Catatan Lingkungan Hidup Bang Sem (12)

Akhlak terhadap Alam

| dilihat 3604

AKARPADINEWS.COM | MANUSIA diciptakan Tuhan untuk menjalan­kan tugas dan fungsinya sebagai rahmat atas alam. Dengan demikian, keberadaan manusia atas alam, semestinya berfungsi sebagai pemelihara. Bukan sebagai perusak alam.

Sesuai dengan tujuan penciptaan manusia untuk mengabdikan diri kepada-Nya, maka salah satu wujud nyata manusia di dunia adalah memberi perlindungan dan pemeliharaan atas alam, se­hingga manusia memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari alam. Karena itulah, tugas manusia di atas muka bumi adalah mengelola alam dengan sebaik-baiknya.

Secara filosofis, pengelolaan sumberdaya alam, harus diper­untukan bagi kemakmuran rakyat se­luas-luasnya secara berkeadilan.  Tidak hanya untuk me­ncapai nilai ke­ekonomian, melainkan juga untuk men­capai nilai yang jauh lebih besar: lingkungan hidup. Tidak hanya karena daya dukung sumberdaya alam se­lalu mengalami per­ubahan, dan cenderung menurun. Juga, karena kualitas sumberdaya alam amat bergantung kepada ke­pedulian dan sikap hidup manusia yang menge­lolanya.

Untuk mewujudkan perilakunya yang baik dalam mengelola alam, Tuhan memberikan akal dan fikiran, agar manusia mampu mempelajari ilmu pe­ngetahuan dan menguasai teknologi, sehingga mampu mengeolola alam secara lebih efektif dan efisien. Tuhan memberikan naluri kepada manusia, agar manusia dapat berinteraksi dengan sebaik-baiknya dalam mengelola alam. Tuhan memberikan perasaan kepada manusia, agar manusia memperlakukan alam dengan kasih dan sayang dan tidak mencederainya. Tuhan mem­berikan indria kepada manusia, yang dengan indrianya, itu manusia memperlakukan alam secara proporsional.

Kesemua itu, memberikan kesempatan sangat luas kepada manusia, untuk mengelola alam secara lebih baik dan mempertimbangkan berbagai aspek dan dimensi. Termasuk di dalamnya, per­timbangan-pertimbangan transgenerasi. Pertim­bangan asasi, bahwa alam yang diberikan Tuhan kepada manusia saat ini, tidak hanya diperuntukan kepadanya semata. Bahkan untuk generasi yang selanjutnya. Dalam konteks itulah, pengelolaan alam berlangsung terus menerus, berkelanjutan.

Beranjak dari pandangan demikian, secara se­derhana manusia dihadapkan kepada situasi ke­pedulian untuk selalu memperbarui dan mengubah cara pandang, pola pikir, sikap, dan perlakuannya atas sumberdaya alam. Yaitu, seluruh potensi alam, mulai dari air, minyak bumi, gas, api, angin, udara, hutan, materi tambang, dan lainnya.

SITUS PENAMBANGAN NIKEL DI SOROWAKO - LUWU TIMUR - SULAWESI SELATAN

Potensi sumberdaya alam itu, merupakan  bahan dasar yang dapat dikembangkan manusia untuk me­menuhi keperluan hidupnya terhadap pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan bahkan gaya hidup. Oleh karena itu, ke­pedulian manusia terhadap sumberdaya alam, ber­hubungan langsung dengan dimensi ke­dalaman iman manusia. 

Imam Ali bin Abi Thalib karamahu wajhah, se­cara eksplisit me­negaskan, Tuhan menciptakan alam dari non eksistensi. Karena itu, alam sebagai ciptaan bersifat ori­sinil. Alam tercipta tanpa proses  berfikir, tanpa me­lalui eksperimen, tanpa me­rumuskan aksi dan program untuk mewujud­kan ke­hendak, dan bukan karena adanya untuk mewujud­kan kehendak. Juga bukan karena adanya keperluan untuk mendapatkan sesuatu. Karenanya, alam merupakan bukti kongkret bagi manusia untuk me­mahami eksistensi-Nya, dengan segala hukum yang me­nyertainya.

Ditegaskan oleh Imam Ali, dalam proses pen­ciptaan alam, khususnya bumi, tempat Tuhan menitip­kan sebagian kecil saja dari kekayaan dan kemurah-hatiannya kepada manusia, pertanda yang bisa dipahami  oleh manusia adalah waktu. Artinya, sumberdaya alam yang diperuntukan bagi kehidupan manusia, itu mengali proses pem­bentukan dalam waktu yang sangat panjang bagi ukuran manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan  teknologi mendeskripsikan kepada manusia, bagai­mana Tuhan menciptakan ber­bagai mineral dan energi di bumi, melalui proses pembentukan, hingga mencapai jutaan tahun.

Sebongkah batubara, meng­alami proses pem­bentukan jutaan tahun, setidaknya dua puluh juta tahun. Demikian juga halnya dengan bebatuan, fosil, dan lainnya. Mereka yang menyadari proses pembentukan demikian, berbasis keimanan, ilmu pengetahuan, dan teknologi, manusia akan dapat me­ngelola alam dengan sebaik-baiknya.

Sebaliknya, manusia yang mengabaikan dimensi keimanan, menggunakan ilmu pengetahu­an dan teknologi yang mereka kreasikan, sebagai perangkat untuk menghancurkan sumberdaya alam itu sendiri. Sebagai akibatnya, Tuhan meng­gerakkan alam untuk menghukum mereka.

KILANG PENGOLAH MIGAS DI BONGAS - INDRAMAYU - JAWA BARAT

Karena sumberdaya alam secara hakiki me­rupa­kan milik Allah secara absolut, maka penge­lolaan sumberdaya alam itu oleh manusia, harus jelas manfaat­nya, dan harus pula terjamin ke­lestariannya, sehingga dapat menjamin kehidupan yang berkelanjutan.  Baik sumberdaya alam yang dapat diperbarui  maupun yang tak dapat diper­barui. 

Oleh sebab itulah, akhlak terhadap alam menjadi urgen dan prioritas. Karena pada akhirnya, akhlak ter­hadap sumberdaya alam ini, selalu ber­korelasi dengan daya dukung lingkungan hidup dan kehidupan manusia. Dalam menjalani akhlak ter­hadap alam, itulah aspek ke­hidupan sosial budaya sedemikian penting, sehingga dapat memberikan nilai lebih atas pencapaian nilai ke­ekonomian yang efisien, melalui penerapan ilmu pe­ngetahuan dan teknologi ramah lingkungan.

Akhlak manusia terhadap alam, merupakan bagi­an dari politik sumberdaya alam, sebagai landasan dan sistem pengelolaan yang baik dan benar. Ali bin Abi Thalib, mengingatkan akhlak  manusia terhadap sumberdaya alam, akan me­mungkin­kan manusia mengelola alam berdasarkan cintanya ke­pada Allah. Oleh karena itu, mereka yang berakhlak, tak akan pernah menimbul­kan ke­rusakan sumberdaya alam, yang akan berakibat ke­pada binasanya suatu bangsa.  Di atas landasan politik sumberdaya alam, berhimpun akhlak dan hukum yang tegas.

IRISAN TANAH DI PENAMBANGAN EMAS PENJOM 

Sejarah mengajarkan, seringkali kehancuran suatu bangsa disebabkan oleh ulah manusia yang se­mena-mena, serakah, dan pongah terhadap alam. Mereka terang-terangan mengangkangi sumberdaya alam yang diberikan Tuhan untuk kepentingan hidup bermewah-mewahan, dan menggunakan nilai keeko­nomian sumberdaya alam untuk ke­makmuran peng­uasa. Tidak untuk kesejahteraan rakyatnya. Mengguna­kan keunggulan ilmu penge­tahuan dan teknologi, serta nilai keekonomian sumberdaya alam untuk menjajah bangsa-bangsa lain.

Mereka menjelajah berbagai belahan bumi, dan menebar kerusakan di mana-mana, usai mereka meng­ibarkan bendera-bendera kekuasaan di Timur dan di Barat.  Kemudian Tuhan murka atas mereka dan me­lenyapkan mereka dengan  berbagai bencana yang di­timbulkan oleh berubahnya daya dukung sumberdaya alam.

Kisah hancurnya suku Amalek yang di­abadikan di dalam Perjanjian Lama sebagai bangsa penjajah.  Mereka menyerang bangsa Yahudi yang eksodus dari Mesir, di kawasan Ephraim (sekitar Gunung Sinai) pada zaman Hezekiah. Setelah ke­hancurannya, bangsa ini menjadi obyek sumpah serapah, dan menyebabkan dendam tak ber­ke­sudahan bangsa Yahudi. Dendam kesumat yang di­gerakkan oleh hawa nafsu untuk menguasai sumberdaya alam dan menguasai bangsa lain, ini pula yang kemudian mendorong bangsa Yahudi akhirnya menjadi kaum zionis. | 

Editor : sem haesy | Sumber : CAWANDATU N. SYAMSUDDIN CH. HAESY
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 380
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 280
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 259
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 335
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 208
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 697
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1679
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya