
TEHRAN – Dahsyat. Inilah prosesi takziah perpisahan dan pemakaman, ekspresi cinta dan duka terbesar sepanjang sejarah modern. Semua di Grand Mosalla Imam Khomeini, Tehran. Hari Sabtu (4/7/26) gerbang Grand Musolla terbuka untuk hari pertama rangkaian perpisahan umat bagi Ayatollah Seyyed Ali Khamenei (1939-2026). Pemimpin Tertinggi Iran dan Wali Faqih umat Islam bermazhab Syiah (1989-2026), yang syahid dalam serangan biadab Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel, 28 Februari 2026 di kediamannya.
Ayatollah Seyyed Ali Khamenei syahid bersama istrinya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh. Juga perempuan Zahra Haddad-Adel (isteri Mojtaba Khamenei, Pemimpin tertinggi Iran kini), cucu perempuannya Zahra Mohammadi Golpayegani (bayi berusia 14 bulan), puterinya Hoda Khamenei, dan menantunya, suami Hoda, Bagheri Kani.
Pada hari yang sama, AS dan zionis Israel juga membunuh 156 anak-anak yang sedang belajar di Shajareh Tayyebeh Elementary School di Minab, Provinsi Hormozgan, Selatan Iran dengan serangan rudal yang mengabaikan hukum internasional tentang perang.
Sejak gugur sebagai mujahid, selama 131 hari, jenazah Ayatollah Sayyed Ali Khamenei dan keluarganya disemayamkan di suatu tempat yang aman di Tehran. Penundaan tersebut dilakukan karena faktor keamanan dalam situasi perang, sampai akhirnya AS dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata.
Kendati dalam ajaran Islam jenazah harus dimakamkan segera, namun dalam keadaan darurat seperti yang dialami Iran kini, penundaan pemakaman dimungkinkan. Itulah sebabnya prosesi pemakaman baru dimungkinkan sejak Jum'at, 4 Juli 2026.
Jenazah disemayamkan di Aula Grand Mosalla, Tehran. Para pemimpin negara-negara sahabat Iran dengan delegasinya melakukan takziah ganti berganti. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, didampingi Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Wakil Presiden Mohammad Reza Aref, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, besan (ayah mertua Ayatollah Mojtaba Khamenei) Gholam Ali Haddad-Adel, tiga anaknya Mostafa Khamenei, Meysam Khamenei, dan Masoud Khamenei memenyambut dan menerima takziah para petinggi, delegasi dari seantero dunia, kecuali AS, zionis Israel dan para sekongkol-nya.

Gugurnya Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, istri, menantu dan cucunya juga memberi suasana lain dalam peringatan As Shura tahun ini yang berlangsung sejak 1 Muharram 1448 Hijrian (16/06/26), adalah kehilangan besar bagi Iran dan umat Islam dunia. meski berbeda mazhab dan aliran.
Kehilangan itu bukan hanya karena allahyarham pernah menjabat Presiden Republik Islam Iran (1981-1989), melainkan juga karena Ayatollah Sayyed Ali Khamenei merupakan pemimpin politik Iran sekaligus pemimpin agama - spritual Islam (bermazhab) Syi'ah. Mazhab atau aliran, yang sangat kerap disalah-tafsirkan dan dijadikan 'musuh' oleh penganut mazhab lain -- antara lain Wahabi.
Ulama besar dunia, kelahiran Mashad, itu kemudian sangat dekat dengan Ayatullah Ruhullah Khomeini saat menuntut ilmu di kota Qom. Allahyarham kemudian menjadi murid dan kader Ayatollah Ruhullah Khomeini. Sebagaimana guru dan keluarganya, Allahyarham menjalani hidup dan kehidupan yang sangat sederhana, dan mewariskan kesederhanaan - kesalehan itu kepada anak-anak dan murid-muridnya. Kesederhanaan dan kesalehan yang mencerminkan watak pribadi dengan integritas dan akhlaq yang baik, cermin pribadi kukuh dan kuat.
Masa kepemimpinannya diwarnai oleh perang panjang Irak versus Iran, selama delapan tahun. Allahyarham sangat taat kepada Rasulullah Muhammad SAW dan laku perangai Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Karenanya, sampai kini Iran tak pernah memusuhi siapa pun.
Allahyarham tanpa henti mengajarkan untuk tidak pernah memulai atau memantik peperangan. Tidak offensif, tetapi defensif. Praktik itu mewujud, karena ia aktif mengelola pertahanan Iran dan memimpin Garda Revolusi. Setelah imam - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ruhullah Khomeini wafat, Majelis Syuro para mullah memilihnya menggantikan Ayatullah Ruhullah Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Sebagai pemimpin tertinggi, padanya melekat pula otoritas tertinggi atas militer, peradilan, dan politik luar negeri Iran.
Komunikasi personal, sosial, dan politiknya dengan rakyat Iran menarik dibahas tersendiri. Meski kerap menjadi sasaran komunikasi media Barat yang selalu memutarbalik fakta, Allahyarham selalu mempraktikan firman Allah tentang tabayyun. Cara dan mekanisme menguji kebenaran informasi. Melakukan validasi melalui mekanisme verifikasi sumber informasi dan konfirmasi isi informasi. Selepas iti mewujudkan prinsip kearifan dan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar (dengan hikmah - kearifan dan kecerdasan -- dan mauidzah hasanah - bahasa yang baik).
Sebagai pemimpin spiritual agama (Wali Faqih), fatwa-fatwa atas berbagai masalah yang disampaikan umat (rakyat) selalu jernih, jelas, tajam dan konsisten. Nyaris tanpa batas. Mulai dari masalah ubudiyah, masalah politik, masalah sosial, sampai berbagai masalah terkait dengan kekuasaan negara yang demokratis (inklusif dan adil). Komunikasi politik semacam ini dipeliharanya, bersamaan dengan langkah pemerintah membahas masalah-masalah asas dan laten tentang bagaimana Iran harus bertahan dan mandiri di tengah berbagai sanksi internasional (ekonomi, politik, budaya, teknologi, dan lain-lain)

Sanksi ekonomi dan embargo terhadap Iran telah menjadi pilar utama tekanan internasional selama lebih dari empat dekade, yang berdampak besar pada penduduk Iran. Berawal dari Revolusi Islam 1979 dan krisis sandera berikutnya, langkah-langkah ini berkembang dari pembekuan aset dasar menjadi blokade ekonomi dan diplomatik komprehensif yang menargetkan sektor keuangan, perminyakan, dan penerbangan Iran.
AS secara semena-mena membekukan aset dan memberlakukan embargo perdagangan (awal dekade 1980-an), selepas terjadinya peristiwa penyanderaan Kedfutaan Besar AS di Tehran. Masa itu, AS menebar secara global stempel, bahwa Iran merupakan negara teroris. Presiden Ronald Reagen lantas melakukan embargu penuh impor AS dari Iran (1987).
Presiden AS Bill Clinton (dekade 1995) melakukan embargo komprehensif pebnuh terhadap perdagangan dan investasi bilateral. 1996 Kongres AS mengesahkan UU Sanksi Iran - Libya, melarang perusahaan AS melakukan investasi industri perminyakan di Iran. UU ini menguatkan tindakan Clinton.
Iran melakukan siyasah 'menyimpan marah dalam diamm,' sehingga terkesan tak bereaksi atas ketidak-adilan itu. Bahkan, ketioka memasuki dekade 2000-an menerima sanksi proliferasi nuklir.Bahkan sanksi meluas, kala AS meyakinkan Dewan Keamanan PBB mengesahkan beberapa resolusi sejenis 'Resolusi 1929,' antara 2006 -2010.
Resolusi-resolusi itu membuka ruang bagi seluruh negara di dunia untuk melakukan pembekuan aset, pembatasan perjalanan, embargo senjata, dan penekanan atas program pengayaan uranium yang selalu dituduh sebagai bagian dari produksi senjata nuklir yang sama sekali tak terbukti.
Melihat masih tenang-tenang saja, AS -- dan negara-negara sekutunya -- kedèkèran (laku lajak, salah tingkah), dengan menargetkan Bank Sentral Iran melalui sanksi sekunder yang luas, sebagai hukuman secara finansial bagi perusahaan asing yang berdagang dengan Iran. Pada 2018 di tengah krisis ekonomi, membatalkan secara sepihak keringanan sanksi setelah kesepakatan nuklir JCPOA (The Joint Comprehensive Plan of Action).
Lantas sejak 2020 sampai kini, AS dan Uni Eropa memberlakukan kembali tekanan maksimum dan sanksi ekstensif terhadap individu, perusahaan, dan kapal yang terkait dengan jaringan rudal dan pelanggaran hak asasi manusia. AS - Uni Eropa (Barat) berkalkulasi, dengan cara demikian bakal menyebabkan pemerintahan Republik Islam Iran bakal goyah dan blingsatan.

Iran Berpijak pada Tauhid
Perspektif Barat mengandaikan, dengan beragam tekanan situasi di dalam negeri Iran bakal menyebabkan peningkatan kemiskinan akibat devaluasi mata uang Rial Iran. Lalu melonjaklah harga secara tak terkendali harga-harga barang consumer goods, perumahan, perawatan kesehatan, krisis obat, termasuk barang-barang toiletris. Muaranya? Pengangguran yang dapat menyebabkan terjadinya gejolak politik.
AS dan negara-negara sekongkolnya mengandaikan pemerintahan di Iran mudah ditaklukan, seperti pemerintahan negara-negara Arab di kawasan teluk sekutu dan sekufunya. Mereka kecelè dan tak paham, Iran berpijak pada tauhid. Visi pemerintahan Iran mengadopsi penuh visi Islam : bahagia di dunia dan di akhirat, seraya bebas dari petaka.
Allahyarham Sayyed Ali Khamenei mengejawantahkan firman Allah dalam al Qur'an sebagai asas master plan, dengan titik berat tugas utama pemerintah adalah melayani rakyat. Lima focal concern penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, penguatan potensi manusia (dalam menghadapi risiko eksistensial) dijalani: Pemenuhan keperluan pokok, Ekonomi Islam dengan seluruh maqasid berasas -- aqidah, syariah, muamalah, akhlaq --, kesehatan dan kecerdasan berasas sains dan teknologi. Lima hal asasi tersebut menjadi kunci pertahanan yang diperkuat oleh industri pertahanan yang tak terdua.
Pemerintah dan rakyat Iran taat pada apa yang digariskan Allah, Rasulullah Muhammad, patuh pada Pemimpin Tertinggi (dan dewan Rahbar), dan rakyat. Benteng ideologis dan praktis politik 'demokrasi Islam' sama sekali tak dikenali AS dan negara-negara sekongkolnya.
Karenanya, setelah mengetahui Sayyed Ali Khamenei dan sejumlah anggota keluarga syahid dalam serangan 28 Februari 2026 menyusul syahidnya pemimpin Garda Revolusi, Presiden, dan petinggi militer mereka beranggapan rezim sudah selesai dan bisa digantikan rezim baru yang merka rekomendasikan dan takluki pada mereka.
Media-media Barat menyampaikan berbagai informasi yang tak terverifikasi. Lantas, terperangah tak alang kepalang, ketika mereka tahu bagaimana Iran tak pernah tertaklukan. Keteguhan pada ideologi yang tak terbayangkan oleh AS dan sekongkolnya, menunjukan Iran punya daya serang yang menakjubkan.
Serangan-serangan rudal Iran ke Tel Aviv dan pangkalan-pangkalan militer AS di Bahrain, Qatar, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab menunjukkan daya juang dan kecintaan rakyat kepada pemimpinnya tak seperti yang mereka bayangkan. Menteri Luar Neger Abbas Araghchi lugas menyatakan, "Tak ada Super Power, kecuali Allah SWT."

Trump dan para taysennya menganggap syahidnya Ayatullah Sayyed Ali Khamenei hanya akan diratapi rakyatnya hanya sepekan dua pekan, ternyata tidak demikian. 131 haru persemayaman jenazah para mujahid dan mujahidah, termasuk anak-anak korban serangan rudal AS dan zionis Israel, justru menjadi sumber motivasi perjuangan. Hal itu terlikat di dalam kabid pesawat yang membawa delegasi Iran ke Islamabad, Pakistan untuk melakukan perundingan.
Kursi pesawat sejumlah anak-anak yang gugur pada 28 Februari 2026 diisi oleh backpack dan peralatan sekolah para pelajar itu. Termasuk foto-foto para mujahid mujahidah yang tewa bersama Ayatollah Sayyed Ali Khamenei.
Seluruh dunia tercekat dan mendecak, melihat laporan lapangan media arus utama dan media sosial Iran, menyaksikan jutaan orang, sejak 4 Juli 2026, setiap hari bertambah bilangannya menghadiri momentum perpisahan dan mengantar pemimpin yang dicintainya ke makamnya di tanah kelahirannya, Mashad (Kamis, 9/7/26). Inilah prosesi takziah dan perpisahan rakyat dengan pemimpinnya terbesar sepanjang sejarah modern.
Jutaan orang memadati kota-kota persinggahan jenazah, mulai dari Grand Musolla Tehran, kota spiritual Qom dan Mashad. Suasana perpisahan dan duka bahkan bewrlangsung di Najaf dan Karbala (Irak). Berbnagai stasiun televisi, kantor berita, surat kabar, portal berita secara multi media, multi channel, dan multi platform mengabarkan prosesi takziah, perpisahan dan pemakaman Ayatollah Sayyed Ali Khamenei.
Ini yang paling mengundang decak. Jutaan massa yang 'mengepung' truck pembawa jenazah menampakkan suasana dan situasi dengan kesan yang dominan. Layanan kepada mereka dari pemerintah dan lembaga kemasyarakatan dengan berbagai posko pelayanan, terkelola dan terorganisasi dengan baik.
Keteriban dan ritme yang stabil dalam prosesi jutaan kahalayak, itu memungkinkan pengunjung untuk datang dan pergi tanpa kemacetan besar. Dari laporan langsung berbagai media telihat, antrean panjang orang memenuhi jalanan denganarus tidak pernah berhenti. Penjadualan Alih-alih memusatkan kerumunan dalam waktu singkat, jadwal tersebut memungkinkan para pelayat untuk datang sepanjang hari sementara yang lain pergi setelah memberikan penghormatan terakhir.
Dari lapangan dilaporkan, pengaturan arus pentakziah ke Grand Musolla Tehran, diatur sedemikian rupa. Beberapa stasiun kereta bawah tanah yang terdekat dengan Mosalla ditutup sementara untuk mengurangi tekanan kerumunan. Banyak pentakziah yang jalan kaki untuk sampai ke lokasi persemaian jenazah. Pemerintah dan pengelola layanan kereta api bawah tanah mengambil kebijakan perjalanan gratis.

Pengendalian emosi dilakukan oleh para sukarelawan yang siaga menyambut para pentakziah dengan bunga berwarna putih. Lantas memandu mereka menjadi barisan pejalan kaki yang terus menerus bergerak menuju ke lokasi upacara. Mereka mengikuti alur jalan yang sudah disiapkan. Sejumlah ruas jalan menuju Mosalla, yang ditutup untuk lalu lintas reguler, menjadi koridor bagi barisan pentakziah.
Wartawan di lapangan melaporkan melalui medianya masing-masing, di sepanjang rute, para sukarelawan, kelompok komunitas lokal, dan asosiasi perdagangan melalui posko yang mjereka dirikan melayani para pentakziah dengan air minum dan minuman ringan.
Di atas jalur para pentakziah itu, terpasang berabagi pipa yang menyemprotkan air untuk mengimbangi panas terik matahari musim panas Teheran. Akan halnya petugas bomba mengendalikan kendaraan penyemprot air. Banyak sukarelawan dilengkapi dengan penyemprot kabut portabel ditempatkan setiap beberapa meter, membantu membuat perjalanan panjang lebih nyaman.
Hal lain yang menunjukkan kemampuan pemerintah dan masyarakat Iran mengelola jutaan orang di bawah terik matahari juga nampak dari perhatian atas detil terlihat di sepanjang rute. Kantong sampah dan tempat sampah telah ditempatkan pada interval yang relatif pendek, meskipun penggunaan botol dan gelas air sekali pakai tersebar luas, sedikit sampah yang terlihat.
