Derita PRT Indonesia di Hong Kong

Erwiana: Kerja 21 Jam Sehari, Disiksa, dan Tak Diberi Gaji

| dilihat 3417

AKARPADINEWS.COM | TUJUH bulan menahan derita. Itulah yang dialami Erwiana Sulistyaningsih, pembantu rumah tangga Indonesia asal Sragen – Jawa Tengah. Ketika dijumpai Al Jazeera di Rumah Sakit Sragen, Erwiana terbaring lemas didampingi kedua orang tuanya. Luka pada tubuhnya nampak mengerikan. Ia dapat pulang ke Indonesia, karena bersikeras akan pulang.

Wantung, majikannya, akhirnya mengabulkan permintaannya. Mantan majikannya itu membelikannya tiket penerbangan ke Indonesia, dan memberinya uang hanya sebesar $8,40 setara dengan uang Rp100.000. “Jangan bicara kepada siapapun tentang apa yang terjadi di Hong Kong,” kata sang majikan, seperti dituturkan ulang oleh Erwiana.

Kepada Erwiana, Wantung mengatakan, dia tahu banyak orang Indonesia. “Bila saya bercerita, dia mengancam, akan membunuh saya dan orang tua saya,” ungkapnya kepada Al Jazeera.

Dokter yang merawat Erwiana di Rumah Sakit Amal Islam menjelaskan, Erwiana menderita pembengkakan otak dari pukulan berulang-ulang ke kepalanya. Erwiana juga mengalami penderitaan pada gigi yang patah beberapa buah. Tak hanya itu, hidungnya patah, tangan dan kakinya karena luka memar yang dibiarkan, menghitam dan mengalami selulitis akibat infeksi kulit.

Semua luka itu terjadi karena penyiksaan yang dialaminya selama tujuh bulan dan tanpa upah. Selama bekerja di Hong Kong, uang senilai Rp100.000 rupiah itulah yang diterimanya sebagai pembayaran. Plus tiket pesawat pulang ke Indonesia. Karena posisinya yang lemah dan selalu berada di bawah ancaman, Erwiana tak dapat berbuat apapun selain menahan penderitaan yang berat itu.

Erwiana berangkat ke Hong Kong setelah direktur oleh PT Graha Ayukarsa di Indonesia, dan menyetujui upah sebesar HK$2.543, meski yang akan diterimanya hanya sebesar HK$2.320 setelah dikenakan berbagai potongan. Padahal upah minimum di Hong Kong rata-rata per bulan sebesar HK $4.010. Seluruh potongan itu ilegal karena biaya perekrutan mencapai 10 persen dari standar gaji bulan pertama.

Polisi Hong Kong memberi kabar, akan mengirim empat perwira dari skuad kriminal pada Senin (20/1) untuk mewawancarai Erwiana.

Kepada Al Jazeera, Erwiana menjelaskan, setelah direkrut oleh PT Graha Ayukarsa, dia ditempatkan oleh Asia Recruitment Centre Chan, mitra bisnis PT Graha Ayukarsa di Hong Kong. Seterusnya dia bekerja dengan majikannya, Wantung yang tinggal di Apartemen 36 lantai di Tseung Kwan O, pinggiran Hong Kong, Mei 2013.

“Krtika tiba di Hong Kong, saya pikir itu tempat yang mewah, tempat yang menakjubkan. Tapi itu bukan kenyataan yang saya alami," katanya. Sejak bekerja pertama kali di sana, ia tidak mendapatkan kesempatan istirahat di hari libur. Dia hanya boleh rehat di batas Apartemen itu saja. Untuk makan sehari-hari, majikannya hanya memberinya sedikit beras.

Karena tak mendapatkan gaji untuk pekerjaannya pada bulan pertama, Erwiana sempat melarikan diri. Dia sempat menelepon agen setempat dari telepon umum di lantai dasar kompleks apartemen. Tapi, ketika agen yang menempatkannya bertemu dengan dia, dia dikembalikan kepada majikannya. Kala itu, sang majikan berjanji akan memberikan gaji bulan pertamanya.

Kenyataannya berbeda. Sejak saat itu dia mulai menerima penyiksaan dan kekerasan. Ia sering dipukul secara sporadis, kemudian menjadi korban pemukulan yang sangat sering. Pemukulan dialaminya hanya karena dia dianggap tidak mendengarkan atau gagal melaksanakan instruksi sang majikan. Kadang, bahkan pemukulan dia alami tanpa alasan sama sekali.

“Dia memukul saya dengan berbagai alat yang berbeda. Paling sering dengan gagang pel. Seluruh badan saya jadi sasaran, tapi yang paling sering, kepala saya,” jelas Erwina, sambil menjelaskan, sehari semalam dia harus bekerja selama 21 jam sehari. Sebagai PRT di apartemen itu, Erwiana tidak mempunyai kamar sendiri, sehingga seringkali dia tidur di lantai.  Pada pekan-pekan terakhir, dia disiksa hanya karena darah kucing menodai karpet. Ia juga sering disika bila dua anak majikannya menemukan dia tidur tidak pada tempatnya.

Ketika kembali ke Indonesia, Erwiana ditolong Riyanti, sesama PRT yang bertemu dengannya di bandara Hong Kong. Riyanti itu juga yang menemani Erwiana ketika diwawancarai Al Jazeera.. | Noora

Editor : Web Administrator | Sumber : Al Jazeera
 
Ekonomi & Bisnis
Lingkungan
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 267
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 394
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 494
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 896
Jangan Pernah Menentang Semesta
Selanjutnya