Ciptakan Lagi Damai di Batam

Jadikan Teratai dan Tuah Sakti Penyemai Damai

| dilihat 2622

APA Boleh dikata: Rabu (19/11) menjadi hari yang tak mengggembirakan seluruh warga di dalam dan sekitar Barat Teratai – Brimob, di Tembesi – Batam – Kepulauan Riau. Markas satuan khas kepolisian itu dihambur peluru oleh sejumlah oknum tentara, yang diakui Komandan Resort Militer (Danrem) 033 Wira Pratama, berasal dari Batalyon Infanteri (Yonif) 134 – Tuah Sakti.

Pasalnya? Lirik-lirikan dua oknum anggota Yonif Tuah Sakti dengan Oknum Brimob Barak Teratai, ketika hendak mengisi bahan bakar minyak. Seperti diberitakan berbagai media, Menurun Danrem 033 Wira Pratama, peristiwa bermula oleh emosi darah muda.

“Hanya karena lirik-lirikan mereka sampai emosi. Sekarang situasi sudah aman. Kita sudah mengendalikan semua situasi," ungkap Danrem Brig. Jend TNI Eko Margiono.

Ada persoalan psikologis agaknya. Prajurit-prajurit belia yang masih perlu aktualisasi diri dan mudah terkena sindroma eksistensialismus, memang mudah terpancing emosi.

Luapan emosi dan luahan kemarahan hanya karena persoalan sepele, bisa disebabkan banyak hal. Mulai dari persoalan sangat elementer terkait dengan situasi lingkungan di dalam pribadi, sampai lingkungan di lingkungan pribadi.

Pola latihan batalyon infantri yang keras dan berorientasi perang dengan spirit esprit de corps yang terus menerus dipompa secara penetratif hipodermis, dalam situasi bioritme sedang turun memerlukan ruang katarsis.  Ketika tak terpenuhi, akan meledak dengan sendirinya.

Boleh diduga, persoalannya bukan bermula dari lirik-lirikan di pompa bensin, tapi karena ada persoalan lain di balik ‘lirik-lirikan’ itu.

Batam sebagai pulau yang tak terlalu besar sangat memberi ruang interaksi bagi siapa saja, termasuk oknum anggota Yonif 134 Tuah Sakti dan oknum anggota Brimob Barak Teratai. Dalam proses interaksi itu, potensi friksi bisa terjadi.

Dalam konteks ini, sesanti yang menjadi ‘tuah sakti’ Yonif 134 Tuah Sakti: Setia, Disiplin, Gagah Berani mesti dilengkapi dengan sesanti baru – sebagai refleksi human paradigm – seperti yang sedang berlaku di Kopassus TNI AD. Yakni : senyum, sapa, salaman.

Human paradigm diperlukan dalam situasi damai, ketika perang dihindari, tapi proxy war berlaku dan sangat tajam menoreh kesadaran nalar dan naluri. Baik melalui media sosial maupun melalui aneka tayangan dan publikasi media yang tak kini nyaris tanpa seleksi.

Friksi dan konflik yang sedang dialami oleh Yonif 134 Tuah Sakti dan Yon Brimob Barak Teratai, jangan dianggap sepele, dan penyelesaiannya harus dilakukan secara fundamental dan mendasar. Antara lain melalui program-program community responsibility dalam bentuk program bersama.

Dan Rem dan Kapolres serta para komandan sampai ke level prajurit, perlu merencanakan program interaksi sosial kolektif, untuk saling berkomunikasi dengan baik. Seluruh prajurit Yonif 134 Tuah Sakti (dan kesatuan militer lainnya) yang bertugas menjamin pertahanan dan Anggota Brimob Barak Teratai yang bertugas menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat di Batam, perlu mendapat ruang katarsis dan ventilasi sosial yang memungkinkan mereka saling kuat menguatkan satu dengan lainnya.

Dan, media perlu mengendalikan dirinya untuk lebih selektif menyeleksi akurasi informasi untuk meredakan ketegangan. Termasuk mengambil inisiatif memfasilitasi silaturahim. Ketika konflik berlangsung, yang harus dilakukan, bukan mencari alasan pembenaran. Melainkan mencari cara agar peristiwa yang sudah terjadi, tak berulang lagi di kemudian hari..

Ambil sekuntum bunga teratai, sampaikan dengan tuah nan sakti, insha Allah damai tersemai di Batam |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : [ilustrasi dari foto istimewa tersiar]