Tak Kuasa Melawan Parkinson

Muhammad Ali, Petinju dan Pejuang Hak Sipil Legendaris

| dilihat 2498

KENTUCKY, AKARPADINEWS.COM | AKHIRNYA waktu itu tiba juga. Allah subhanahu wa taala, Sang Penentu hidup dan mati, wasit teradil tiada sanding tiada banding, mengirim malaikat-Nya, menjemput Jawara Tinju legendaris Muhammad Ali, dalam usia 74 tahun, Jum’at (3/6/16) waktu setempat atau Sabtu (4/6/16) waktu Indonesia Barat, di sebuah rumah sakit di kota Phoenix, Arizona Amerika Serikat.

Muhammad Ali dilarikan ke rumah sakit itu sejak Kamis (2/6/16), setelah mengalami batuk parah dan memngalami gangguan pernafasan. Sejak masuk rumah sakit, ia ditemani oleh keluarganya.

Lebih dari 32 tahun, petinju legendaris -- yang teramat sohor di dunia--, itu  mengalami gangguan penyakit parkinson, sehingga mengalami kondisi yang paling rumit untuk kesehatannya.

Setelah didiagnosis tahun 1984, Ali dinyatakan mengalami gangguan penyakit parkinson, akibat dalam berbagai pertarungannya di atas ring, banyak pukulan menghunjam ke kepalanya.

Penyakit parkinson inilah yang menyebabkan Ali, di masa tuanya dan menjelang wafatnya sering mengalami berbagai gangguan penyakit, termasuk pernafasan.

Dalam berbagai penampilannya, Ali nampak tak setegar dulu. Geraknya lamban. Belakangan, kehadiran dia di berbagai forum publik, selalu didampingi keluarganya. Terutama isteri atau anaknya, yang setia memapah. Namun Ali tak kehilangan pesona personanya sebagai negro Amerka Serikat yang keren.

Juru bicara keluarga menyatakan, almarhum yang selama ini dikenal sebagai petinju terbaik sepanjang masa akan dimakamkan di kampung halamannya, Louisville – Kentucky, Amerika Serikat. “Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian khalayak yang telah mencurahkan dukungan doa, simpati dan empati kepada almarhum,”ujar juru bicara keluarganya itu.

Sepanjang karirnya sebagai petinju, Muhammad Ali yang semula bernama Cassius Clay, itu tiga kali menjadi Juara Dunia Kelas Berat.

Juru bicara keluarga juga menjelaskan, Kamis, keluarganya mendapati Ali mengalami kesulitan luar biasa, dan ‘hampir tidak bernafas’ di rumahnya. Karena itu, ia segera dilarikan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit, dan ketika tiba di rumah sakit, Ali berulang-ulang mengalami batuk yang tak seperti biasanya.

Dokter yang memeriksanya kemudian menjelaskan, Ali mengalami gangguan pernafasan fatal, yang dipengaruhi oleh parkinson yang selama ini menghambatnya. Tim dokter berusaha menyelamatkan Ali, tapi Allah yang menciptakannya, menentukan lain.  “Kondisinya langsung memburuk, dan almarhum menghembuskan nafas terakhir,”ungkap Bob Gunnel, sang juru bicara.

Keluarga besar Ali berduka dengan kematian sang jawara, namun mereka pasrah. Terutama, karena Ali menghembuskan nafas terakhirnya di tengah keluarga. “Beliau menghembuskan nafas terakhir dengan damai, mereka ikhlas kehilangan sosok panutan keluarga yang juga merupakan orang besar dunia.

Menyusul wafatnya Ali, Donald Trumph yang sedang sibuk bertarung sebagai bakal kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, menyatakan duka mendalam, dan menyebut Ali merupakan benar-benar jawara yang hebat, sekaligus lelaki yang berpesona luar biasa.

Ali termasuk petinju yang kemashurannya berkontribusi atas kekayaan Trumph, atas beberapa kali pertarungannya yang digelar di Los Angeles, tempat Trumph memangun kerajaan bisnisnya.

Salah seorang puteri almarhum,  Rashida Ali mengatakan, ayahnya adalah The Greatest Man yang pernah hidup. “Daddy sahabat dan pahlawanku. Sekarang dia tidak menderita lagi dan telah memperoleh tempat yang baik.”

Rashida dan Layla adalah salah dua dari tujuh puteri Ali. Dari empat kali pernikahannya, Muhammad Ali mendapat sembilan anak. Tujuh perempuan dan dua laki-laki. Namun, yang meneruskan karir tinjunya justru Layla.  

Sejumlah kalangan di dunia segera bereaksi atas wafatnya Ali. Mike Tyson, mantan juara tinju dunia kelas berat dalam cuitannya di akun twitternya mengatakan, dia tak memiliki kata-kata lebih baik untuk mengatakan tentang Ali. “Tuhan datang untuk juara-Nya,”tulis Tyson.

Dunia akan mengenang Ali karena prestasinya yang luar biasa di atas ring tinju. Dia dikenang karena kemenangannya yang menakjubkan atas petinju kelas berat yang diduga orang tak kan terkalahkan, Sonny Liston.

Kemenangannya yang menakjubkan atas George Foreman The Rumble in the Jungle dan Joe Frazier The Thrilla di Manila, tak kan dilupakan orang.

Atas wafatnya, Foreman mengatakan : ”Dia (Ali) adalah (petinju) yang terbesar. Jika Anda tidak suka padanya dan Anda ingin lebih dari apa pun untuk melihat dia lagi, maka Anda bisa tidak menyukainya lagi.”

Menurut Foreman, sulit untuk menolak kenyataan, bahwa Ali memang petinju terbesar dan disukai secara luas umat manusia di dunia. “Muhammad Ali, membuat Anda mencintainya,”ungkap Foreman kepada BBC – London.

Sebelum bertarung di jalur profesional, Ali dikenal sebagai petunju amatir yang memberikan medali emas bagi Amerika Serikat, di Olimpiade 1960 – Roma, Italia.

Karir Muhammad Ali terus bergerak naik dan popularitasnya membuat masyarakat di seluruh dunia membicarakannya. Petinju yang pernah juga dijukuki sebagai The Big Mouse – si Mulut Besar, ini selalu berkomentar selepas menumbangkan lawan tandingnya di atas ring tinju.

Dialah petinju yang pertama kali menggunakan taktik psy war, sebelum pertandingan dimulai. Biasanya, selepas menimbang berat badannya, Ali mulai ‘menohok’ bakal lawannya dengan kata-kata yang membuat lawan terganggu jiwanya.

Ali terkenal dengan omongannya, sebagai satu-satunya petinju yang, ‘melayang bagai kupu-kupu dan menyengat bagai lebah.’ Kata-katanya itu bukan kata-kata kosong. Ali membuktikannya di atas ring.

Kata-katanya itu mewujud di atas ring, seolah gabungan tinju dan tari sekaligus. Dengan gayanya yang khas, itu Ali memang menunjukkan kelas serta kualitasnya sebagai petinju profesional.

Sepanjang karirnya sebagai petinju, Ali tak pernah terkalahkan. Dari 24 pertarungannya, Ali menyelesaikan 21 di antaranya dengan knock out (KO), dan sisanya technical knock out (TKO). Tahun 2007 Ali menggantung sabuk dan meninggalkan ring tinju.

Itulah yang menyebabkan, David Beckham – sang jawara di lapangan sepakbola menyebutnya sebagai ikonik dunia tinju. Beckham mengungkapkan, banyak kata-kata yang diucapkan petinju legendaris, itu merasuk ke dalam dirinya, dan dia yakini menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.

Kata-kata yang diucapkan Ali, bagi Beckham, mustahil diungkapkan begitu saja, tanpa dia membuktikan dirinya mampu dan berhasil mengeksplorasi kekuatan yang kemudian mengubah sosoknya dalam konstelasi orang-orang besar di dunia.

Beckham meyakini, kata-kata Ali merupakan ekspresi kenyataan yang berhasil diwujudkannya. “Mustahil kata-kata itu bukan fakta, mustahil bersifat sementara, dan mustahil bukan merupakan potensi yang mewujud, karena Ali berhasil membuktikan yang mustahil adalah nyata. Impossible is nothing,”ungkap Beckham.

Bagi Amerika Serikat, Ali merupakan sosok petinju legendaris kontroversial yang teguh memilih dan menentukan sikap, meski dia harus kehilangan banyak hal, termasuk gelar juaranya. Pemerintah Amerika Serikat, pernah ‘merampas’ gelar juara kelas berat dunia darinya, hanya karena dia menolak untuk mengikuti kewajiban berperang di Vietnam.

Tak hanya menolak perang. Ali juga berbicara untuk hak-hak sipil Afrika-Amerika yang kemudian membuat dia dilucuti dari gelar yang pernah disandangnya, dan dilarang aktif di dunianya, dunia olahraga.

Integritas pribadi Ali memang luar biasa. Pendeta Jesse Jackson yang bersahabat dengan Ali lebih dari 40 tahun menyebut, “Pemerintah AS mencoba untuk menurunkan dia dari tahtanya, untuk mempermalukan dia, tapi Ali tidak pernah tunduk,”kata Jackson.

Pendeta sohor itu, menyatakan, mendiang adalah seorang lelaki yang menantang martabat, dan dia mendapatkan harkat dan martabat sebagai manusia dengan pesona persona luar biasa.

“Ali tak gusar dan bersedia masuk penjara untuk prinsip-prinsip yang dipegangnya secara teguh. Saya menyaksikan beberapa pengorbanan dia di puncak karirnya,”ungkap Jackson lagi.

Menurut Jesse Jackson, Ali telah mengubah budaya warga negara Amerika Serikat kala itu. Khasnya dalam mengekspresikan diri yang semuanya murni berasal dari dirinya sendiri.

“Tak terkecuali dalam menunjukkan sikap dan pandangan politiknya, kala menolak tekanan pemerintah Amerika Serikat,” lanjut Jackson.

Ali menunjukkan sikapnya seperti halnya dia menunjukkan sikap menghadapi lawan tanding di atas ring.

Promotor tinju Bob Arum mengatakan: “Ketika orang melihat apa yang telah dia lakukan untuk mempertahankan apa yang dia percaya. Kemudian dia datang melalui semua itu (dengan energi) lebih besar dan lebih penting daripada sebelumnya.”

Hal itu diungkapkan Arum untuk menjelaskan, bagaimana Ali membuang tiga setengah tahun karirnya di dalam penjara karena tak mau perang di Vietnam, dan memperjuangkan hak-hak sipil yang dia pegang teguh sampai akhir hayatnya. | JM Fadhillah  

Editor : sem haesy | Sumber : AP, Independent, USA Today, BBC
 
Polhukam
13 Sep 19, 10:20 WIB | Dilihat : 861
Menghantar Bapak Demokrasi, Mengenang SU MPR 1999
10 Sep 19, 10:36 WIB | Dilihat : 333
Transformasi Jakarta Tidak Terbendung
07 Sep 19, 21:04 WIB | Dilihat : 264
Jakarta Jantung Ekonomi dan Budaya
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1457
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1149
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 1134
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya