Duka Ashura

| dilihat 55

Catatan Sharia

Acap tiba bulan Muharram, senantiasa terbayang tragedi Karbala. Tragedi terbunuhnya cucu Rasulullah Muhammad SAW, Hussain buah cinta sayyidina Ali bin Abuthalib dan puteri Rasulullah, Fathimah az Zahra.

Imam Hussain dibunuh oleh 'ternak' Yazid bin Mu'awiyah. Yazid bin Mu'awiyah yang diangkat menjadi khalifah oleh ayahnya, Muawiyah bin Abu Sufyan.

Yazid memerintahkan para 'ternak'-nya menekan dan memaksa Imam Hussain agar mau berbai'at sekaligus mengakui Yazid sebagai khalifah.

Imam Hussain konsisten dengan sikapnya, tak mau berbai'at kepada Yazid yang kesahihannya sebagai khalifah ditempuh dengan cara yang tak sesuai dengan kaidah dan norma yang islami.

Untuk konsistensinya, Imam Hussain menghadapi segala risiko. Ia datang ke gurun pasir Karbala untuk menjaga dan melindungi Islam serta membimbing sesama Muslim. Melaksanakan tata kehidupan dengan jalan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Jalan yang ditempuh Imam Hussain adalah jalan yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW dan Imam Ali karamahu wajhah, jalan cinta dan kasih sayang. Bukan jalan kefasikan sebagaimana dilakoni Abu Sufyan dan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Imam Hussain menolak berbai'at kepada Yazid karena tak hendak, Islam dijalankan dengan cara-cara fasik, jalan pedang dan jalan muslihat yang tidak sah -- dengan menabrak nilai-nilai dan norma islam yang damai.

 

Menghalangi Peluang Imam Hussain

Pada masa kepemimpinan Ali bin Abu Thalib karamahu wajhah sebagai khalifah, Muawiyah memilih jalan kekerasan dan muslihat untuk menjadi Khalifah. Ia memerintahkan gembong kaum ekstremis Khawarij, Abd al-Rahman bin Muljam untuk membunuh Imam Ali.

Imam Ali bin Abi Thalib -- gerbang kecendekiaan Islam -- itu pun tewas saat menjadi imam salat subuh di Masjid Kuffah (19 Ramadan 40 Hijriah atau 26 Januari 661 Maeshi), saat sedang sujud.

Dengan nafsu yang tak terkendali, Abd al-Rahman bin Muljam menghunjamkan pedang bersalut racun ke kepala Imam Ali. Selepas itu, Muawiyah mengangkat dirinya sebagai khalifah.

Muawiyah lantas menyimpan hasrat melanggengkan kekuasaannya dengan menyiapkan puteranya, Yazid menjadi khalifah menggantikannya. Cara yang ditempuh adalah menghadang, menghalangi, dan menutup peluang Imam Husein  memimpin umat.

Akibatnya terjadi benturan keras antara Imam Hussain pemimpin umat dan pemimpin kebajikan -- Aba Abdillah - ayah para pengabdi Allah -- yang konsisten menegakkan aqidah dan akhlaq islam, dengan Yazid petinggi kefasikan dengan para 'ternak'-nya, pengusung kejahatan yang menanggalkan akal budi.

Imam Hussain tidak menghindari ancaman Yazid yang menjadi tiran bagi umat. Ia bahkan mendatangi para 'ternak' Yazid, meski dalam keadaan yang tidak prima. Sebagai pemimpin kebajikan, Imam Hussain yang saleh, itu tak gentar menghadapi situasi.

Imam Hussain hanya mempunyai satu di antara dua pilihan: berbai'at sebagaimana dikehendaki Yazid atau menolaknya. Memilih berbai'at kepada Yazid bermakna menyuburkan kemudharatan yang tak akan membawa manfaat apa pun selain membahayakan kelangsungan hidup Islam.

Menolak berbai'at sebagai jalan konsisten terhadap ajaran Rasulullah Muhammad SAW - kakeknya, dan Ali bin Abi Thalib - ayahnya, adalah untuk menjaga nilai, norma, kesungguhan menjaga dan melindungi Islam.

 

Ternak Begundal Yazid

Imam Husein memilih tidak berbai'at kepada Yazid. Maka, Yazid menegaskan perintahnya kepada para 'ternak' begundalnya untuk dengan kekerasan paling brutal, menghabisi imam Hussain yang berkemah di padang Karbala.

