Pendidikan Manusia Indonesia Merdeka

| dilihat 1593

Bang Sém

Di tengah arus besar transformasi sains dan teknologi yang mestinya mengubah orientasi nilai dan menuntut gaya hidup berkelanjutan (kreatif - inovatif - inventif), mestinya sistem pendidikan Indonesia tak lari dari pijakannya. Kebudayaan (meliputi sains, teknologi, religi, ekologi, seni, bahasa, nilai, dan norma).

Khasnya, karena Abad XXI memberikan tantangan untuk menjadikan manusia sebagai pembelajar sepanjang hayat yang direncanakan mampu menghantarkan proses manusia merdeka yang sesungguhnya.  Yakni, manusia subyek yang mampu mengelola semesta (ekologi), mewujudkan persamaan derajat, membalik kemiskinan, sekaligus menghidupkan dan memajukan kecerdasan budaya (menyeimbangkan kecerdasan - keterampilan dan kearifan).

Manusia subyek sedemikian adalah manusia yang dengan gaya hidup berkelanjutan. Manusia berkemampuan mengendalikan singularitas dan transhumaniktas yang menjadi penggerak peradaban baru.

Di Indonesia, kesadaran demikian tumbuh bersamaan dengan lahir dan berkembangnya kesadaran kebangsaan sejak 1905 - ketika kesadaran literatif bertumbuh, dikembangkan oleh HOS Tjokroaminoto, Ki Hadjar Dewantara, Soetomo, Tirtoadisoerjo, Kartini, Abdoel Moeis, Rahma El Yunusiah, Rohana Koedoes, Tan Malaka, Haji Agus Salim, dan kawan-kawan. Lantas dilanjutkan oleh Soekarno, Hatta, Sjahrir, Mohammad Yamin, Tengku Radja Sabaroeddin, Moh Sjafe'i, Kh Mohammad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, Mohammad Natsir, I.J Kasimo, dan lain-lain.

Trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara (Hing Ngarsa Sung Tulada, Hing Madya Mangunkarsa, Tut Wuri Handayani) di satu sisi dan Moeslim National Onderweijs HOS Tjokroaminoto di sisi lain, serta Sistem Pendidikan Scholastic Muhammadiyah dan Pesantren Nahdlatul Ulama, adalah mata air sistem pendidikan khas Indonesia. Sesuatu yang boleh dipahamkan sebagai aksi nyata perlawanan atas politik etis Belanda yang bersifat diskriminatif melalui Tweede Inlandsche School di bawah derajat Hollandse Indische School. Kendati Belanda memberi jenjang antara yang terseleksi ketat melalui Schakel School.

Dialektika pemikiran sistem pendidikan nasional yang berorientasi pada pembentukan manusia Indonesia merdeka (sebagai modal insan) di topang oleh prinsip persamaan derajat, ini berbanding terbalik dengan sistem pendidikan yang disiapkan Belanda, yang lebih berorientasi pada pembentukan sumberdaya manusia (human resources) - alat produksi dalam sistem penguasaan ekonomi dan sumberdaya alam.

Perlu Sistem Pendidikan Humanis

Kesadaran utuh terkait gagasan pendidikan yang bertumpu pada pembentukan manusia Indonesia sebagai subyek merdeka, masih terasa di awal masa kemerdekaan, baik melalui berbagai pemikiran dan aksi Menteri Pendidikan Prijono, lantas Soepomo (Presiden Universiteit Indonesia II). Antara lain dengan spirit pembentukan manusia Indonesia berkualitas yang setara dengan manusia dari bangsa-bangsa lain. Situasi berbalik sejak Daoed Joesoef menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  ke 17 yang lebih banyak melihat relasi pendidikan dengan industri.

Kondisi kian jauh dari gagasan asasi pendidikan untuk membentuk manusia subyek yang berintegritas dan kaya dengan nilai dan norma di era Nadiem Makarim. Meski menggunakan jargon 'Merdeka Belajar' sesungguhnya sedang membentuk peserta didik 'Belajar Merdeka.' Antara lain melalui sisasat sistemik membebani tenaga pendidik dengan urusan - urusan administrasi pengajaran.

Maklumat Akademi Jakarta (AJ, 2022) mengingatkan, pendidikan merupakan proses belajar yang tidak hanya mengarah pada pencapaian kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Pendidikan adalah proses pendewasaan manusia sepanjang hayat sebagai makhluk yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk menyeimbangkan nalar, nurani, naluri, dan rasa dalam seluruh proses kehidupannya.

Dengan tujuan luhur itu, pendidikan dalam hidup berbangsa dan bernegara merupakan tugas konstitusional untuk membentuk warga yang mampu berpikir kritis, mandiri, berpengetahuan, serta bijak bertindak demi mencapai kebaikan bersama dalam komunitas sosial, politik, dan budayanya.

Dalam maklumat bertajuk 'Cegah Penghancuran Nalar Publik' itu AJ mengingatkan, salah satu tantangan terbesar bagi pendidikan adalah kuatnya paradigma yang mendudukkan kepentingan manusia sebagai pusat segala sesuatu, sehingga ia bebas menaklukkan alam untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Dengan bingkai pikir ini manusia mengembangkan gaya hidup yang melebihi daya dukung bumi, dan mengakibatkan kerusakan alam yang mendatangkan bencana termasuk munculnya penyakit menular baru. Bingkai pikir ini juga dibentuk oleh nalar ekonomi yang menyusup dan mendominasi semua bidang kehidupan, termasuk pendidikan.

Lantas, AJ mengingatkan: "Pendidikan menjadi lahan bisnis yang produktivitasnya dinilai dari kesuksesan lulusan di pasar kerja dalam meraih imbalan tertinggi. Setiap aspek manusia dilihat sebagai aset dan komoditas dalam persaingan bebas, dengan yang kuat meninggalkan yang lemah. Peserta didik tidak dilihat sebagai pribadi yang sedang mengembangkan potensi kemanusiaannya, tetapi objek ekonomi dan konsumen. Sistem ranking, prestise jurusan sains-teknologi di atas seni-budaya, dan perlombaan sekolah mewah yang menciptakan kasta-kasta dalam pendidikan merupakan imbas dari penalaran tersebut.

Dalam maklumat tersebut, AJ menegaskan, "Dalam iklim pendidikan berbasis ranking kurang terbangun kepedulian sosial, kemampuan bertenggang terhadap yang berbeda dan kemampuan kerja sama, yang amat menentukan dalam menghadapi krisis multi-dimensi. Dibutuhkan sistem pendidikan humanis yang dapat mengubah paradigma egosentris menjadi kearifan mengenali kelemahan diri, kerentanan serta kesalingtergantungan manusia baik dengan sesama maupun alam."

STREAM dan Kesadaran Manusia Merdeka

Mengacu pada lintas panjang kesadaran dan pemikiran kebangsaan dalam penyelenggaraan pendidikan sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, membaca lebih jauh Maklumat AJ 2022, dan melihat jauh ke depan (setidaknya ke masa seabad Indonesia Merdeka - 2045) perlu kesadaran untuk mengembalikan sistem pendidikan Indonesia pada pembentukan manusia subyek.

Sistem pendidikan yang tak hanya terpusat pada sekadar 'mencerdaskan kehidupan bangsa.' Jauh dari itu adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Sistem pendidikaan yang membentuk manusia Indonesia sesungguh merdeka dan berdaulat, berkeadilan, seraya menjadi warga global yang berintegritas dan tidak menjadi bagian dari obyek kapitalisme global dan di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain. Sistem pendidikan yang mampu membentuk pribadi-pribadi manusia yang mempunyai 'nation dignity' di tengah nasionalisme global. Sekaligus manusia pembelajar berkualitas akal budi prima, kritis, demokratis, inklusif, toleran, egaliter dan kosmopolit. Manusia yang sungguh tuan di tanah airnya sendiri.

Dalam konteks itu penyelenggaraan seluruh sistem pendidikan nasional, tak cukup hanya mengadopsi yang pendekatan di negara lain yang lebih bertumpu pada STEM (science, technologi, engineering, math) semata. Melainkan STREAM (science, technology, religion, engineering, arts, math). Karena norma dan nilai yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, sesuai dengan prinsip dasar negara Pancasila, jauh lebih kaya dengan apa yang menjadi prinsip dasar negara bangsa lain. Termasuk problematika tata kelola negara kepulauan yang tidak mudah.

Jenis pembelajaran dengan pendekatan STREAM merupakan pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang membantu seluruh peserta didik yang mampu mengembangkan kapasitas dalam mengambil risiko secara arif, menjadi pemecah masalah, inisiator kolaborasi, dan hidup dalam budaya keberlanjutan secara kreatif, inovatif, dan inventif. Tanpa kecuali, mempunyai daya, sebagaimana disebut HOS Tjokroaminoto, "melawan segala adat (kebiasaan) dan cara pendidikan yang sifat dan nafsunya akan merendahkan derajat kemanusiaan." ?Sesuatu yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia kini (ingat proses kontestasi dan kompetisi pargamatisma politik dalam Pilpres dan Pemilu 2024 yang baru berlalu). Proses yang melepaskan adab dan keadaban dalam praktik demokrasi.

Bila sistem pendidikan yang sudah ditanam oleh para guru dan pemimpin bangsa pendiri republik ini dikembangkan sesuai dengan tantangan kini dan esok, maka sistem pendidikan nasional kita jauh melampaui berbagai konsep pendidikan yang memerdekakan. Seperti konsep penmdidikan Ivan Illich yang bisa dikembangkan dengan community college, maupun konsep pendidikan a la Friere yang menempatkan manusia sebagai insan berkesadaran yang berwawasan global.

Dengan sistem pendidikan demikian, maka berbagai peluang masa depan, seperti sistem tata kelola pemerintahan dan negara yang sungguh sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Pancasila, sekaligus sebagai implementasi prinsip dasar asasi dari pemahaman bentuk negara Republik, dan realitas relasi sosio budaya yang bertumpu pada pemuliaan dan mensejahterakan rakyat secara berkeadilan. Soalnya adalah seberapa besar kesadaran kita tentang hakikat manusia, negara dan bangsa merdeka ! |

Penullis Waran

 

Editor : delanova
 
Humaniora
17 Apr 26, 08:10 WIB | Dilihat : 69
Menguatkan Fungsi BAZNAS Melayani Umat
15 Apr 26, 02:13 WIB | Dilihat : 231
Pola Pembinaan a la Haji Agus Salim
27 Mar 26, 11:44 WIB | Dilihat : 334
Perwujudan Iman dan Kemenangan Atas Ego
10 Mar 26, 09:41 WIB | Dilihat : 356
Mengenang Profesor Diraja Syed Muhammad Naquib Al Attas
Selanjutnya
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 302
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 622
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 729
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya