Mencari Air Mata

| dilihat 3674

AKARPADINEWS.COM | SETIAP bayi yang baru lahir, selalu menangis. Mata kedua orang tuanya pun berkaca-kaca lantaran bahagia saat melihat bayinya lahir dalam kondisi sempurna. Begitulah manusia. Menangis tatkala merasakan sakit maupun bahagia. Menangis menjadi cara manusia mengekspresikan emosinya.

Air mata diproduksi untuk menggungkapkan perasaan. Menangis juga menjadi cara untuk mengurangi stres yang dialaminya. Karena itu pula, para terapis dan psikolog, menstimulus pasiennya untuk mengungkapkan emosinya melalui menangis. Karenanya, menangis juga baik bagi kesehatan.

Menurut sebagian khalayak, perempuan yang lebih emosional daripada laki-laki, lebih mudah meneteskan air mata, lalu mengekspresikan emosinya dengan menangis. Perempuan demikian kadang dianggap tidak memiliki karakter yang kuat tatkala menghadapi tekanan.

Namun, menangis sebenarnya sangat baik untuk kesehatan. Karena, jika menahan perasaan, maka dapat menyebabkan stres, memberikan dampak negatif bagi kesehatan seseorang.

Masyarakat di beberapa negara maju, mulai menggunakan terapi menangis sebagai media penyembuhan dari stres dan melegakan emosi. Di Jepang misalnya, menangis dijadikan momen melegakan dirinya.

Masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat yang tak suka memperlihatkan emosi berlebihan. Konfrontasi langsung atau debat terbuka menjadi fenomena yang sangat jarang terjadi. Sampai-sampai, sebuah survei menunjukan sebanyak 24,9 persen dari 405 karyawan pria dan wanita yang disurvei, setidaknya pernah sekali bersembunyi di kamar kecil untuk menangis.

Karena memberikan manfaat bagi kesehatan, layanan dan kegiatan yang terkait dengan menangis pun menjadi populer di Jepang. Muncul fenomena sosial baru di masyakarakat Jepang, yaitu rui-katsu (mencari air mata).

Rui-katsu adalah kegiatan, di mana partisipan berkumpul dan menonton film sedih seperti film dokumenter gempa dahsyat di Jepang tahun 2011. Lalu, mereka menangis bersama setelah melihat film tersebut.

Kegiatan itu pertama kali diadakan Yuka Muroi, seorang konselor berusia 31 tahun yang juga ahli dalam penanganan terapi bagi pasangan yang sedang bermasalah. Ia mendapatkan ide rui-katsu ketika melihat pasangan yang bercerai. Lalu, ia melihat tangisan pasangan itu saat prosesi perceraian.

Sejak itulah, Yuka mendapatkan pencerahan, dalam sebuah air mata maupun tangisan, terdapat kekuatan jiwa atau emosi. Menurutnya, kebanyakan yang ikut kegiatan adalah pria dan wanita, yang sebagian besar pekerja kantoran.

Di sana, masalah tentang pasangan maupun beban hidup diekspresikan. Mereka merasa lebih baik setelah mengikuti kegiatan tersebut, dan akan kembali ke kegiatan sehari-hari dengan kondisi mental yang sudah siap serta masalah yang sudah tercurahkan.

Rui katsu juga dilakukan dengan cara mendatangkan para tenaga ahli terapis menangis, yang disediakan oleh perusahaan. Para ahli terapis itu sengaja didatangkan ke ke kantor untuk mengadakan sesi menangis bersama. Tidak hanya di kantor, Hotel Mitsui Garden Yotsuya di Shinjuku, Tokyo, membuka layanan "kamar menangis" yang dilengkapi dengan koleksi film-film sedih, disertai persediaan tisu.

Air mata yang kita keluarkan saat menangis rupanya tidak hanya mampu menjadi terapi emosional. Namun, juga berfungsi untuk kesehatan tubuh dan pikiran. Air mata juga berfungsi membersihkan dan melumasi mata, yang menyebabkan iritasi mata. 

Air mata emosional memiliki komposisi kimia yang berbeda dari air mata iritasi. Air mata alami dapat membantu penglihatan seseorang, mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur. Air mata berfungsi sebagai antibakteri alami. Di dalam air mata, terkandung cairan yang disebut lisozom yang dapat membunuh sekitar 90-95 persen bakteri di mata.

Seorang ahli biokimia, William Frey telah melakukan beberapa studi tentang air mata dan menyimpulkan, air mata yang keluar dari menangis karena emosi, ternyata mengandung racun. Keluarnya air mata beracun itu menandakan, ia membawa racun dari dalam tubuh manusia dan mengeluarkannya lewat mata.

Durasi air mata pada manusia juga berbeda. Bagi bayi, durasi normal menangis antara 1-3 jam sehari. Sedangkan Sebagian besar orang dewas menghabiskan waktu rata-rata 6 menit setiap kali menangis.  Jika wanita dianggap lebih mudah menangis, menurut faktanya, memang benar, rata-rata, wanita menangis sebanyak 47 kali dalam setahun. Sedangkan pria menangis hanya tujuh kali dalam setahun. Itu karena fakta medis  menunjukan saluran air mata laki-laki memiliki ukuran yang lebih kecil, dibandingkan wanita.

Tetapi, yang terpenting adalah air mata menjadi obat ampuh untuk memulihkan manusia dari efek stres. Jika dibiarkan, stres dampak mempengarui kesehatan tubu, bahkan dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan kerusakan otak.

Dari berbagai hasil penelitian, air mata diketahui mengandung hormon prolaktin yang efektif melawan stres. Menangis juga dapat menurunkan tekanan darah dan denyut jantung. Karenanya, menangislah karena bisa membuat sehat, menghilangkan stres.

Menangis tidak hanya respon tubuh terhadap kesedihan dan rasa frustasi, tetapi menjadi kebutuhan untuk menjaga kesehatan. Jadi, jangan merasa ragu dan malu untuk mengeluarkan air mata. Menangis adalah ekspresi emosi sekaligus penyembuhan. Maka, menangislah!

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Telegraph/Japan Culture Daisuki
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 284
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 232
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 175
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 249
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Polhukam
24 Sep 21, 09:17 WIB | Dilihat : 143
Pembangkang dalam Pusaran Transformasi Politik Malaysia
19 Sep 21, 16:48 WIB | Dilihat : 214
Cermin Buram Kekuasaan dan Luka Rakyat
31 Agt 21, 21:38 WIB | Dilihat : 199
Milisi Houthi Serang Lagi Bandara Abha Saudi
29 Agt 21, 17:01 WIB | Dilihat : 144
Taliban Hadapi Tantangan Baru
Selanjutnya