Maka, para 'ternak' begundal Yazid pun mengumpulkan pasukan yang relatif besar, dengan persenjataan lengkap, mengepung perkemahan Imam Hussain itu.

Mereka mulai dengan memutus akses keperluan pokok Imam Hussain, keluarganya, dan para kaum salihin, yakni air.  Tetapi, Imam Hussain dan umat - kaum salihin -- yang pemberani tetap memegang teguh keyakinannya sesuai aqidah Islam.

Menolak tunduk kepada tiran yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, dan tidak islami. Imam Hussain dan para kaum salihin pemberani ini lebih memilih menghadapi kematian demi tujuan mulia Islam.

Imam Hussain dan para kaum salihin pengikutnya mereka serbu. Imam Hussain mereka bunuh dengan cara paling biadab dan durjana. Bahkan, para 'ternak' begundal Yazid memperlakukan tubuh Imam Hussain yang tak utuh lagi dengan cara yang tidak manusiawi.

Imam Husein dan para pengikut setianya menjadi martir pada peristiwa pertempuran kaum beriman dengan kaum fasik, itu terjadi 10 Muharram 61 Hijriah -- bertepatan dengan 10 Oktober 670 Masehi.

Ahlul bayt Rasulullah Muhammad SAW memperingati syahidnya Imam Hussain pada tragedi Pertempuran Karbala tersebut. Selain dengan berziarah ke Karbala, Ashura juga diperingati secara lokal, nasional dan regional.

Di berbagai negara, peringatan momentum hijrah dan syahidnya Imam Hussain sebagai momentum untuk menyegarkan komitmen aqidah Islamiyah. Menyegarkan kesadaran, jalan cinta kepada Allah dan Rasulullah SAW adalah jalan perlawanan terhadap segala bentuk tiran dan penindasan.

 

Kuasa Oligark Bani Umayyah

Pertempuran Karbala adalah perjuangan menegakkan kebenaran atas kebohongan, perlawanan kongkret terhadap kebatilan. Dalam konteks politik, pertempuran Karbala adalah momentum menegakkan nilai-nilai islam di seluruh aspek kehidupan, mulai dari penegakan keadilan dan hukum, muamalah (sosio budaya, ekonomi dan politik) sampai akhlaq (keadaban dan peradaban).

Secara eksplisit, bahkan dimaknai sebagai perlawanan atas kehendak tiran Bani Umayyah yang dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan, kekuasaan yang dikendalikan oligark untuk meruntuhkan nilai-nilai Islam. Kaum yang dengan muslihat memanipulasi Islam, untuk memusuhi dan memfasilitasi kaum kolonial menghancurkan umat Islam dengan beragam dalih.

Muawiyah datang dari keluarga Abu Sufyan yang dikenal licik, materialistis, dan haus kekuasaan. Ia masuk Islam hanya ketika Nabi Muhammad (SAW) menaklukkan Mekah.

Mereka yang masuk Islam dengan muslihat untuk menyelamatkan diri, sebagai Tulaqaa' (kaum yang dibebaskan karena menyatakan syahadat).

Keluarga ini dan kaum tulaqaa' lainnya, bergumul dengan muslihat, untuk membuktikan kalau diri mereka seolah-olah muslim sungguhan. Mereka membangun masjid-masjid dhiror (yang kudu dirobohkan).

Muawiyah, ayahnya (Abu Sufyan), ibunya (Hind), saudaranya (Yazid bin Abu Sufyan), dan puteranya (Yazid bin Muawiyah) memendam taktik licik kepada keluarga Rasulullah Muhammad SAW, dan dengan rapi selama bertahun-tahun menyimpan rencana mengambil alih kepemimpinan Islam.

Bagi kalangan ahlul bayt Rasulullah, pertempuran di Karbala adalah juga mementum duka nestapa. Di Iran, misalnya, setiap tanggal 1 - 10 Muharram diperingati sebagai suasana dan ungkapan lara dan sansai, sekaligus meneguhkan keteguhan iman. Termasuk menegaskan tekad dan komitmen melawan tiran dan kolonisasi, seperti yang dilakukan zionis Israel dan Amerika Serikat. | 23/06/26

Editor : haedar | Sumber : islamic story hub, al_islam, dan berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1127
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3259
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya