Haul Habaib dan Ulama Betawi

Mohammad Husni Thamrin dari Perspektif Dramaturgi Jakarta

| dilihat 67

Bang Sèm

Jakarta memperingati 499 tahun keberadaannya sebagai kota raya sejak paruh pertama Alaf XVI (1527), kala kekuasaan Sunda Kalapa yang dikangkangi penjajah Portugis -- sebagaimana laiknya Melaka -- ditaklukan oleh pasukan gabungan dari Banten, Ceribon, dan Demak, dalam kendali Maulana Nurullah Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang dipimpin Fatahillah atau Falètèhan.

Bila hendak di-alihwahana-kan dari realitas pertama ke realitas kedua atau ketiga di panggung / latar teater atau layar film dan media baru, peristiwa tersebut tentu sangat dramatis.

Tak hanya karena deklarasi kemenangan ditandai dengan perubahan nama (menjadi Jayakarta dan Jaccatra, lalu Batavia -- kala penjajah Belanda merebut lagi -- lantas Jakarta, kala direbut balik para pejuang ) sebagai aksi image engineering.

Meminjam perspektif sosiolog yang juga dramaturge Erving Goffman (The Presentation of Self in Everyday Life  | Garden City: Doubleday Anchor Books, 1959),  dramaturgi merupakan konsep asas yang memandang interaksi sosial -- termasuk perseteruan sampai  perang -- laksana pertunjukan teater.

Di dalam interaksi sosial yang dramatik tersebut -- antara lain ekspresi dan manifestasi heroisme yang dialiri patriotisme --semua tokoh (khasnya kaum pribumi) yang terlibat di dalamnya merupakan aktor yang menciptakan kesan dan citra tertentu.

Dari berbagai cerita lisan, sejak masih kanak-kanak, setiap kali memperingati "ulang tahun Jakarta" yang tersaji adalah gambaran dramatis yang mempesona. Apalagi, ketika dibumbui dengan relasi religi, bahwa nama Fatahillah / Falètèhan terkait dengan firman Allah (ayat pertama QS al Fath).

Narasi dalam berbagai 'buku sejarah' di Sekolah Dasar dan Menengah, mendeskripsikan secara beragam peristiwa 'kemenangan' itu dengan menghadirkan 'aktor-aktor'  di panggung depan (front stage), Antara lain Maulana Hasanuddin, Sultan Banten dan pasukannya.

Dari perspektif ini, saya sangat mengapresiasi acara Haul Ulama dan Habib Betawi di Plaza Selatan Monumen Nasional -- yang dulu adalah lapangan IKADA yang bersejarah --  yang digelar Gubernur - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tema yang diusung, “Memperkuat Harmoni Keagamaan di Tengah Keberagaman, Transformasi Jakarta Menuju Kota Global.”

Spirit 'Tahu Diri'

Tema tersebut relevan dengan spirit membangun sikap dan aksi mengjawantahkan mutual respect di kdengan berbagai upaya yang sedang dilakukan Pemprov dan warga DKII Jakarta.

Penyelenggaraan acara tersebut, saya pandang sebagai wujud nyata sikap dan aksi nyata manifestasi akhlak dan spirit 'tahu diri' dari generasi lanjut dari generasi sebelum-sebelumnya.

Pemprov DKI Jakarta, sebelum ini secara sadar sudah mengabadikan sejumlah nama habaib dan ulama Betawi sebagai nama jalan. Kendati demikian, kala orang bertanya : siapa sosok putera Betawi di lintasan zaman yang perlu diangkat sebagai figur ikon (antara Alaf X - Alaf XXI) ?

Tanpa mengabaikan nama-nama lain, saya tak ragu untuk menyebut satu nama, Mohammad Husni Thamrin (Bang Seni). Sosok putra Betawi yang merepresentasikan aktor telangkai tradisionalisma - modernisma - post modernisma. Apalagi kini di zaman sungsang (post truth) yang mengheret kita ke dalam titian yang tak menentu, gamang, ribet, dan mendua (ambivalen). Di zaman dusta diutamakan, kejujuran dinafikan; kezaliman dinormalkan - keadilan dinistakan; perut dimuliakan, otak / akal diabaikan.

Mengacu pada penelitian Yasmien Z. Shahab - guru besar ilmu Antropologi UI tentang prestasi dan representasi Mohammad Hoesni Thamrin, sampai kini sosok tokoh Husni Thamrin merupakan representasi Anak Betawi yang mengusung tinggi narrow nasionalisme yang prestasinya (menghapus poenale sanctie peraturan dehumanitas yang menzalimi koeli kontrak di Sumatera Utara),

Dengan perjuangannya itu, Hoesni Thamrin telah memanifestasikan dari ajaran agamanya, Islam, "hairunnaas anfa'uhum lin naas : sebaik-baiknya manusia, yang bermanfaat luas bagi manusia lain lebih banyak).

Dalam pandangan sejarawan Anhar Gonggong, hasil penelitian antropologis - historis yang dilakukan Yasmien sangat menarik, karena mengungkapkan persoalan kelabu pemahaman generasi muda tentang ketokohan pejuang - pahlawan nasional Mohammad Husni Thamrin. (Baca : Percikan Cerah dari Penelitian Prof. Yasmine tentang M. Husni Thamrin ).

Bagi saya, penelitian Yasmien Z. Shahab tersebut juga membuka tirai kebenaran dan keyakinan kuat guru bangsa HOS Tjokroaminoto (Sarekat Islam) dan Soetomo (Boedi Oetomo) yang memilih dan mendorong Mohammad Hoesni Thamrin sebagai representasi rakyat di voolksraad.

Pahlawan Nasional dari wangsa Betawi, ini merupakan tokoh bangsa yang sangat konsisten dan konsekuen memperjuangkan hak-hak dan keadilan rakyat. 

Stadion Internasional Mohammad Husni Thamrin

Selain itu dalam konteks kedermawanan (sebagai salah satu ciri budaya wangsa Betawi), pada masanya, Mohammad Husni Thamrin tiada tanding. Khasnya ketika dia mewakafkan hartanahnya sebagai stadion sepak bola VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra). Stadion yang juga melambangkan nasionalisme dan perlawanan atas pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah Kerajaan Belanda.

Karenanya, ketika Jakarta Internation Stadium selesai dan akan diresmikan, saya usulkan untuk diberi nama Stadion Internasional Mohammad Husni Thamrin (Baca: Menanti Peresmian Stadion Internasional Mohammad Hoesni Thamrin Jakarta). Mudah-mudahan di masa kepemimpinan Pramono - Rano Karno, harapan itu mewujud).

Dari perspektif kini, ketika Undang Undang No.2 /2024 belum sungguh jelas mengurai kekhususan Jakarta (kecuali menyatakan Jakarta sebagai daerah khusus: Pusat Perekonomian Nasional dan Kota Global), karena belum sungguh mencerminkan otonomi luas, nyata, dan bertanggungjawab.

Otonomi menyeluruh dari desa sampai negara (seperti diisyaratkan HOS Tjokroaminoto dalam pidatonya bertajuk Zelfbestuur - 17.06.1916 pada NATICO I Sarekat Islam di Societaat Concorde, Bandung). Pidato ini mengilhami muridnya (Bung Karno)  menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika dan merupakan ekspresi sikap konsekuen atas komitmen kuat Indonesia mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.

Bagi wangsa Betawi yang telah menunjukkan keikhlasan memfasilitasi, menggerakkan dan menjadi rakyat inti dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia, tak ada kesadaran lebih cerlang, kecuali memberikan penghargaan yang pantas kepada Muhammad Husni Thamrin.

Selebihnya adalah sikap tahu diri siapa saja, terutama mereka yang mengemban amanat warga Jakarta untuk mengabdi di lingkungan pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif) DKI Jakarta. Pun di berbagai lingkungan sosial profesional dan menggapai hidup di Jakarta.

Dari perspektif dramaturgi Jakarta, Mohammad Husni Thamrtin telah memandu kita untuk menapaki fase-fase dramatik, khasnya fase peran naik (rising action) sampai klimaks. Sekaligus menjaga dengan baik, agar seluruh aksi menegakkan kebenaran dan keadilan (amar ma'ruf nahyi munkar) yang dicontohkan para habaib, ulama dan pejuang seperti Husni Thamrin, tak sampai anti klimaks.

Proses perjuangan Pemerintah Provinsi, wangsa Betawi, dan warga Jakarta mesti mewujud dalam aksi yang terasa oleh rakyat. Bukan melalui kata-kata yang dubieus dan dimentahkan oleh sikap mènyè-mènyè (mencibir dan sengak). |

Editor : haedar | Sumber : Rekayasagambar AI_gemini