Pengelolaan Sampah

Belajarlah dari Pemulung

| dilihat 3040

AKARPADINEWS.COM | SAMPAH menjadi masalah yang kian menumpuk di kota maupun di desa. Pelbagai jenis sampah, baik yang organik hingga anorganik seperti plastik hingga botol bekas yang sulit terurai, sering terlihat berserak di sekitar kita.

Tak hanya menyebabkan lingkungan menjadi buruk rupa. Namun, sampah-sampah itu menjadi sumber tumbuh kembangnya penyakit yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Meski sebenarnya masyarakat sudah tahu dampaknya, tetap saja larangan membuang sampah sembarang dilanggar begitu saja. 

Di Kota Jakarta misalnya. Sampah yang diproduksi penghuninya mencapai hampir 9.000 ton per hari. Dari jumlah yang mencengangkan itu, sekitar 54 persen merupakan sampah organik.

Kota lainnya seperti Depok, Jawa Barat, diperkirakan memproduksi sampah kurang lebih 4.300 ton per hari. Dari perkiraan jumlah itu, sekitar 66 persen merupakan sampah organik. Di Kota Bandung, tumpukan sampah mencemari Sungai Cikapundung. Aliran sungai menjadi tersendat dan merusak pemandangan. 

Dibutuhkan penanganan yang cerdas dalam mengelola dan mengurangi produksi sampah. Gabriela Andari Kristanto PhD, akademisi dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) mengatakan, persoalan sampah di Indonesia utamanya disebabkan cara berpikir masyarakat yang hanya memandang sampah sebagai sisa dari aktivitas manusia.

Karena berurusan dengan sampah, masyarakat umumnya malu mengelolanya. “Masalah sampah ini sulitnya adalah kita malu dan menyembunyikannya. Padahal itu merupakan tanggungjawab yang memproduksinya,” ujarnya dalam Seminar Internasional bertajuk Clean City, Clean People di Pusat Studi Jepang UI, Selasa (17/5).

Padahal, menurutnya, sampah masih memiliki nilai sehingga dapat dimanfaatkan lagi. Untuk dapat mengubah cara berpikir tersebut, perempuan yang karib disapa Andari itu berpandangan, harus dimulai dari hal yang kecil oleh masyarakat seperti melakukan pengelompokan jenis sampah.

Dengan melakukan pengelompokan itu, maka tidak hanya membantu masalah sistem pengolahan sampah namun juga membantu pekerja sektor informal yang pendapatannya bergantung pada sampah daur ulang, seperti pemulung. Karena, ketika sampah yang dapat didaur ulang seperti botol plastik, tidak tercampur dengan sampah organik, maka nilai jual yang dapat diperoleh tidak akan turun.

“Ketika sampah nonorganik yang bisa didaur ulang tercampur dengan sampah organik menyebabkan mereka (pemulung) susah untuk mengaisnya. Pertama mereka harus bertahan di lingkungan yang berbau busuk karena sampah organik sudah terdekomposisi dan kedua sampah nonorganik seperti botol plastik sudah kotor sehingga mereka harus mencucinya agar harga jualnya lebih tinggi,” ungkap Andari.

Pengelolaan sampah harusnya menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun masyarakat. Selama ini, hanya pemulung yang memikirkan sampah, meski sering dianggap profesinya dipandang sebelah mata.

Padahal, menurut Andari, potensi pendapatan dari sampah yang dapat didaur ulang cukup besar. Dia mencontohkan hasil dari pengelolaan sampah daur ulang di FT UI yang berpotensi mencapai Rp15 juta per bulan.

“Uang dari pendapatan itu dapat diberikan kepada mereka yang bekerja di sektor informal soal pengelolaan sampah. Karena mereka memiliki peran penting pula di dalam masyarakat. Dengan begitu, bukan hanya lingkungan kita menjadi jauh lebih baik, tapi juga kita bisa maju bersama sebagai sebuah bangsa,” ujarnya.

Dengan segala keterbatasan keterbatasan itu para pemulung, mereka memegang peranan penting dalam alur sistem pengelolaan sampah. Padahal, tiap harinya, sampah tidak berkurang, justru semakin bertambah.

Banyak dari para pemulung yang memiliki berbagai penyakit dalam tubuhnya yang disebabkan lingkungan bekerjanya. Andari mengatakan, pemulung yang bekerja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang sebanyak 5.000 orang dan sebagian besar di antara mereka sudah terjangkit penyakit dari efek dekomposisi sampah.

“Pemulung yang berpenghasilan seharinya Rp75 ribu itu, menariknya, di paru-parunya sebagian besar, sekitar 98 persen, terdapat kuman TBC. Lalu, di lambungnya, 92 persen, terdapat cacing. Jadi, kalau ditanya mereka berobatnya di mana, mereka akan menjawab akan berobat ke mana?” ungkap Andari. Itulah fakta pahit. Ternyata, ada sosok-sosok penting yang membantu masyarakat terbebas dari penyakit yang ditebar dari sampah, yang sering terlupakan: pemulung dan petugas kebersihan.

Ironisnya, keberadaan mereka disepelekan, dipandang rendah, dan stigma negatif lainnya. Sementara di sisi lain, mereka bekerja menjaga kebersihan dan mengabaikan dirinya dijangkiti penyakit yang menempel di tumpukan sampah yang dipungutnya.

Bahkan, Andari menceritakan, pernah menyaksikan pekerjaan pemulung yang amat berbahaya. Saat dirinya mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang di musim hujan, Andari menyaksikan, sebuah alat berat berada di puncak tumpukan sampah setinggi 30 meter.

Sedangkan di bawahnya, ada pemulung yang tengah mengais sampah-sampah yang memiliki nilai jual. Kondisi itu sangat berbahaya karena kemungkinan alat berat itu menimpa pemulung di bawahnya.

Ketika Andari bertanya kepada pegawai TPA Bantar Gebang terkait kemungkinan pemulung tertimpa alat berat, ternyata jawabannya, sudah sering kejadian itu dan mudah mencari penggantinya (pemulung lain). "Itu menunjukkan, menjadi pemulung juga bertaruh dengan nyawa,” ungkapnya. Dan, begitu rendahnya nyawa dari seorang pemulung.

Indonesia kiranya perlu belajar kepada Jepang seperti pengelolaan sampah di Kota Kamikatsu. Kota kecil yang berada di perfektur Tokushima itu merupakan kota pertama di Jepang yang berhasil menerapkan sistem zero waste pada pengelolaan sampah kotanya.

Akira Sakano, Co Founder dan Direktur Komunikasi Organisasi RDND LLC atau Zero Waste Academy Japan, menjelaskan, pengelolaan sampah dengan konsep zero waste menitikberatkan pada efisiensi pemanfaatan sumber daya alam sehingga tidak meninggalkan sampah. Jadi, konsep pengelolaan sampah zero waste ialah mengusahakan produksi sampah nihil.

Melalui konsep ini, pengelolaan sampah terpusat kepada konsep 3R (reduce, reuse, dan recycle). Penerapan konsep pengurangan sampah ini dilakukan dengan menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa digunakan daripada membuangnya dan melakukan daur ulang terhadap sampah-sampah yang bisa didaur ulang.

Akira menjelaskan, untuk menyukseskan program zero waste tersebut, Pemerintah Kota Kamikatsu menerapkan beberapa program. Pertama, meniadakan program pengambilan sampah keliling. Kedua, mewajibkan warga untuk mengolah sampah organiknya sendiri di rumah dan tidak membuangnya. Ketiga, mewajibkan warga memilah sampah menjadi 34 kategori.

“Karena tidak adanya truk sampah, maka warga membawa sendiri sampah mereka ke tempat pengumpulan sampah yang beroperasi setiap harinya. Lalu, untuk membuat warga mengolah sampah organiknya sendiri maka pemerintah Kamikatsu memberikan alat daur ulang untuk setiap keluarga. "Dan, pemilahan sampah yang kami lakukan itu bertujuan untuk mempermudah proses pengolahan sampah karena pengkategorian itu begitu detil,” jelasnya.

Dengan mencanangkan program tersebut, Kamikatsu tidak hanya berhasil mengolah sampah dengan sangat baik. Namun, program itu mengubah cara berpikir warganya dalam memandang sampah. Masyarakat diajarkan untuk menjadi pemulung yang baik, termasuk menjalani pola hidup yang tidak harus memproduksi sampah.

Selain itu, keterlibatan warga menjadikan warga Kamikatsu menjadi kreatif. Ketika ada barang yang sudah tidak terpakai, namun masih laik untuk digunakan, warga mengumpulkannya dalam satu tempat yang disebut Kuru-kuru Shop. Di tempat ini, warga bebas mengambil barang yang ada dan sebagai gantinya menaruh barang miliknya yang sudah tidak terpakai.

Dengan begitu, di Kamikatsu tidak ada benda yang tidak berguna. Semua barang-barang tak terpakai dapat digunakan lagi oleh orang lain atau didaur ulang sehingga dapat menjadi produk baru. Keterlibatan warga dalam konsep zero waste menjadi faktor utama keberhasilan program tersebut.

Agar dapat membuat warga semangat menjalankan pengumpulan sampah, pemerintah Kamikatsu membuat tempat pembuangan sampah dengan sangat bersih dan menarik. Jadi, setiap warga tidak akan merasa jijik atau malas untuk pergi ke tempat pembuangan sampah.

Bahkan, di Kamikatsu memiliki kafe yang segala interior dan perangkat dapurnya dari barang-barang warga yang tidak terpakai. Keberadaan kafe ini menjadi bukti nyata bahwa barang-barang tak terpakai masih bisa dimanfaatkan dan memiliki fungsi baru.

Keberhasilan Kamikatsu kiranya dapat menginspirasi bagi kota-kota yang ada di Indonesia. Intinya, permasalahan sampah dapat terurai dengan tepat dan cepat jika ada perubahan pola pikir dan perilaku warga terhadap sampah.

Tentu, program itu harus didorong oleh pemerintah. Setidaknya, pemerintah menyadarkan warga akan pentingnya pemilahan sampah secara mendetail agar proses pengolahannya menjadi lebih mudah.

Dan, hal yang tak kalah penting, mengubah cara pandang masyarakat dan harus belajar dari pemulung yang bijak terhadap sampah. Tanpa pemulung, kesehatan warga terancam oleh sampah-sampah yang berserakan di mana-mana. Jadi, janganlah merendahkan profesi pemulung.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Polhukam
24 Sep 21, 09:17 WIB | Dilihat : 143
Pembangkang dalam Pusaran Transformasi Politik Malaysia
19 Sep 21, 16:48 WIB | Dilihat : 214
Cermin Buram Kekuasaan dan Luka Rakyat
31 Agt 21, 21:38 WIB | Dilihat : 199
Milisi Houthi Serang Lagi Bandara Abha Saudi
29 Agt 21, 17:01 WIB | Dilihat : 143
Taliban Hadapi Tantangan Baru
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 284
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 232
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 175
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 249
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya