Pohon Ara Cegah Erosi Banyak Khasiat

Peringati Hari Air se Dunia Gubernur Anies Tanam Pohon Ara

| dilihat 323

mpok nur padamkan bara

air disebor sangatlah tepat

gubernur anies bertanam ara

pokok kan rindang banyak manfaat

 

Senin (22 Maret 2021), Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan menanam pohon ara atau pohon loa (ficus rasemosa) di Taman Maju Bersama (TMB) Gintung, bantaran Sungai Ciliwung, Pangkalan Pakis, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Anies melakukan hal itu terkait dengan peringatan Hari Air Sedunia, yang digelar bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Ciliwung Institute dan warga tempatan.

Pohon Ara atau dikenal juga sebagai pohon loa, merupakan jenis pohon tropis, yang mampu tumbuh dan berkembang hingga setinggi 50 meter dengan diameter batang sampai 10 meter.

Pohon ini terbilang pohon khas dengan buah berbentuk bulat, sebesar butiran bakso rata-rata, yang bergantungan secara berkelompok memenuhi batang pohon dan dahannya. Akar pohon ini mampu mengikat tanah, sehingga memperkuat ekosistem sungai, sehingga sungai dapat terhindar dari erosi. Selain itu, kanopinya yang khas sebagai pohon hutan hujan tropis, melindungi aneka ragam tanaman herbal yang tumbuh di bawahnya.

Penanaman pohon ara atau loa ini, juga dimaksudkan sebagai bagian dari upaya naturalisasi sungai Ciliwung, yang ketika masa kejayaan Pakuan Padjadjaran, bantarannya ditanami pohon kayu, sesuai dengan tradisi, seperti tersimpan dalam pedoman hidup sanghyang siksa kandang ing karesian, termasuk dharma pitutur tentang kebolehan dan ketidakbolehan dalam berperilaku. Termasuk larangan buang air besar di sungai.

Ketika memberikan sambutan dalam kesempatan itu, Gubernur Anies mengemukakan, proses perjalanan hidup manusia mengalami perubahan paradigma.

Dulu, manusia selalu bisa menaklukan alam dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Kini, kata Anies, akibat perubahan alam yang luar biasa, ditambah dengan kerusakan alam manusia harus beradaptasi ulang dengan alam.

“Sekarang kita harus secara serius mencari cara untuk bisa menyesuaikan dengan kehidupan alam itu. Jadi saat kita bicara naturalisasi, maka bagaimana kita hidup bersama dengan siklus alam," jelasnya.

Anies mencontohkan, sungai yang memiliki pasang dan surut, sehingga kita harus membangun dengan mengikuti siklus tersebut.

Anies menyebut keberadaan TMB Gintung sebagai taman di tepian Kali Ciliwung lengkap dengan keanekaragaman hayati (hewan dan tumbuhan) yang dibangun berkolaborasi dengan warga dan komunitas.

TMB ini, menurut Anies, berfungsi sebagai pangkalan air dimana saat musim penghujan sebagian besar areanya akan terendam dan membuat aliran sungai terkontrol, menjadi tempar 'parkir air.' Sedangkan saat musim kemarau akan surut, dan dapat dimanfaatkan warga dari mulai berkebun hingga melakukan kegiatan berkarib dengan alam.

TMB, kata Anies, menjadi ruang kolaborasi dan cara bagaimana memanfaatkannya saat air surut maupun saat air pasang.  

"Kami ingin kolaborasi ini dikembangkan, sehingga lebih banyak lagi kegiatan warga yang melestarikan alam dengan didukung pemerintah yang hadir untuk memastikan bahwa alam terjaga dengan baik,” jelas Anies.

Di sisi lain, dari aspek budaya, keberadaan TMB Gintung ini juga merupakan bagian dari upaya merawat tradisi warga Jakarta yang telah lama bersahabat dengan Kali Ciliwung, dimana konsep pasang dan surut sungai sudah dikenal sejak kota Jakarta terbentuk.

“Tradisi itu (merupakan) akumulasi wisdom (kearifan) lintas zaman, dan ini punya nilai hikmah yg sudah diuji lewat waktu. Seperti halnya Ciliwung yang menjadi pusat kehidupan karena ada air. Jadi tempat ini memiliki sejarah amat panjang dan di sini ada wisdom lintas generasi yang harus dikembangkan," jelas Anies.

Dia juga mengemukakan, "Bila di Jakarta kita bisa bangun ini, maka akan jadi contoh, bukan hanya di indonesia tetapi juga dunia,” ungkap Gubernur.

Ihwal Pohon Ara

Pohon Ara yang juga karib disebut pohon loa yang secara botani diklasifikasikan sebagai ficus rasemosa dalam keluarga Moraceae, merupakan pohon dengan buah lebat ranum yang memenuhi batang dan dahan.

Wilayah asli varietas ini sangat luas, mencakup seluruh Asia, Asia Tenggara sampai ke Australia, sehingga memiliki banyak nama. Selain bernama 'pokok ara' yang sering menghiasi ayat-ayat dalam pantun, dan loa, pohon ini juga dikenal dengan nama pohon buah  Gular, Atti, Lo, dan Elok.

Di beberapa negara, seperti di India, pohon ini biasa ditanam di taman, taman rumah, dan kuil. Di luar makam raja-raja Melayu, di luar makam begawan Gurindam XII - Raja Ali Haji, di Pulau Penyengat, pohon-pohon Ara juga tumbuh lebat.

Pohon  ini juga menjadi salah satu pohon di hutan hujan tropis  Semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, Sumatera, Jawa, Madura, Christmas Island, Pulau Simulue, yang menjadi tempat burung hinggap dan bahkan bersarang.

Di kluster India, Pakistan dan Iran, juga dalam tradisi masyarakat Melayu, pohon dengan buahnya yang manis, tumbuh dengan cepat dan liar. Kemudian masyarakat tradisional menanam secara terbatas untuk memanfaatkan buhnya yang berhasiat sebagai herbalium (obat-obatan).  

Lingkaran buah ara atau loa ini, rata-rata berdiameter 2 hingga 5 sentimeter, dan berbentuk bulat, hingga berbentuk piri. Buah-buahan terbentuk dalam kelompok hingga 20 buah dan tumbuh langsung dari batang dan dahan pohon.

Separa kulitnya licin, lembut, warnanya dari mentah hingga masak berubah dari hijau ke warna oranye, merah-coklat, dan merah tua. Di bawah permukaan kulitnya, daging buahnya lembut, melekit, berwarna kuning pucat hingga putih, merangkumi rongga pusat yang dipenuhi dengan biji kecil seperti biji-bijian yang memberikan rasa renyah.

Di negara-negara empat musim, buahnya mulai tampak antara musim semi hingga awal musim panas. Buah ara ini, akan sangat bermanfaat bagi warga sekitar, karena mengandung kalium. Berbagai referensi tentang buah Ara menunjukkan ragam khasiat.

Buah Ara merupakan sumber serat yang sangat baik untuk mengatur saluran pencernaan dan tinggi kalsium untuk menguatkan tulang. Juga merupakan sumber kalium yang baik untuk menyeimbangkan kadar cairan dalam tubuh, riboflavin untuk menghasilkan tenaga, dan zat besi untuk memenuhi protein hemoglobin untuk menyalurkan oksigen dalam darah. Buah Ara juga dimanfaatkan sebagai bahan anti-radang, pembersih, dan pembersih darah, seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Ayurveda, India. | javier

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1936
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2302
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 320
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 171
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 168
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya