
Prosesi perpisahan akhir dan pemakaman ulama dan pemimpin kharismatik Iran, Ayatullah Sayyed Ali Hosseini Khamenei, sudah brerakhir, meski masih ada sisa-sisa sedih dan duka di jutaan rakyat negara yang melodius sekaligus ritmis, itu.
Jenazah Pemimpin Tertinggi (1989-2026) telah dimakamkan dengan baik di dalam berlangsung di kompleks pemakaman Imam ke 8 (dari 12) Umat Islam bermashab Syiah, Imam Ali bin Musa ar-Rida atau Imam Reza (Jum'at, 10/07/2026).
Makam Imam Syiah ke-8, Imam Ali bin Musa ar-Rida atau Imam Reza), berada di Kompleks Makam Suci di Mashhad, Iran. Untuk sampai ke titik akhir prosesi yang melintasi 136 hari sejak syahidnya Ayatollah Ali Khamenei beserta istri, anak, menantu dan cucu yang berusia 14 bulan (istri dan putri Ayatollah Mojtaba Khamenei yang diangkat oleh Dewan Garda Revolusi untuk melanjutkan perjuangan sebagai Pemimpin tertinggi Iran).
Tak kurang dari 100 utusan berbagai negara hadir, termasuk Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, sebagai telangkai yang memfasilitasi jalan diplomasi - dialog Iran dan AS. Dialog yang memungkinkan terjadinya gencatan senjata antara dua seteru lama. Terutama bila hendak dipahami watak wolak walik dan degil AS dan zionis Israel, sehingga tak mudah dipercaya.
Prosesi pemakaman tersebut juga menarik karena dihadiri utusan pemerintahan Thaliban Afghanistan, utusan Saudi Arabia, Rusia, China, Malaysia, Palestina, dan lainnya. Prosesi itu juga menarik dari sisi politik, lantaran tak ada utusan sekutu AS dan zionis Israel di kawasan teluk, seperti Uni Emirat Arab. tak mengirimkan utusan.
Pemerintah Iran perlu waktu lama untuk menentukan waktu yang tepat untuk memakamkan Ayatollah Khamenei yang juga wali faqih umat Syi'ah itu, mengingat situasi belum sungguh aman. AS dan zionis Israel -- menyimak omongan Trump dan Netanjahu -- masih kuat memendam rencana amibisiusnya, melantakkan dan memaksa Iran mengganti rezim dengan segala cara, sehingga ambisi dan fantasi dua negara kolonial, itu terpenuhi.
Karena situasi, itulah para ulama dan pemimpin Iran tidak menganjurkan Ayatollah Mojtaba Khamenei - Pemimpin Tertinggi Iran kini. Sesuatu yang sungguh merogoh rasa dan nurani sang pemimpin, karena para martir secara pribadi takj dapat dipisahkan dari dirinya.

Prosesi pemakaman terbesar sepanjang sejarah Alaf XXI, itu dimulai dari Grand Musolla Imam Khomeini di Tehran, kemudian Masjid Jamkaran di Qom (di kota ini juga ada situs ziarah Makam Fatima Ma'sumeh).
Dari Qom, jenazah Ayatollah Ali Khamenei ditebangkan ke Najaf (makam Imam Ali bin Abu Thalib), lalu diboyong ke Karbala (makam Imam Hussein bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah Muhammad SAW dari puterinya Fatima az Zahra) di Irak.
Belum lagi suasana duka dan perkabungan pungkas tuntas Presiden AS Donald Trump sudah berulah. Ia mengaku telah memrintahkan serdadunya di pangkalan militer terdekat dengan Iran melakukan serangan rudal ke Bandar Abbas dan Pulau Qasim di Selatan Iran. Tentu serangan itu, seperti serangan-serangan sebelumnya, memantik perang terbuka, mengabaikan hukum internasional.
Iran tak tinggal diam beraksi, lantas melakukan serangan balasan ke TelAviv, wilayah pendudukan Israel atas tanah Palestina yang diduduki semena-mena oleh zionis Israel, dan tentu pangkalan serdadu AS di kawasan Teluk.
Belakangan hari, sejumlah pangkalan serdadu AD di kawasan teluk yang berada di Qatar, Bahrain, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Oman. Serangan itu dipandang negara-negara sekutu AS sebagai serangan ke wilayah kedaulatan mereka.
Serangan balasan Iran, sesungguhnya mengejutkan AS dan zionis Israel, karena tak mereka bayangkan sebelumnya. Klaim kecanggihan Iron Dome Israel jebol dan rudal yang dikirim Iran melantakkan beberapa bagian wilayahnya, terutama ibu kota Tel Aviv.
Sebenarnya, serangan balasan Iran telah membuat AS dan zionis Israel nyaris kehilangan pamor sebagai negara dengan militer terkuat di dunia. Trump dan Netanjahu pun sibuk dengan beragam kilah untuk menutupi kenyataan pahit.

Ya'juj dan Ma'juj
Kala menerima kabar Ayotullah Ali Khamenei telah gugur dalam serangan sekonyong-konyong (28/2/26), Presiden AS, Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) zionis Israel, penjahat perang Benjamin Netanjahu sudah siap berjoget dan berasumsi, pemerintahan Republik Islam Iran sudah selesai.
Ternyata kenyataan tidak sesuai dengan asumsi itu. Serangan balasan Iran menghadang mereka untuk memutar otak memenuhi ambisi dan syahwat perang-nya, melakukan penetrasi dan invasi mengakhiri Republik Islam Iran, agar fantasi mereka mengganti rezim demokrasi Islam dengan rezim sekular yang disiapkan sebagai boneka mereka.
Trump boleh jadi memandang Iran sama dengan venezuela atau negara-negara begundalnya di kawasan Teluk. Apalagi, selama ini banyak tokoh penting Iran dan proxi-nya berhasil mereka sasar dan berguguran.
Mengandalkan jaringan sekongkol para penghianat yang digalang Mossad, mereka pandang serangan rudal AS dan zionis Israel -- yang diamsalkan bagai Ya'juj dan Ma'juj -- berhasil melumpuhkan Iran. Apalagi mereka telah mengajak dunia mengucilkan Iran selama empat dekade lebih melalui embargo dan blokade.
AS dan zionis Israel tak pernah paham, kala Iran memandang mereka sebagai Ya'juj dan Ma'jud ada panggilan suci untuk menempatkan Ayatollah Khamenei sebagai Dzulqarnain yang beroleh amanah Allah melindungi umat manusia. Antara lain dengan membangun sistem pertahanan yang mampu menangkal, menghalau, sekaligus scara langsung membalas, terutama melemahkan (atau bahkan) mengakhiri sistem pertahanan udara AS dan zionis Israel.
AS dan zionis Israel sesungguhnya terpana kala menyaksikan jutaan orang yang menyemut di setiap lokasi takziah (atas) prosesi perpisahan abadi dan pemakaman Ayatollah Ali Khamenei dan para martir yang dimulai 4 Juli 2026 (bertepatan dengan Hari Amerika Serikat).
Allahyarham Ayatolah Ali Khamenei dengan performanya telah menunjukan kepada khalayak global ihwal bagaimana integritas, kesalehan, ketegasan, keberanian, ketenangan, dan keberpihakan kepada umat dalam menghadapi berbagai cabaran dan tekanan internasional.

Dalam banyak hal dalam khutbah-khutbah dan pesan-pesan kepemimpinannya, Ayatollah Khamenei menyampikan apa yang diamanatkan dan difirmankan Allah dalam Al Qur'an dan 'mengalir' dalam pribadi Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan. Pesan dan isyarat berasas aqidah, syariah, muamalah, dan akhlaq.
Pesan dan amanah bertindak tegas terhadap musuh dan para begundalnya. Khasnya AS dn zionis Israel yang melalui aksi genosida yang dilakukannya, sangat anti anti keadilan, anti peradaban, dan anti kemanusiaan. Apalagi Mahkamah Internasional telah jelas memutuskan Netanjahu + petinggi zionis Israel sebagai penjahat perang. Kaum yang telah secara sengaja membuang akal budi merka, sehingga tak lagi punya simpati dan empati terhadap insan sesama.
Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran (1989-2026), Ayatullah Ali Khamenei kukuh pendirian untuk menjalani sikap yang jelas, menempatkan Allah SWT sebagai Super Power yang absolut, distinct dan unique tempat berlindung. Setarikan nafas menempatkan umat sebagai tujuan perkhidmatan. Lantas, dipertangguh oleh kesadaran menguasai sains dan teknologi sebagai cara membela dan melindungi manusia.
Bersama para Mullah, Dewan Garda Revolusi, Presiden (ke 9) Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian (sejak 28/7/24) dan para menterinya (terutama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi) dalam situasi dan kondisi bagaimanapun tak memutus tali tanggung jawab kepada umat / rakyat. Itulah sebabnya, Ayotallah Ali Khamenei menolak saran dan permintaan sejumlah pemimpin militer Iran agar berlindung
"Saya baru bersedia pergi ke sana, bila 90 juta rakyat Iran sudah berlindung ke dalam bunker," serunya. Di sisi lain, Ayatullah Ali Khamenei menjalani kehidupannya sehari-hari dengan kesederhanaan sebagaimana realitas hidup yang dijalani rakyatnya.
Ketika AS dan zionis Israel melalui serdadu gabungannya menembakkan rudal dalam serangan udara ke kediamannya (28/2/26) Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya sedang menjalani hidup keseharian. Antara lain, menderas ayat-ayat al Qur'an sebagai panduan kehidupan.
Sebelum menyerang rumah Ayatollah Ali Khameini, serdadu AS dan zionis Israel yang tak lagi punya akal budi - nurani kemanusiaan, telah lebih dulu menghantam Sekolah Dasar Putri Syajarat Thayyibah di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Serangan yang merampas hak hidup dan masa depan zaman dan menerjang hukum internasional.

Serangan brutal para penjahat perang itu menewaskan lebih dari 170 orang (sebagian besar anak-anak dan warga sipil). Kepribadian dan sikap Ayatollah Khamenei -- sebagai nilai yang diikuti para pemimpin Iran -- yang kalem, berwajah damai, berkomunikasi sesuai prinsip al Qur'an (bil hikmah wal mauizah hasanah) mendulang cinta dan simpati umat / rakyatnya.
Kekuatan cinta atau daya cinta umat / rakyat itulah yang membuat Iran -- yang sulit dipahami musuh-musuhnya -- mampu bertahan, melawan dan menerjang, menghadang dengan berani setiap ancaman, yang datang dari berbagai penjuru. Daya cinta itu terasa beresonansi di dawai akal budi dan nurani manusia, acap melihat gelombang massa umat / rakyat dalam prosesi perpisahan abadi, pemakaman itu.
Sebenarnya disadari atau tidak resonansi itu boleh jadi dirasakan oleh Trump. Namun untuk menutupi kegamangan dan kerisauan dirinya keluar pernyataan tak patut dari mulutnya. Trump mengklaim, sebenarnya bisa AS dan zionis Israel mampu menghabisi semua yang ada dan menjadi gelombang manusia dalam sekejap.
Bagi manusia yang beradab akan memandang jernih dengan perspektif lain, yakni dahsyatnya daya cinta umat / kepada pemimpin yang mencintai dan mengasihi mereka. Cinta bertemu dengan cinta menyatu dalam integrasi kasih sayang yang terintegrasi utuh, menjelma kala nama Allah disebut, sebagaimana cerminan dalam basmallah.
Hal semacam ini yang tak dimiliki Trump dan sekutunya, sehingga Konfrensi Tingkat Tinggi NATO (the North Atlantic Treaty Organization) di Ankara, (7/7/26 - 8/7/26) menyimpan bara pertentangan internal. Kendati Trump menyatakan ada cinta luar biasa di dalam ruangan, namun cinta yang liar. Ia sendiri lebih menampakkan syahwat kekuasaan dan mengabaikan cinta, ketika secara sepihak mengumumkan gencatan senjata berakhir. Lantas pulang dengan ganti pesawat lantaran ketar-ketir mendengar isu ancaman pembunuhan.
Sekretaris Jendral NATO, Mark Rutte mengklarifikasi, bahwa aliansi itu tidak akan terseret ke dalam konflik AS - zionis Israel versus Iran. KTT tersebut juga mengungkap kekecewaan Trump, lantaran sekutu lebih tidak bersedia berpartisipasi langsung dalam operasi tersebut.
Secara bersamaan, Prancis, Inggris dan Jerman telah mempertahankan sikap hati-hati terhadap kampanye AS-Israel, dan negara-negara seperti Spanyol dan Turki secara terbuka mengkritik tindakan militer tersebut. |