itu.

AS dan Zionis Israel juga menyerang 53 rumah sakit, Cabang Bank, pemukiman warga sipil, dan kediaman pemimpin politik, ilmuwan, termasuk Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran Ayatollah Sayed Ali Khamenei, istrinya, menantunya dan cucunya.

Karena serangan tersebut, Iran membalas dan menyerang ibu kota Israel Tel Aviv, juga Haifa - kota besar lainnya. Sesuai dengan prinsip Islam yang mereka yakini, dalam hal berperang, Iran bukan pihak yang memicu atau memulai.

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Zionis Israel -- yang diputuskan Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang -- melakukan penyerangan, ketika jalan diplomasi, perundingan ihwal pengayaan nuklir tahap kedua di Muscat, Ibukota Oman, sedang jeda. Sejak itu perang berlangsung selama 40 hari.

Selama masa itu, dunia -- yang banyak dipengaruhi cara pandang Barat (AS dan Zionis Israel) tercengang. Tak hanya karena asumsi mereka, bahwa gugurnya Syed Ali Khamenei dengan sendirinya bakal mengubah rezim. Pandangan tersebut keliru besar.

Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Syed Abbas Araghchi, AS + Zionis Israel salah tampa dan salah pikir tentang Iran. "Kami berdiri teguh dan bekerja untuk tujuan dan kepentingan negara dan bangsa kami. Dan kami tidak ragu-ragu untuk mengorbankan nyawa kami untuk itu jika perlu," ujarnya dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Trump membayangkan Iran seperti Venezuela, begitu berhasil menculik Presiden Venezuela Maduro dan Cilia Flores, istrinya, maka rezim pemerintahan bisa dikuasai. Mereka keliru. Bahkan perlawanan Iran mencengangkan dunia.

Bayangkan, negara yang dikucilkan selama lebih empat dekade oleh dunia, termasuk embargo ekonomi, mampu melakukan perlawanan dahsyat. Merontokkan sistem pertahanan udara -- iron dome -- Israel yang selama ini dibanggakan.

Inkonsistensi AS dan Zionis Israel

Meski belum seperti Gaza yang dilantakkan Zionis Israel, Iran berhasil melantakkan ruang-ruang utama ibukota Tel Aviv dan beberapa kota lainnya di negara Zionis Israel. Iran juga berhasil melantakkan pangkalan militer AS di Teluk Persia yang selama ini menjadi simpul jejaring pelindung bagi Israel.

Di balik senyumnya yang 'menyejukan hati' Menlu Iran Araghchi menyatakan, "Ketika Amerika Serikat menyerang kami, angkatan bersenjata kami, rudal kami, dan drone kami tidak dapat mencapai wilayah AS. Oleh karena itu, kami mau tidak mau terpaksa merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan ini dan menyerang aset militer AS di kawasan ini.... Sayangnya, aset-aset ini tersebar di seluruh kawasan dan di wilayah negara-negara sahabat kami. Inilah sifat perang ini."

Kendati demikian, meski sejumlah pemimpin Iran gugur dalam pertempuran dan beberapa ruang-ruang strategis Iran di Teheran dan Isfahan menjadi sasaran serangan AS dan Zionis Israel, Iran berhasil memenangkan perang yang banyak menghadirkan 'kejutan' ini.

Trump yang berulang kali mengancam dan menekan Iran, belum sanggup mengalahkan keteguhan para pemimpin Iran. Berbagai klaim 'kemenangan' yang dikemukakan Trump ternyata hanya retorika propaganda kosong, bagai gelembung-gelembung ilusi dan fantasi.

Belakangan, Trump mengajukan usul genjatan senjata. Pakistan mengambil peran sebagai fasilitator dan mediator. Tapi, sikap Iran tetap: meragukan AS, apalagi Zionis Israel. Menlu Abbas Araghchi -- yang menjadi idola masyarakat dunia -- membawa ketegasan sikap itu ketika melangkah lagi di jalur diplomasi yang digelar Pakistan.

Muhammad Marandi, Guru Besar di Universitas Tehran yang pernah menjadi bagian dari tim perunding Iran soal nuklir dalam salah satu siniar mengemukakan, sikap Iran yang menerima jalan diplomasi -- setelah 10 tuntutannya, konon diterima dan disetujui Trump -- telah menurunkan situasi menjadi lebih tenang.

Tapi, lagi-lagi Zionis Israel mengabaikan persetujuan AS. Rabu (8/4/26) mereka serang Lebanon. Lantas Trump dan Netanyahu berkilah, ihwal Lebanon tak termasuk dalam kesepakatan menuju genjatan senjata.

Tentu, Iran tak membiarkan kebiadaban Zionis Israel yang melakukan pengeboman besar-besaran di berbagai kota Lebanon dan melanggar perjanjian gencatan senjata. Iran spontan dan kontan mengambil keputusan strategis : menutup kembali Selat Hormuz -- yang bakal berdampak mengguncang perekonomian dunia. Pun, membuat Trump bakal diamuk politisi dan rakyat AS. Iran juga mengirim rudalnya ke wilayah Israel.

Jalan Buntu Diplomasi

Marandi mengemukakan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah mengatakan dengan sangat jelas dan bahkan mencuit di akun sosial media X-nya, Lebanon adalah bagian dari gencatan senjata. Keputusan Iran kembali menutup Selat Hormuz dan menembakkan rudalnya ke Israel, karena rezim Zionis Israel terus melakukan pembantaian dan hanya menargetkan orang-orang biasa.

Jadi, kata Marandi, situasi yang dipantik rezim Zionis Israel tidak jelas ke mana arahnya, mungkin akan berlanjut dan Iran harus melihat apa yang akan dilakukan AS.

Dalam pandangan Marandi, sikap inkonsisten AS dan Zionis Israel, bisa jadi bakal mengingkari pernyataan terbuka dan lisan Trump, menerima 10 tuntutan Iran. Sebagai 'kekaisaran' yang sangat arogan, sangat sulit untuk membayangkan AS menyerah dan menerima hak-hak suatu bangsa.

Secara pribadi, Marandi menyatakan, "Kita akan kembali berperang, tetapi itu akan sulit bagi AS karena sejumlah alasan. Salah satunya adalah ada banyak tekanan internal di AS. Itulah sebabnya mengapa Trump menerima ini sejak awal."

Apalagi tekanan dari luar kian berat. Sejumlah sekutu AS, khasnya di lingkungan Uni Eropa dan dunia internasional melakukan tekanan terhadap Trump. Perdana Menteri Italia Giorgia Miloni sudah merutuk Trump dan bakal terbang ke Tehran melakukan negosiasi dengan Iran.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez melangkah lebih jauh, bakal membuka Kedutaan Besar di Teheran dan menarik pulang serta menutup kedutaannya di Tel Aviv. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga sudah suntuk dan tak mau membela Trump dan menyatakan, perang ini dipicu Trump dan anak semangnya, Netanyahu.

Beranjak dari berbagai pandangan yang mengemuka selama ini dan melihat situasi mutakhir, boleh dikata jalan diplomasi ketiga -- untuk gencatan senjata dua pekan sebagai langkah mengakhiri perang --, agaknya bakal seperti jalan diplomasi sebelum-sebelumnya. Buntu !

Perang total habis-habisan bakal terjadi. Iran -- meski belum sepenuhnya unggul dalam pertempuran -- dengan strategi 'buying time' telah memenangkan peperangan ini. Di bawah kepemimpinan Ayatollah Sayed Mojtaba Hosseini Khamenei, Presiden Masoud Pezeshkian, para pemimpinnya yang berintegritas mengemuka jelas jpaduan keteguhan teologis, ideologis, nasionalisme, yang ditopang oleh dukungan rakyat. Selain itu, diperkuat strategi jitu yang tak terbayangkan sebelumnya, serta simpati dan empati masyarakat internasional, kian membuat Iran kian tangguh dan cerdik.

Apalagi, Iran sudah memprediksi dan menyiapkan diri menghadapi perang ini selama dua dekade. AS tak lagi bisa semena-mena dan mengklaim diri sebagai super power. | jeahan

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
25 Feb 26, 18:17 WIB | Dilihat : 465
Kata Mat Sabu Stok Beras Cukup
06 Feb 26, 10:04 WIB | Dilihat : 618
Optimistis Iklim Bisnis Lebih Baik
05 Feb 26, 08:53 WIB | Dilihat : 536
Kabayanomic Menghadapi Badai Ekonomi
Selanjutnya
Sporta