
MALAM bergulir menemui'melintasi' pergntian hari baru, Ahad (30/11) pagi pun mulai di Kota Kinabalu, Ibu Kota Negeri Sabah, Malaysia yang berbatasan darat dan laut dengan Indonesia.
Di balairung Istana Seri Kinabalu, selama lima belas menit (03.00 - 03.15 waktu setempat), Hajiji Noor mengangkat sumpah sebagai Ketua Menteri Negeri Sabah ke 17 di hadapan Yang Dipertua Negeri Sabah, Tun Musa Aman. Ia melanjutkan periode kedua kepemimpinannya di Negeri Sabah.
Ketua Parti Gabungan Rakyat Sabah (GRS), anggota Majelis Negara Sulaman, itu dan beberapa pengurus GRS dan beberapa petinggi partai, antara lain Datuk Ewon Benedick dan Datuk Seri Wilfred Madius Tangau (Parti UPKO) dan sejumlah politisi dari dan independen (bebas) yang yang berkoalisi untuk membentuk pemerintahan. Mereka sudah terlihat di Istana Seri sejak pukul 01.20 dinihari.
Hajiji kembali dilantik sebagai Ketua Menteri, setelah Barisan Nasional (BN) yang meraih 6 kursi, Bebas 5 kursi, Parti UPKO 5 kursi, Pakatan Harapan (PH) pimpinan Anwar Ibrahim 1 kursi. Diduga, Hajiji memperoleh dukungan lebih dari melampaui 'mayoritas mudah' (37 kursi), meski belum diyakini melampaui mayoritas 2/3 kursi DUN.
Pada Pilihan Raya Negeri Sabah ke 17 yang berlangsung beberapa jam sebelumnya, GRS hanya melampaui 4 kursi katimbang Parti Warisan Sabah pimpinan Datuk Seri Mohd Shafie Apdal yang meraih kursi 25 kursi, sekaligus memperoleh suara mayoritas tertinggi (10.046 suara yang diraih Jamin bin Hamzah di daerah pemilihan Bugaya.
Ketika Hajiji dilantik dan angkat sumpah, Apdal sedang tidur nyenyak di kediamannya. Ia membantah bertemu dengan sejumlah petinggi partai yang berlaga di PRN Sabah 17.
Kepada wartawan, Ahad siang, Shafie Apdal mengatakan, malam selepas pengumuman resmi SPRM (Suruhanjaya Pilihan Raya Malaysia - di Indonesia: Komisi Pemilihan Umum) dia tidur, karena terlalu lelah berkampanye selama berhari-hari sebelumnya.
Bilakah ia akan bertemu petinggi dan politisi lain? "Kami akan bertemu di DUN." Ia bersumpah demi Tuhan untuk menegaskan dirinya tidak dan belum berjumpa petinggi parti politik manapun.

Politik Uang
Kala wartawan bertanya ihwal kemungkinan partainya berkolaborasi dengan partai-partai lokal, bukan berarti GRS, Shafie Apdal mengatakan, partainya (Warisan) mengatakan fokus Warisan adalebih memusatkan perhatian pada kepentingan rakyat Sabah, bukan sekadar membentuk koalisi politik.
Shafie Apdal yang pernah menjabat sebagai Ketua Menteri Negeri Sabah (12 May 2018 – 29 September 2020), setelah Musa Aman dan sebelum Hajiji berulang-ulang menyatakan, "Warisan jelas menjunjung tinggi aspirasi rakyat Sabah secara keseluruhan. Ini bukan suara perbedaan dari dua partai, melainkan kehendak rakyat Sabah."
Sambil 'mengenang' pengalamannya, lugas dia mengatakan, politik Sabah tidak akan pernah stabil ketika koalisi dibentuk berdasarkan kepentingan sempit atau "memenuhi kuota kekuasaan" belaka. Menurutnya, pemerintahan GRS bersama BN tidak bertahan lama.
Dia mengajukan pertanyaan kepada wartawan, "Apakah menurut Anda ini akan bertahan selama lima tahun?" Ia mengingatkan, pada politik ptaktis sekadar 'memenuhi kuota kekuasaan,' akan ada pihak-pihak yang hanya mengincar jabatan, proyek, dan uang.
Menjawab berbagai pertanyaan wartawan Shafie Apdal kembali mengemukakan, perjuangan Warisan yang sesungguhnya adalah menyatukan rakyat dan memastikan suara Sabah didengar secara nasional, bukan hanya berusaha untuk berkuasa.
"Kita menyatukan rakyat Sabah. Itulah tujuan saya. Suara kita seharusnya tidak hanya didengar di Sabah, tetapi harus bergema di seluruh negeri," ujarnya.
Sebagai Presiden Parti Warisan, Shafie Apdal berterima kasih atas dukungan luar biasa dari para pemilih warga keturunan China yang menunjukkan penolakan mereka terhadap politik uang dan menjunjung tinggi nilai integritas dalam kepemimpinan. Dalam PRN Sabah 17 disinyalir berlangsung politik pragmatis dan transaksional.

Hanya Satu Kursi
Pada PRN 17 kali ini, lagi, rakyat Sabah 'memukul telak' Pakatan Harapan (PH) yang sedang memerintah dalam pemerintahan Madani pimpinan Anwar Ibrahim. PMX Malaysia tersebut terjun langsung ke Sabah untuk memenangkan PH dengan sesumbar ihwal keberhasilan pemerintahannya.
Anwar Ibrahim juga 'bengak bengok' kampanye dengan gayanya yang angkat diri tinggi-tinggi dan hantam lawan politik keras-keras. Tapi, rakyat Sabah hanya memberinya 1 kursi saja. Sama hasilnya dengan pembangkang Perikatan Nasional (PN) yang hanya beroleh 1 kursi, meski Ketua PN Muhyiddin Yassin - PM VIII Malaysia turun kampanye bersama Annuar Musa dan kawan-kawan.
PH -- yang selama ini dimotori DAP (Democratic Action Party) -- terkejut dan tak menyangka, koalisi partai-partai (DAP pimpinan Lim Guan Eng, Parti Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Anwar Ibrahim, Parti Amanah Nasional pimpinan Mat Sabu) penguasa, itu tak mendapat dukungan dari rakyat.
PH kehilangan dukungan besar dari pemilih garis keras keturunan China. Realitas politik di Sabah, itu membuat PH mesti mengatur ulang strategi dalam menghadapi Pilihan Raya Umum (PRU) ke 16 mendatang.
Pada PRU 15, PH diselamatkan oleh DAP yang memperoleh kursi terbanyak dalam koalisinya, sedangkan PKR mengalami penurunan, bahkan Nurul Izzah - puteri Anwar Ibrahim, tak mampu memperoleh suara di daerah pemilihan 'keluarga'-nya, Permatang Pauh.
Untuk PRN Sabah 17, ini Nurul Izzah dan Saifuddin Nasution memikul tanggung jawab memenangkan calon PKR. Belum lagi, pada PRN Sabah 17 ini, parti Amanah dan DAP mengalami zonk. Tak beroleh kursi.

Kubangan Nestapa
Ketua PKR Sabah, Datuk Mustapha Sakmud, mengatakan kepada wartawan, kinerja koalisi (PH) saat ini sungguh teruk (terpuruk) dalam menghadapi perubahan pola dukungan pemilih keturunan China. Perlu dievaluasi.
Karenanya dengan modal 1 (dari 13) kursi, PKR untuk dan atas nama koalisi PH, buru-buru menyatakan dukungan pada pemerintahan Hajiji Noor sebagai Ketua Menteri yang Insya Allah bertahan satu penggal (lima tahun).
PRN Sabah 17 ini juga menjadi kubangan nestapa bagi beberapa politisi nasional dan lokal, yang terpuruk. Mereka adalah Wakil Menteri Perkebunan dan Komoditas, Datuk Chan Foong Hin (PH) - daerah pemilihan Tanjung Aru; Wakil Menteri Luar Negeri Datuk Mohamad Alamin (BN) - Bogawan; Presiden Sabah Love Party (PCS), Tan Sri Anifah Aman (PCS) - Sook.
Ketua Perikatan Nasional (PN) Sabah, Datuk Seri Ronald Kiandee (PN) - Sugut, pun bernasib sama. Demikian pula halnya dengan mantan Speaker (Ketua) Dewan Rakyat, Tan Sri Pandikar Amin Mulia (GRS) - Pintasan; Penyanyi dan aktor terkenal Sabah, Abu Bakar Ellah (KDM) - Kuamut; Presiden Kesejahteraan Masyarakat Demokrat (KDM), Priscella Peter - Melalap; - Presiden Sabah Dream Party (PIS), Michel Alok @ Ilok (PIS) - Telupid;
Ketua DAP Sabah, Phoong Jin Zhe (DAP) - Suka pun teruk. Pun, Presiden Partai Rumpun Sabah Datuk Dr Ismail Idris (Rumpun) - Sebatik; Mantan Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya, Datuk Mohamaddin Ketapi (Independen) - Segama Putra Yang Dipertua Negeri Tun Musa Aman, Datuk Yamani Hafez (PH) - Sindumin; Mantan Ketua Menteri Sabah, Datuk Seri Dr Salleh Said Keruak (BN) - Usukan; dan Wakil Presiden Warisan, Terence Siambun (Warisan) - Moyog. PRN Sabah 17 memperebutkan 73 kursi DUN dengan total 596 kandidat yang berkontestasi.
Pemerintah Madani menyatakan penghormatan penuh atas mandat baru yang diberikan kepada Ketua Menteri Datuk Seri Hajiji Noor untuk pembentukan pemerintahan Sabah setelah PRN 17, ungkap Anwar Ibrahim. Anwar Ibrahim tak bicara ihwal kekalahan teruk PH. | ovie, sharia