
JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | Daya pikat Wayang Kulit yang begitu mendarah-daging bagi orang Jawa, menyasar ke beberapa ranah kebudayaan, tak terkecuali Tionghoa. Silang budaya di antara keduanya melahirkan jenis pertunjukan wayang baru, hasil padu padan seni budaya Tionghoa-Jawa.
Denting gamelan beriring suara sinden perlahan mengalun. Sang dalang mencabut kayon yang terpancang di tengah kelir, tanda pertunjukan dimulai. Satu per satu tokoh wayang mulai keluar mengisi lakon. Hanya saja, tak ada tokoh-tokoh wayang kulit Jawa yang bersumber pada kitab Mahabharata, seperti Arjuna, Duryudana, Drona, Bima, dan lainnya yang tampil menjalin kisah.
Tokoh itu bersalin rupa dengan tokoh-tokoh dari kisah klasik Tiongkok, begitu pula lakonnya. Sekitar tahun 1925, seorang dalang peranakan Tionghoa, Gan Thwan Sing, membuat kreasi Wayang Kulit Cina-Jawa (Wacinwa) dengan memadu-padankan unsur khas/pakem pertunjukan wayang kulit Jawa dengan unsur cerita klasik Tiongkok.
“Wacinwa sejatinya melanjutkan riwayat panjang kesenian wayang tradisi Tiongkok, yang lantas dipadukan dengan wayang kulit Jawa. Persilangan kedua budaya itu saling mengisi dan meresapi,” ungkap Dwi Woro Retno Mastuti, peneliti budaya Peranakan Tionghoa-Jawa.
Dalam riwayat seni pertunjukan di Tiongkok, menurut Woro Mastuti, pertunjukan wayang yang disebut Piyingxi sangat populer di masa dinasti Song (960-1278) dan mencapai puncak keemasannya pada masa Dinasti Qing (1644-1911). Gemilang masa itu berakhir, sejak China menjadi Republik (1911). Pertunjukan wayang pun mulai diabaikan oleh pemerintah. “Melalui Wacinwa terdapat suatu nilai penting dari rasa identitas yang tersambung, unsur romantisme budaya Tiongkok dengan Jawa,” tambah Woro Mastuti kepada Akarpadinews.
Wayang Kulit Cina-Jawa dikenal pula dengan Wayang Thithi. Kata thithi dinukil dari suara thi.. thi.. thi.. yang bersumber dari alat musik yang terbuat dari kayu, Piak Ko, dan gemerincing suara alat musik Kepyak. Secara teknis berikut piranti pertunjukan Wacinwa, tak berbeda jauh dengan pertunjukan wayang kulit Jawa (purwa).
Durasi pertunjukannya sekitar 6-7 jam dan bahasa Jawa masih dipertahankan, terutama yang kerap dipakai sebagai bahasa sehari-hari (ngoko). Penarasiaan yang lumrah terdapat dalam pertunjukan wayang kulit Jawa, semisal suluk, kandha, dan carita juga lestari dalam Wacinwa.
Perbedaannya justru pada lakon pertunjukan. Lakon cerita yang dituangkan dalam Wacinwa adalah kisah kepahlawanan (wiracarita) Sie Jin Kwie yang merupakan legenda rakyat Tiongkok pada masa pemerintahan Dinasti Tang (618-907 M). Terdapat dua varian cerita, Sie Jin Kwie menyerbu ke timur (Ceng Tang) dan Sie Jin Kwie menyerbu ke barat (Ceng see). Dua varian cerita itu turut menentukan tokoh atau wayang yang ditampilkan.
Dalam pertunjukan Wacinwa memang tak dikenal adegan banyolan, atau panakawan. “Sebab tradisi Tiongkok tidak mengenal konsep panakawan. Namun pada periode selanjutnya, Gan Thwan Sing menciptakan tokoh-tokoh mirip panakawan yang diberi busana dan tata rambut bercorak China Klasik, kecuali Semar. Tokoh Semar tidak diciptakan karena, dianggap sebagai lambang kemuliaan orang Jawa,” ujar Woro Mastuti.
Sepeninggal Gan Thwan Sing, pertunjukan Wacinwa terbilang surut, bahkan punah. Penyebab utamanya tak lain, karena tak ada insan yang sudi melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Gan Thwan Sing. Generasi dalang setelahnya pun kehilangan jejak mengenai cara dan teknis serta penokohan Wacinwa.
Kesenian ini kembali lahir, tatkala para peneliti menyusun kajian tentang dua set Wayang Kulit Cina-Jawa yang masih tersisa di dunia. Dua set Wacinwa yang semula milik Chineesch Institut Yogyakarta terpecah. Satu set berada di Yogyakarta, sedangkan set lainnya berada di Jerman.
Pada tahun 1960 Dr. F. Seltmann membeli satu set Wacinwa kala berkunjung ke Yogyakarta. Set Wacinwa itu merupakan peruntukan pementasan lakon Sie Jin Kwie Ceng See. Setelah ia wafat, satu set koleksinya kemudian dibeli oleh Dr. Walter Angst, dan tercatat menjadi koleksi Uberlingen-Jerman. Sementara satu set lain, yang peruntukan pementasan lakon Sie Jin Kwie Ceng Tang menjadi koleksi Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta. Terdapat sekitar 200-an tokoh wayang dan ratusan karakter kepala wayang.
Setelah ditelaah dan dibandingkan, koleksi itu kemudian dibuat replikanya. Setelah melalui kajian medalam, akhirnya Wacinwa berhasil direkontruksi. Pada Pameran Wacinwa Silang Budaya Cina-Jawa, 3-10 Oktober 2014 silam, pertunjukan Wayang Kulit Cina-Jawa akhirnya kembali hadir dan bisa dinikmati. Pertunjukan itu dibawakan oleh Ki Aneng Kriswantoro dari Jurusan Pedalangan ISI Yogyakarta. Layar pun kembali terkembang.
I Dirga Adinata