
Vox Populi, Vox Dei... Suara rakyat adalah suara Tuhan.
Demikian suatu ungkapan yang pernah begitu populer. Karena kebenaran yang hakiki datangnya dari Tuhan Allah SWT. Dan rakyat yang begitu banyak, apabila mengeluarkan satu suara, dipercaya itu sebagai suatu kebenaran yang tentunya datang dari Allah SWT.
Perkembangan keadaan sekarang telah menggoyahkan ungkapan Vox Populi, Vox Dei, karena suara rakyat sekarang belum tentu suara Tuhan. Suara rakyat kini dapat dengan mudahnya direkayasa oleh kalangan yang berkuasa dan menguasai media informasi seperti koran, majalah, televisi dan lain-lain.
Bahkan dengan mudahnya ratusan bahkan ribuan orang dapat dikumpulkan di suatu lapangan, meskipun itu bukan untuk menonton pertandingan sepakbola yang amat digemari, tapi hanya untuk mendengarkan pidato pejabat yang tak ada isinya.
Tangan-tangan kekuasaan telah jauh merambah kehidupan rakyat.
Bagaimana mungkin orang segitu banyak dapat digiring kesuatu lapangan untuk mendengarkan pidato-pidato ini. Gejala yang meresahkan kini tengah berkembang dengan pesatnya.

Hambatan dan Pergeseran
Satu generasi sudah terbentuk dengan pola hidup dan pandangan yang menisbikan hakikat manusia. Berbagai cara akan ditempuh agar cepat kaya kemudian masuk kedalam lingkaran yang diperhitungkan, bahkan ke lingkungan kekuasaan.
Setelah berkuasa, dengan mudahnya pendapat masyarakat dapat dibentuk, apalagi dengan menguasai media informasi. Maka tidaklah berlebihan bila Soren Aabye Kierkegaard, seorang filsuf Denmark yang terkenal mengatakan: “ Sesungguhnya, kalau pers ingin menggantungkan papan nama seperti halnya perusahaanperusahaan lainnya, maka yang seharusnya ditulis ialah: Disinilah manusia didemoralisasikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dalam jumlah yang sebesar-besarnya, dengan harga yang semurah-murahnya.”
Hakikat pendidikan - yang adalah menumbuhkan pemikiran, sikap dan tindakan yang kritis demi terwujud dan berkembangnya nilai-nilai budaya bangsa untuk membuat setiap manusia sadar, dan dengan kesadarannya dapat melibatkan diri dalam persoalan moral dan budaya bangsanya - telah mengalami pendangkalan.
Sistem pembinaan mahasiswa telah mengalami hambatan dan pergeseran. Perguruan tinggi sebagai tempat pembibitan kaum intelektual telah jauh terseret menjadi organ aparat yang berwenang. Mahasiswa kini tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk belajar berorganisasi, mengatur kehidupannya sendiri dalam rangka pembentukan idealisme dan proses pendewasaan diri. Tri Dharma Perguruan Tinggi : Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian masyarakat, telah mengalami penyusutan.
Mahasiswa tidak dapat lagi menjalankan fungsi pengabdian masyarakat nya, karena dikuatirkan hanya melaksanakan peran oposisi. Meski mengangkat masalah- masalah praktek ketidak-adilan di masyarakat dianggap sebagai suatu upaya pengabdian masyarakat, mahasiswa telah diasingkan dari persoalan masyarakatnya.

Pembinaan Model Haji Agus Salim
Pendidikan sudah disempitkan artinya sedemikian rupa, hanya sekedar pengajaran bahkan latihan, yang segalanya dilakukan dengan secara formal. Pesertanya semata-mata hanya untuk memenuhi Curriculum Vitae nya atau sekedar mengumpulkan sertifikat yang menjadi simbol-simbol tak bermakna.
Selama ini kita telah terjebak pada status simbol. Banyak orang mengejar sekedar gelar tanpa mendalami proses yang menghasilkannya. Pembinaan model ini hanya menghasilkan pemimpin karbitan, yang hanya menyandarkan diri pada jaringan koneksi, simbol-simbol dan jabatan. Setelah mengakhiri masa jabatannya akan mengalami post power syndrome. Bukan ini yang dibutuhkan oleh bangsa kita!
Melihat kenyataan inilah, maka pembinaan model Haji Agus Salim, yang telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter, sebut saja: Mohamad Roem, Moh. Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Kasman Singodimedjo, Prawoto Mangkusasmito dan lain lain.
Dengan cara berbincang-bincang, diskusi mengenai situasi politik dan persoalan bangsa, terjadi pengluasan wawasan yang tanpa menumbuhkan kultus individu terhadap Hadji Agus Salim, tapi terbatas pada rasa hormat yang pada tempatnya.
Dengan pola pemerintahan yang seperti masa kini, memang model pembinaan seperti itu jauh dari kesempatan untuk mendapatkan kedudukan formal didalam pemerintahan, tapi hasil pembinaan seperti ini cukup menjadikannya orang yang terhormat dan dapat berperan untuk memajukan masyarakatnya. |
Penulis adalah Wakil Presiden Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam - Pusat,
aktivis anti korupsi sejak di kuliah di Teknik Kimia ITB. Lulusan
Master in Public Administration, John F. Kennedy School of Government,
Harvard University ini salah seorang cucu Haji Agus Salim.