Terlihat pula para pekerja sanitasi kota siaga bertugas di sepanjang jalan, membersihkan sampah hampir secepat munculnya sampah tersebut. Tim medis darurat, personel keamanan, dan sukarelawan ditempatkan di seluruh area, membantu pengunjung dan menjaga kelancaran pergerakan kerumunan.
Pentakziah memasuki halaman tengah Mosalla yang luas., tempat upacara perpisahan diadakan. Ruang terbuka yang besar itu tetap penuh sepanjang hari, namun suasananya senantiasa tertib. Saat satu kelompok pentakziah mencapai pusat tempat acara untuk memberi penghormatan, kelompok lain pergi, saling memberi kesempatan bertakziah, sehingga memungkinkan ribuan orang untuk bergerak melalui upacara tanpa mengganggu ritmenya.
Adalah menarik, ketika peristiwa takziah akbar terhadap pemimpin politik terbesar di dunia ini, khalayak datang dari berbagai kelompok generasi dan usia. Dari generasi tua yang, generasi baby boomers, Generasi Z, sampai ke anak-anak tumplek bleg di satu tempat. Banyak ayah mernggendong bocah mereka tanpa takut dan kuatir terjadi sesuatu yang membahagiakan. Para orang tua yang bersemangat, meski kondisi fisiknya harus menggunakan kursi roda dan penyangga tubuh mereka.

Kaum perempuan dengan kerudung, hijam, dan bahkan busana kasual dilengkapi kerudung, nampak di tengah kerumunan massa dengan arus pergerakan yang rapi. Nampak pula berdampingan dengan mereka, kaum perempuan dengan corak yang berbeda satu dengan lainnya menjukkan identitas asal mereka -- Afghanistan, Pakistan, India, Irak, Oman dan Melayu. Keberagaman yang indah.
Bendera Iran, bendera duka bertuliskan "Ya Hussein, Ya Aba Abdillah," (Wahai Husein.. Wahai Ayah para hamba Allah), "Latharat al-Hussein (Wahai Pembalas Darah Hussein) berkibar di atas jutaaan umat. Sejumlah spanduk dan poster juga membnawa pesan tersurat, bahwa mati dalam perang adalah syahid.
Mereka bermunajat, melantunkan salawat dan pujian kepada para suhada, sambil berurai air mata, sekaligus mengikuti syair duka, dan juga yel-yel. Nampak ekspresi persatuan di tengah keragaman.
Di seluruh Mosalla, para sukarelawan memandu pengunjung, khasnya utusan berbagai negara dan organisasi Islam internasional dengan sabar dan sopan. Display peti mati berbendera Iran di tempatkan di panggung dalam aula ber-AC yang juga menyediakan tempat untuk beristirahat dari panasnya musim panas.
Di bagian lain sudut ruang aula Musolla dengan karpet merah, itu memungkinkan para pentakziah bermunajat atau duduk berdo'a dengan tenang sebelum melanjutkan kunjungan mereka. Sistem kabut pendingin beroperasi di sebagian besar kompleks, untuk mengurangi dampak suhu tinggi. Di salah satu aula tertutup, terdengar syair elegi dan puisi dibacakan dalam bahasa Persia, Inggris, dan Urdu, para pentakziah brusaha khusyuk mendengarkan.
Bendera Iran, spanduk duka berwarna hitam, dan potret Ayatollah Sayyed Ali Khamenei menutupi sebagian besar tempat tersebut. Para jurnalis dari seluruh dunia yang meliput peristiwa bersejarah itu mendapat tempat khas. Dari tempat itu aktivitas liputan leluasa merekam, mendokumentasikian atmosfer yang dramatik dan luas..
Sebuah sspanduk panjang bergambar terpampang di jembatan penyeberangan orang. Massa melontar wajah Trump dengan kerikil, seperti momen melontar jumrah di Mina pada penghujung rangkaian ibadah haji. Dengan melontar poster berwajah itu merutuk Trump dan penjahat perang Benjamin Netanyahu, itu merupakan penanda kemarahan yang ekspresif. Peristiwa takziah, perpisahan abadi, dan pemakaman itu memang dahsyat! | jeahan