
Bang Sem
ADA yang lewat begitu saja, karena lekas tertimbun sisik melik peristiwa dan aneka berita. Ini terkait dengan pesan Megawati Soekarnoputri – Ketua Umum PDIP, saat partai yang dipimpinnya (PDI Perjuangan) memperingati hari jadi ke 42, di kantor DPP PDIP – Lenteng Agung, Sabtu (10/1/15).
Kala itu, di hadapan khalayak, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Kweek Kian Gie, KH Hasyim Muzadi, dan lain-lain, Mega mengingatkan Jokowi (tentu sebagai Petugas Partai), untuk tidak melihat hanya sisi megah dan gemerlap istana.
"Sebelum Ir Jokowi ini dilantik sebagai Presiden, saya secara khusus mengingatkan, agar jangan melihat Istana dari sisi megahnya, dari sisi terangnya saja. Tetapi lihatlah juga sisi gelapnya, kenalilah sisi gelap itu," ungkap Megawati.
Ibu dari Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan - Puan Maharani, itu dalam pidato politiknya itu mengemukakan, dengan mengenal sisi gelap istana, jati diri dan karakter seorang pemimpin akan diuji. Dia meyakini bahwa seorang pemimpin yang baik harus melalui proses panjang. "Pemimpin lahir melalui gemblengan dan ujian sejarah." Tentu, Megawati tak mengatakan, gemblengan dan ujian sejarah yang terbaik adalah mau menerima realitas pahit dan mau menerima kekalahan dengan legowo. Megawati memang lebih suka mengatakan, “Setelah puasa selama sepuluh tahun, akhirnya kita berkuasa lagi.”
Pernyataan Megawati itu multi tafsir, bisa konotatif, bisa juga denotatif. Bisa harafiah, bisa juga simbolis metaforik. Termasuk, tentu, melepas begitu banyak aset negara – khasnya BUMN – kepada pihak asing, melalui beragam cara. Akibatnya, sejumlah BUMN kita, termasuk BUMN yang mengelola telekomunikasi, seperti Indosat, Telkom, dan Telkomsel berada dalam kepemilikan asing. Artinya, kepemilikan pemerintah di BUMN itu, tidak lagi seratus persen milik pemerintah.

Bagi kita, itulah antara lain sisi gelap istana. Sisi gelap istana, juga dapat dimaknai dengan masuknya ‘kaki tangan’ asing dalam struktur kekuasaan. Apalagi, bila berkantor di istana. Termasuk berbagai kemungkinan yang terjadi di balik tembok-tembok kokoh istana buatan Belanda, itu. Tentu, Megawati punya pengalaman memadai, karena pernah tinggal di sana ketika masih kanak-kanak, sebelum Ibu Fatmawati meninggalkan Soekarno – ayahnya, karena tak mau dimadu. Pun, karena selama beberapa bulan, Megawati berkantor di lingkungan Istana. Di sanalah, terjadi aneka cerita tersembunyi tentang kekuasaan, baik hakekat maupun praktiknya.
Dari Istana Merdeka yang kini dihuni Jokowi, misalnya Presiden Soekarno pernah mengambil keputusan yang dicatat sejarah, anti demokrasi. Yaitu pembubaran Partai Sosialis Indonesia dan Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).
Dari Istana Merdeka itu juga Presiden Soekarno menerima dengan sukacita pikiran kekuasaan sebagai Presiden seumur hidup sekaligus Pemimpin Besar Revolusi untuk dan atas nama aspirasi rakyat melalui MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara).
Dari lingkungan istana itu juga Presiden Soeharto memutuskan pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), dan seperti pendahulunya, memerintahkan tentara untuk menangkapi lawan-lawan politiknya. Kemudian menegakkan rezim represif. Dari lingkungan istana juga, kita mencatat dua Presiden Republik Indonesia menerbitkan dekrit yang membubarkan konstituante dan lembaga perwakilan rakyat. Termasuk mengibarkan rezim represif.
Kalimat, “...kenalilah sisi gelap,” itu mengandung beribu makna. Tinggal Jokowi mau mengikutinya atau tidak. Karena sejarah juga mencatat, kekuasaan yang berpusat di istana bukan segala-galanya. Penguasa istana bisa dengan sangat mudah dilengserkan oleh rakyat dengan beragam cara. |