AKARPADINEWS.COM| Siapa kira jika alat tukar internasional, mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan Euro, dibuat dari serat Pisang Abaka yang tumbuh sumbur di Kepulauan Sangihe Talaud, Manado, Sulawesi Utara.
Sementara bahan baku mata uang rupiah, Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI) justru mengimpor dari luar negeri seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda, lengkap dengan tanda air dan benang pengamannya. Untuk mencetak rupiah, Indonesia harus mengimpor bahan baku kurang lebih Rp475 miliar setiap tahun.
Pisang Abaka (musa textilis) tumbuh liar dan subur di pinggir sungai. Di Kecamatan Esang, Kabupaten Talaud misalnya, tumbuh subur Pisang Abaka di area seluas sekitar 150 hektar. Pisang Abaka juga banyak ditemukan di Kecamatan Beo Utaram Pulutan, Rainis, dan Tampa Amma.
Pisang Abaka memiliki ciri yang berbeda dengan pisang umumnya yang biasa dinikmati sehari-hari. Ciri yang membedakan pisang ini dengan pisang lain adalah daunnya yang sempit, dengan ujung yang tajam dan warna daun yang hijau gelap mengkilap. Panjangnya sekitar 8 meter, sementara lebarnya sekitar 12 kaki. Batangnya juga mengkilat dan pada satu tundunnya memiliki 4 sisir.
--
Masyarakat Talaud biasanya menggunakan Pisang Abaka sebagai bahan pakaian (kofo), jala dan tali pancing. Sedangkan di negara lain, melalui sentuhan teknologi tinggi, serat Abaka digunakan untuk kain jok mobil mewah, pembungkus kabel listrik, peredam suara kapal terbang dan berbagai manfaat lain yang multi fungsional. Bahkan, di Inggris, dibuat rompi atau kevlar dari serat Abaka karena memiliki kemampuan untuk meredam getaran yang super hebat dari peluru yang datang ke arah rompi kevlar tersebut.
Awalnya, sejak tahun 1984, petani tradisional menanam Abaka di sekitar pinggiran sungai. Di Sungai Esang misalnya, petani menggunakan perahu kole-kole, sejenis perahu yang dijalankan dengan menggunakan dayung untuk menjaga keseimbangan. Setelah Pisang Abaka ditebang, 10 batang besar atau 15 batang kecil diikat dan dijadikan rakit, lalu ditarik perahu.
Di tahun 2010 pihak swasta dari Indonesia dan luar negeri mulai melirik untuk membeli serat Abaka dan mengekspornya ke berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Karena memiliki pangsa pasar, perkebunan Pisang Abaka berkembang. Di tahun 2013, berbagai kelompok usaha tani mengembangkan tanaman tersebut dan tidak lagi mengandalkan cara-cara tradisional. Mereka membudidayakan Abaka lebih maju, yang salah satunya menggunakan metode kultur jaringan untuk memperbanyak tunas pisang.

Djupri, koordinator kelompok petani di Kecamatan Esang menjelaskan, dengan sentuhan teknologi, hasil panen Abaka cukup berhasil. Mereka mendapatkan pengetahuan budidaya Abaka dengan bedengan air yang mengalir, pemotongan yang intens dan paranet atau filter cahaya matahari yang sesuai.
Saat ini, pemerintah, swasta hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai melirik keberadaan Abaka melalui bantuan dan penanaman investasi. Dengan kerjasama berbagai pihak dan sentuhan teknologi, maka diharapkan dapat lebih meningkatkan produksi Abaka sehingga Indonesia mampu menjadi pengekspor terbesar Abaka, mengalahkan Filipina dan Equador. Dan, akan lebih baik lagi jika Abaka menjadi bahan baku rupiah sehingga bahan baku tak lagi perlu impor.
Ratu Selvi Agnesia