Kisruh Film Soekarno Berlanjut

| dilihat 2609

JAKARTA, AKARPADINEWS.Com- Pengadilan Niaga Jakarta Pusat (Rabu, 11/12) mengeluarkan penetapan sementara tentang kisruh Film Soekarno, bernomor 93/Pdt.sus/Hak Cipta/2013/PN.Niaga. Jkt.Pst. Isinya: meminta PT Tripar Multivision Plus, milik Raam Punjabi, produser film yang disutradarai Hanung Bramantio, itu menyerahkan master film dan menghentikan peredaran film tentang proklamasi itu. Pengadilan Niaga mengeluarkan penetapan itu, menyusul gugatan salah satu putri Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri. Gugatan itu disampaikan Turman M. Panggabean, kuasa hukum Rachmawati, sehari sebelumnya (Selasa, 10/12).


Tak hanya master film, pihak Multivision dan sutradara Hanung Bramantyo, kudu menyerahkan skrip film tersebut kepada Rachmawati. Film yang dibintangi Ario Bayu, itu sempat diputar khusus pada gala premier yang ditonton putera putri Soekarno dengan Fatmawati dan Ratna Sari Dewi: Guntur Soekarnoputra, Sukmawati Soekarnoputri, dan Karina Kartika Soekarnoputri.


Meski menilai tak sempurna, ketiga putera-puteri Bung Karno itu menilai film tentang bapak mereka itu cukup menggugah secara emosional. “Ini film yang baik,” kata Sukmawati yang memang terkenal sebagai seniwati itu. “Tapi belum mencapai kualitas terbaik. Saya maklumi. Ini ‘kan film pertama,” kata Guntur. “Ini film yang emosional. Saya menyukainya. Saya sangat bangga kepada ayah saya,” ungkap Kartika. Sukmawati menilai ada beberapa detail tentang almarhum ayahnya, proklamator Republik Indonesia, itu yang belum sempurna. Meski demikian, Ario Bayu pemeran Soekarno, sangat menjiwai karakter tersebut.


Lantas apa keberatan Rachmawati? Panjang ceritanya. Kisruh film ini bermula dari keberatan Rachmawati atas skrip yang dibuat Hanung. Rachmawati juga keberatan dengan pemeran Soekarno. Rachma pun tidak sepakat dengan Hanung yang menggandeng Raam untuk memproduksi film ini, seperti cerita Turman kepada TEMPO. Karenanya, Rachma keluar dari kerjasama itu. Hanung dan Raam meneruskan produksi film tersebut.


Rachma memang marah. Ia, bahkan melaporkan produksi film ini ke Polda Metro Jaya. Polisi sempat memanggil enam orang saksi untuk diperiksa. Delik aduan, agaknya. Karena pihak Rachma memang mengadukan dugaan pelanggaran Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Jadi, masuk ranah pidana. Pasalnya, pembuatan film itu diklaim Rachma sebagai gagasan Rachmawati dari Yayasan Pendidikan Soekarno.

Cecep Kepada media, Hanung mengungkapkan, pangkal masalah adalah pemilihan pemeran tokoh Soekarno. Menurut cerita hanung, mulanya dia melakukan seleksi terbuka atas beberapa nama aktor yang akan memerankan tokoh Soekarno, termasuk Anjasmara. Tapi, Anjas tersisih, dan Hanung memilih Ario Bayu. Untuk menghormati Rachma, Hanung memoles dan mengirim teaser-nya kepada Rachma. Namun, Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno itu tidak merespon. Tak berapa lama, Rachma membatalkan kerjasama. Multivision menerima pengakhiran kerja sama itu pada Juni 2013, itu.

Rachma menghendaki Anjasmara menjadi pemeran Soekarno. Alasan Hanung tak mau memakai Anjasmara sebagai pemeran tokoh Soekarno, karena dia pernah menyutradarai suami Dian Nitami, itu. Hanung menyutradarai Anjasmara yang berperan sebagai Soekarno dalam Pustaka Tokoh Bangsa Tahun 2004. “Saya ingin sesuatu yang baru,” ungkap Hanung. Dari postur, karakter, gestur, mimik, dan beragam faktor utama seorang aktor, Ario Bayu memang lebih pas memerankan tokoh Soekarno, seperti ungkap Zacky, penonton dalam kesempatan gala premier itu.


Dari penelusuran pustaka Akarpadinews, diperoleh data, Anjasmara pernah memerankan serial sinetron panjang produksi Multivision. Ia memerankan tokoh Cecep dalam sinetron tentang lelaki lemah mental dari keluarga miskin. Anjasmara sangat kuat memerankan tokoh Cecep, sehingga sosok lelaki lemah mental yang baik hati, itu melekat pada diri anjasmara. Anjas juga memerankan beberapa tokoh dalam sinetron remaja dengan karakter yang berbeda dengan sosok Soekarno. Tak jelas, apakah melekatnya karakter Cecep ikut memengaruhi pemilihan pemeran Soekarno itu, sesuai dengan prinsip Hanung menghormati sosok Soekarno sebagai proklamator dan Presiden Republik Indonesia pertama. Soal ini, belum terkonfirmasi kepada Hanung maupun pihak Multivision |

Editor : Nur Baety Rofiq
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1936
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2299
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 152
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 388
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya