
KUALA LUMPUR | Suasana hangat, mesra dan karib antara Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah dengan Yang di-Pertuan Agong (Raja) Malaysia, Sultan Ibrahim mengemuka dan terasa di Istana Negara Malaysia, Selasa (26/8/25).
Suasana yang tergambarkan laksana pertemuan dua saudara beradik-kakak tersebut terlihat ketika Sultan Ibrahim menyambut kedatangan Sultan Hassanal Bolkiah yang melakukan kunjungan resmi kenegaraan empat hari (25-28/8/25) ke Malaysia.
Sultan Bolkiah yang datang bersama Pangeran Abdul Mateen Bolkiah sejak Senin (25/8/25) tiba di istana Negara Malaysia pukul 10.00 pagi waktu tempatan, langsung disambut dan diterima Raja Malaysia Sultan Ibrahim dan Tunku Temenggong Johor, Tunku Idris Iskandar Sultan Ibrahim.
Nampak juga Perdana Menteri (PM) X Malaysia, Anwar Ibrahim, Menteri Komunikasi Datuk Fahmi Fadzil, Sekretaris Utama Pemerintah Tan Sri Shamsul Azri Abu Bakar, Ketua Dewan Rakyat Tan Sri Johari Abdul, dan beberapa menteri kabinet.
Penyambutan kenegaraan di lobi utama istana, tersebut diawali dengan lantunan lagu kebangsaan Brunei dan Malaysia yang disajikan oleh Central Band Resimen Melayu Kerajaan. Lantas, 21 kali letusan meriam penghormatan meriam terdengar.
Kemudian, Sultan Brunei mengadakan pertemuan dengan Raja Malaysia, membahas berbagai hubungan bilateral yang telah terjalin erat sejak lama dan hal lain. Selepas itu, Raja Malaysia menjamu 'saudara tua'-nya, Sultan Hassanal Bolkiah dan delegasi Brunei dalam suatu Jamuan Kenegaraan.
Kunjungan Sultan Hassanal Bolkiah sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan Negara Brunei Darussalam memenuhi undangan Sultan Ibrahim tersebut tercatat sebagai kunjungan kenegaraan ketiga sejak Sultan Ibrahim mengangkat sumpah sebagai Yang di-Pertuan Agong (Raja) Malaysia ke 17.

Mekanisme Bilateral
Sebelumnya, kunjungan kenegaraan dilakukan oleh Presiden Tiongkok Xi Jin Ping dan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Esok, Rabu (27/8/25) Sultan Hassanal Bolkiah, Pangeran Abdul Mateen dan delegasi Negara Brunei Darussalam dijadualkan melakukan pertemuan dengan PM X Anwar Ibrahim dan sejumlah menterinya untuk dalam agenda Konsultasi Tahunan Pemimpin Malaysia dan Brunei Darussalam (ALC) ke-26.
ALC merupakan mekanisme bilateral tertinggi antara Malaysia dan Brunei, yang berfungsi sebagai platform bagi kedua pemimpin untuk meninjau kemajuan kerja sama yang telah terjalin selama ini. Dalam ALC ke 26 tersebut, para pemimpin pemerintahan tersebut akan membahas isu-isu terkini. Tanpa kecuali, bertukar pandangan tentang isu-isu regional dan internasional yang menjadi kepentingan bersama.
Brunei Darussalam merupakan mitra dagang terbesar ke-6 Malaysia di ASEAN. Sepanjang 2024, tercatat total perdagangan Brunei di Malaysia sebesar RM7,53 miliar (USD1,77 miliar).
Dari Januari hingga Juni 2025, tercatat total perdagangan antara Malaysia dan Brunei Darussalam mencapai USD0,69 miliar (RM3,02 miliar), dengan nilai ekspor sebesar USD0,50 miliar (RM2,18 miliar) dan impor sebesar USD0,19 miliar (RM0,84 miliar).
Pencapaian dalam konteks hubungan dagang tersebut sekaligus menggarisbawahi keistimewaan hubungan dua bangsa Melayu di rantau ASEAN yang sudah terjalin melintasi masa yang lama.
Dalam ALC ke 26 tersebut, Malaysia dan Brunei Darussalam, akan menegaskan kembali komitmen berkelanjutan kedua negara untuk memperkuat kerja sama strategis bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat bersama.
Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) menjelaskan, ALC memungkinkan kedua pemimpin untuk menilai kemajuan kerja sama yang sedang berlangsung, sekaligus mengatasi masalah-masalah yang belum terselesaikan, dan bertukar pandangan tentang isu-isu regional dan internasional yang menjadi perhatian bersama.

Perbatasan Darat
Kompleksitas sejarah menandnai hubungan Malaysia dengan Brunei Darussalam, khasnya ketika Sultan Brunei Darussalam Omar Ali Saifuddien menolak bergabung dalam Federasi Malaysia (1963).
Federasi Malaysia diusulkan oleh PM I Malaya Tunku Abdul Rahman yang direncanakan mencakup kawasan Semenanjung Malaya, Singapura, Sarawak, Sabah, dan Brunei. Selepas penolakan tersebut, kedua negara terlibat 'sengketa' wilayah Limbang.
Tahun 1984, setelah Brunei merdeka dan berdaulat sebagai negara, terjalinlah hubungan diplomatik kedua negara. Malaysia dan Brunei melakukan negosiasi, lantas sepakat dan beraksi menyelesaikan sebagian besar sengketa, Brunei mencabut klaimnya atas Limbang (2009). Malaysia setuju melepaskan klaimnya atas wilayah-wilayah kaya minyak tertentu di Laut Cina Selatan yang diperebutkan oleh kedua negara.
Malaysia dan Brunei bersepakat berbagi perbatasan darat di Kalimantan. Mayoritas penduduknya merupakan bangsa Melayu. Setelah itu berlangsung kerja sama strategis yang erat di berbagai bidang seperti ekonomi, budaya, dan pertahanan.
Kedua negara, kemudian sama menjadi anggota Persemakmuran, juga sama menjadi anggota ASEAN - perhimpunan negara-negara di rantau Asia Tenggara.
Untuk merawat hubungan bilateral, kedua pemimpin negara Malaysia dan Brunei Darussalam berkomitmen tentang ALC.
Sejak menjalin hubungan diplomatik (1984) Brunei memiliki komisi tinggi di Putrajaya, serta konsulat jenderal di Kota Kinabalu dan Kuching. Sedangkan Malaysia memiliki komisi tinggi di Bandar Seri Begawan. | sharia