
AKARPADINEWS.COM | KOMPUTER merupakan salah satu simbol kehadiran peradaban modern di abad ke-21. Saat ini, komputer sudah menjadi bagian dari aktivitas manusia. Dengan komputer, manusia dapat lebih mudah bekerja. Komputer juga menjadi instrumen bagi manusia untuk menggali sumber-sumber informasi dan pengetahuan, sekaligus menghibur diri tatkala berselancar di dunia maya, bermain games, berkomunikasi dengan manusia lainnya, dan sebagainya.
Namun, sebagian besar manusia hanya bisa menggunakan piranti canggih yang membuat aktivitas kehidupan lebih efektif dan efisien. Sementara sedikit penggunanya yang mengenal pencipta komputer. Siapa sang pencipta komputer?
Produk teknologi itu lahir dari gagasan jenius seorang imuwan bernama Alan Mathison Turing. Jangankan pengguna komputer di Indonesia, di Inggris sebagai negeri kelahirannya, bapak pencipta komputer ini kurang begitu dikenal. Bahkan, sosoknya identik dengan pelaku amoral karena Turing dianggap mengalami disorientasi seksual. Dia diketahui homoseksual.
Tudingan negatif yang menyebabkan nama Turing tidak seharum ilmuan lainnya seperti Albert Enstein (penemu teori relativitas), James Watt (penemu mesin uap), Thomas Alva Edison (penemu lampu), Steve Jobs (penemu dan pendiri pendiri pabrik komputer dan gadget Apple), dan ilmuan-ilmuan lainnya. Padahal, pengguna komputer merasakan betul manfaat teknologi yang diciptakan Turing. Dan, dia menciptakan komputer tidak dalam waktu sekejab. Namun, melalui tahapan panjang. Dia merakit komputer tatkala Perang Dunia II.
Turing lahir di London, Inggris, 23 Juni 1912. Dia adalah manusia jenius, yang juga gigih dalam menciptakan inovasi untuk mengubah kehidupan manusia dunia agar menjadi lebih baik. Ketika berusia 14 tahun, Turing muda rela mengayuh sepeda sejauh 97 kilometer untuk belajar di Sherbone School. Dia gemar menyendiri. Karenanya, Turing yang selalu menjadi juara di kelas, sering mendapat kekerasan dari teman sekolahnya. Turing hanya berteman dengan Christoper C Morcom. Turing menganggap Morcom, yang wafat karena menderita TBC itu sebagai sumber inspirasi.
Memasuki masa remaja, Turing tumbuh menjadi mahasiswa pintar, terbaik di Jurusan Matematika pada tahun 1935 di Universitas Cambridge, King’s College. Dia lalu melanjutkan jenjang pendidikannya ke Princenton University di Amerika Serikat pada tahun 1936 dan kembali ke Inggris pada tahun 1938. Nama Turing pun semakin dikenal sebagai matematikawan, kriptonalis (pemecah kode), dan ilmuwan komputer. Sepanjang hidupnya, ia menekuni matematika, ilmu komputer, dan kecerdasan buatan.
Biografi hidup Turing ditulis Andrew Hodges dalam buku Alan Turing: The Enigma. Buku itu yang menginspirasi penulis skenario, Graham Moore, untuk membuat film berjudul The Immitation Game. Film yang disutradarai Morten Tyldum dilakoni dengan baik oleh Benedict Cumberbatch.

Melalui film yang meraih tujuh nominasi dalam penghargaan Oscar tahun 2015, termasuk film terbaik, maka dapat diketahui kisah hidup Turing yang luar biasa. Ketika Perang Dunia II bergejolak, Turing yang ahli memecahkan teka-teki, bergabung dengan misi militer rahasia untuk Departemen Kriptoanalisi Inggris yang terdiri dari orang-orang terbaik dari Inggris, matematikawan, ahli bahasa, juara catur terbaik di Inggris dan pegawai intelegen. Tugas mereka adalah untuk memecahkan kode komunikasi rahasia perang Nazi Jerman bernama Enigma.
Meski tak bisa berbahasa Jerman, namun dengan matematika, Turing mampu mengurai dan menerjemahkan kode komunikasi tersebut. Turing peras otak tatkala tim kecil di misi rahasia tersebut kesulitan memecahkan kode.
Turing yang penyendiri dan selalu bersikap arogan memilih membuat mesin untuk memecahkan kode bernama mesin Christoper, yang diambil dari nama sahabat dekatnya tersebut. Namun, setelah Turing wafat, para ahli menyebutnya dengan mesin Turing sebagai cikal bakal pembuatan komputer.
Mesin Turing merupakan teknologi yang dapat berpikir seperti manusia dengan menggunakan perhitungan algoritma dan komputasi. Selama pembuatan mesin, Turing mengalami tekanan luar biasa dari mulai konflik dengan rekan kerja, kebencian komandan, anggapan sebagai mata-mata Uni Soviet hingga isu homoseksual. Namun, Turing tetap maju dan mesinnya berhasil memecahkan 3000 kode Enigma untuk keberhasilan sekutu memenangkan Perang Dunia II.
Sayangnya kisah hidup Turing tak sehebat pikirannya. Pergulatan hidup karena kehilangan sahabat, seringkali diintimidasi pada masa kecilnya. Dan, pada tahun 1952, usai menyumbangkan jasanya pada Perang Dunia II, ia ditangkap dan diadilii. Pasalnya, homoseksual di Inggris kala itu dianggap tindakan illegal dan beresiko terhadap keamanan yang memicu pemerasan di Inggris.
Untuk menghindari penjara, Turing memilih menyuntik dirinya dengan hormon estrogen dalam jangka waktu lama untuk mengubah orientasi seksualnya yang mengakibatkan dirinya impoten, gynecomastia, dan depresi.
Lantaran tak kuasa menahan derita, Turing bunuh diri pada 7 Juni 1954 di usia 41 tahun. Jasadnya ditemukan di Maide Vale, London, Inggris. Dia tewas akibat menyuntikan racun sianida pada apel. Setengah gigitan apel yang menewaskan Turing itu konon menjadi inspirasi Steve Jobs untuk logo komputer Apple.

Turing wafat dengan mewarisi berbagai penemuan yang sangat berjasa seperti Halting Problem, Turing Machine, Cryptanaysis of the Enigma, dan Automatic Computing Engine (ACE). Besarnya jasa Turing, tentu sangat wajar jika dibalas dengan penghormatan. Dia selayaknya tercatat sebagai pahlawan perang dan aktor utama yang mampu mempersingkat Perang Dunia II sampai dua tahun dan menyelamatkan lebih dari 14 juta jiwa.
Sayang, jasa Turing baru diakui setelah 60 tahun kematiannya. Sanksi sosial itu dicabut setelah Ratu Elizabeth II mengampuni dan memulihkan nama Turing karena penemuannya yang begitu berjasa. Namanya pun digunakan sebagai nama penghargaan dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), setara dengan penghargaan Nobel. Penghargaan ini dikenal dengan Turing Award.
Dengan kekayaan pemikiran dan sikapnya, Turing tidak hanya menunjukan identitas sebagai ilmuan. Namun, Turing adalah sosok moralis dan humanis sejati. Misinya menghentikan perang dunia merupakan tindakan kemanusiaan yang patut diapresiasi. Bukan justru sebaliknya, Turing mengalami marginalisasi akibat dituding homoseksual. Turing adalah sosok yang selalu menebar pesan-pesan damai dan mampu mengubah aktivitas manusia di dunia menjadi lebih baik.
Ratu Selvi Agnesia