Prosesi Panjang Pemakaman Petinju Legendaris Dunia

Muhammad Ali Membuktikan Islam Itu Damai

| dilihat 2958

PERJALANAN pulang Muhammad Ali ke haribaan Ilahi Rabby di Louisville, Kentucky – Amerika Serikat adalah rangkaian prosesi indah dan menegaskan Ali sebagai idola bagi siapa saja.

Sebelum prosesi itu berlangsung, Jum’at (10/6/16) waktu setempat, Presiden Obama sempat menelepon Lonnie Ali, isteri mendiang juara dunia tinju kelas berat itu.

Di lapangan, dinas rahasia AS, telah mensterilkan jalur yang akan dilalui jenazah Ali. Di sepanjang pusat kota Louisville, polisi dan kendaraan keamanan berdesakan dengan bus turis penuh fans Ali. Mereka memastikan situasi aman dan prosesi pemakaman Ali berjalan lancar.

Prosesi pemakaman Ali berlangsung sepekan setelah wafatnya, yang diisi dengan rangkaian zikir dan lantunan doá-do’a di berbagai tempat dalam komunitas Islam – Amerika Serikat.

Prosesi itu menelusuri prosesi yang sama tahun 1960 ketika dia diarak melalui pawai selepas memenangkan medali emas tinju Olimpiade untuk Amerika Serikat. Termasuk jalan yang menyandang namanya. Bersamaan dengan itu, di New York, salah satu jalan di Manhattan telah berganti nama dengan namanya.

Sejumlah media, termasuk BBC, CNN, dan Fox memberi ilustrasi, keberadaan petugas keamanan, itu menunjukkan kemampuan Ali menggusarkan lawan tidak pupus bersamaan dengan wafatnya.

Terutama ketika prosesi itu berlangsung pada momen ketika serangan terhadap masjid dan komunitas muslim di Amerika Serikat cenderung meningkat, menyusul serangan teroris di Paris dan San Bernardino, California.

Ali wafat di musim kampanye bakal calon presiden  Amerika Serikat, yang sempat membuat Donald Trumph – salah satu bakal kandidat Partai Republik, telah menyerukan, agar pemerintah, untuk sementara waktu,  melarang masuk ke Amerika Serikat semua imigran muslim dari belahan dunia manapun.

Semasa hidupnya, Ali setelah memeluk Islam, sempat mengalami diskriminasi, terutama ketika dia bergabung dengan komunitas muslim pimpinan Malcolm X, sebelum akhirnya mendalami mazhab sunni.

Jenazah Ali kemudian disemayamkan sesaat di KFC Yum Center berkapasitas 20.000 orang yang dipenuhi oleh fans-nya. Di situ Ali mendapatkan penghormatan, sebelum dikebumikan di Cave Hill Cemetery - pemakaman kota kelahirannya.

Sepanjang perjalanan, para fans dan pemujanya yang berdatangan ke kota itu dan penduduk setempat mengelu-elukan kendaraan yang membawa jenazahnya. Di mobil jenazah itu, tampak Rahman Ali saudara kandung almarhum, menemani.

Mereka memburu, menyentuh dan melontarkan bunga tanda simpati dan cinta kepada mendiang Muhammad Ali, petinju legendaris dunia berusia 74 tahun, yang meninggal di Phoenix hospital – Arizona. Sebelumnya selama tiga dasawarsa Ali berkutat menghadapi penyakit Parkinson.

Penyakit yang oleh Ali sendiri diterima sebagai isyarat dari Allah, bahwa dia tak pantas menyandang The Greatest, karena yang paling berhak disebut The Greatest adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penghormatan besar itu sangat wajar diterima Ali, yang menurut Bob Gunnell,  juru bicara keluarga, adalah tokoh besar dunia yang kematiannya menyedihkan begitu banyak orang dari semua lapisan. Dan 100 ribu orang mendatangi kota kelahiran Ali, kemudian berbela sungkawa di Muhammad Ali Center atau di rumah masa kanak-kanak Ali yang tak begitu besar.

Ali bukan hanya petinju, dia adalah pahlawan dan jawara bagi rakyat, khususnya yang mengalami diskriminasi dan terpinggirkan oleh sistem kehidupan sosial yang diskriminatif. “Penghormatan yang diterima Ali adalah bukti, bahwa dia sungguh jawara rakyat,”ungkap Gunnel.

Juru bicara keluarga itu menambahkan,“Sambutan begitu banyak kalangan lintas agama terhadap dirinya, menunjukkan pengabdiannya kepada rakyat dan umat manusia dari semua rasa, agama, dan latar belakang,”tambah Gunnel.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan, “Ali telah mengguncang dunia dan membuat dunia menjadi lebih baik.” Bagi Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan - yang terbang khusus dari negerinya, Muhammad Ali adalah pejuang muslim. Ia datang ingin menyertakan potongan kain kiswah yang dibawanya untuk diletakkan di peti mati Muhammad Ali, tapi panyelenggara pemakaman melarangnya.

Mantan juara tinju kelas berat Evander Holyfield mengatakan skala keramaian untuk menghormati wafatnya adalah bukti bahwa dia milik umat manusia. Ali, kata Holyfield, "mungkin sedang melihat semua ras yang berbeda datang bersama-sama, untuk melepasnya.”

Bagi Imam Zaid Shakir, apa yang terjadi selama berlangsung upacara do’a – zikir -, pembacaan puisi dan narasi dalam ritual Islam, merupakan akhir perjalanan hidup yang meria dan indah.

“Dia meninggalkan cap yang tak terhapuskan dan akan selalu dikenang sebagai jagoan rakyat!” ungkap Imam Zaid Shakir

Akan halnya mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, menyebut Ali, sebagai “seorang prajurit universal untuk kemanusiaan kita.”

Di mata Clinton, Ali hidup dengan penuh keyakinan agama dan politik. Dan, itulah yang menyebabkan almarhum berani menempuh pilihan sulit dalam beberapa episode kehidupannya, dengan segala konsekuensi.

Sebagai juara tindu legendaris, Ali telah berjuang mengangkat kesetaraan warga kulit hitam dan berkampanye untuk itu tanpa henti. Dan Ali, seperti yang ia inginkan, tak hanya dikenang sebagai petinju di atas ring.  Terlalu banyak julukan yang harus diterima mendiang Ali.

Ali yang pernah menjadi bagian dari tokoh-tokoh polarisasi di Amerika Serikat, menjadi bagian Nation of Islam yang menolak pendekatan termasuk dari pemimpin hak-hak sipil seperti Martin Luther King. Namun ia tetap bersahabat, sebagaimana persahabatan dia dengan pendeta Jesse Jackson.

George Foreman yang pernah bertarung dengan Ali di atas Ring di Kinshasa – Afrika (1974), menyebut almarhum yang bergelar “Rumble in the Jungle,” sebagai salahsatu manusia berjiwa besar yang pernah dikenalnya. “Sangat tidak adil bila kita hanya melihat Ali sebagai petinju,” ungkap Foreman.

Bagi pejuang hak-hak sipil Amerika Serikat, Jesse Jackson, Ali pejuang hak-hak sipil luar biasa. “Dia telah bersedia mengorbankan mahkota dan uang untuk prinsip-prinsipnya,” ungkap Jackson. (Baca juga : Muhammad Ali, Petinju dan Pejuang Hak Sipil Legendaris

Penyair Bryant Gumbel, memuji almarhum, sebagai seorang lelaki yang “memberi kami tingkat kekuatan dan keberanian yang bahkan tidak tahu (kalau) kita punya.”

Kata-katanya menginspirasi Bill Clinton untuk mengatakan, “Kita semua memiliki cerita  tentang Ali. Ini adalah hadiah bagi kita, dan dia (Ali) adalah milik kita, yang harus paling dihormati saat ini.”

Ali, menurut Clinton, telah merilis kepada dunia, bahwa kita bisa melihat, dengan cara apapun, dia tidak pernah membuang-buang harinya untuk ditaklukan oleh penyakitnya.

Di mata komedian Billy Crystal, Ali telah mengajarkan hal yang terbaik, bagaimana membangun jembatan antara manusia, bukan di antara dinding (beton). “Kami berada di titik tengah,” ujarnya, sambil mengenang, bagaimana performanya di atas panggung ketika tampil bareng, almarhum telah mencukur bersih kepiawaiannya sebagai komedian.

Seorang teman lama Ali, John Ramsey, ketika berbicara di balik podium tak bisa bicara banyak. Wajahnya nampak terharu. Dia mengingat banyak hal yang sangat menyentuh dimensi kemanusiaan, dan tak kuasa mengungkapnya melalui kata-kata dalam kesempatan itu.

 Puteri mendiang, Rasheda Ali memberi kesaksian tersendiri tentang mendiang ayahnya. Demikian juga saudara tirinya, Muryam Ali. Rasheda sempat terbata-bata menyampaikan testimoni tentang ayahnya, karena dia sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, mempunyai kedekatan yang khas dengan mendiang ayahnya.

Muryam dan isteri keempat Ali, Lonnie memberikan penghormatan singkat tapi sangat menyentuh. “Jika saya punya satu dollar untuk setiap cerita – tentang ayahnya membantu orang – aku bisa mencapai langit di atas (tumpukannya),”ungkap Muryam.

Bagi Lonnie, Ali adalah segalanya. “Amerika tidak boleh lupa, bahwa ketika seorang polisi dan seorang anak dalam suatu kota berbicara satu sama lain, bisa terjadi mukjizat di dalamnya.,” ungkap Lonnie. Ia mengenang pertemuan yang mengubah hidup seorang bocah Kentucky berusia 12 tahun dengan polisi Joe Martin.

Sang bocah bernama Cassius Clay, itu kemudian menjadi orang besar dunia dan dunia melepasnya menuju keabadian dengan duka.

Akan halnya Alessandra ‘Ali’ DiNicola, puteri pengacara kawakan DiNicola, berkesaksian tentang Natasha Mundkur, yang sekarang mahasiswa Universitas Louisville.

Natasha, kini mahasiswi berusia 19 tahun, yang terganggu ketika disebut teroris dan menghadapi masalah untuk kembali ke negaranya sendiri. Natasha mengatakan, mendiang sangat membantu dirinya menemukan kembali hak-hak sipilnya.

“Dulu hal itu mustahil dan bukan fakta. Ternyata memang fakta yang ada. Kemustahilan itu (yang) tidak ada,”ujar Alessandra.

Pada pelepasan jenazahnya, selain para penggemar, rekan dan kalangan dekat, serta keluarga, juga berbicara bergantian para pemimpin agama-agama.

Keluarga, orang-orang terkenal para sahabat Ali, serta para imam, pendeta, rabi dan mantan presiden Amerika Serikat bergantian di podium, seperti yang dilakukan hitam dan putih, muda dan tua. Mereka berdiri di depan dengan latar belakang bendera Amerika di satu sisi dan bendera Olimpiade di sisi lain, dengan cincin yang saling yang mewakili negara-negara bervariasi dari Bumi.

Ribuan pengagum Muhammad Ali, melakukan salat jenazah atas Ali. Juga nampak para pesohor, seperti Arnold Schwarzeneger, Mike Tyson, Cat Steven, dan lain-lain.

Pelepasan itu dimulai dengan pembacaan ayat suci al Qur’an oleh Hamzah Abdul Malik, yang membuat suasana hening dan menggetarkan hati. Keluarga almarhum, nampak mengikuti upacara dengan tenang. Terlihat anak-anak mendiang : Rasheda Ali, Hana Ali, Laila Ali, Maryum Ali, Jamilah Ali, Khaliah Ali, Miya Ali, Asaad Amin Ali, dan Muhammad Ali Jr. Selain isterinya, Lonnie, juga terlihat mantan isteri Ali, Belinda dan Veronica.

Mereka menyimak satu demi satu testimoni. Kadang mereka terharu, kadang bertempik bangga. Nampak wajah mereka serius, ketika para pemberi testimoni menyebut bagaimana perjuangan ayah mereka.

Mereka mengantar orang yang paling mereka cintai, itu dengan keikhlasan. Ketika iring-iringan mobil jenazah memasuki pemakaman, masyarakat yang menunggu di sepanjang jalan, berseru: Ali... Ali.. Ali.. we love Ali.. Dan pemakaman cara Islam itu berlangsung dengan aneka suasana hati. Selamat jalan pahlawan rakyat.. Ali meninggalkan kesan luar biasa: Islam itu Damai. | JM Fadhillah.

Editor : sem haesy | Sumber : BBC, CNN, GUARDIAN, PARIS MATCH, AP, AFP
 
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 114
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 242
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 205
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 566
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 329
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 414
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 585
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya