
Bang Sem
“Kusangka aur di tepi sungai, ternyata tebu di pinggir bibir”. Pepatah melayu ini, mengingatkan kita, agar tak mengecoh siapapun.
Selalu berusaha memberi isyarat dengan fakta nyata, daripada sekadar menghadirkan janji manis.
Pepatah ini, biasanya merefleksikan rakyat, selepas pemilihan umum. Terutama, ketika orang-orang yang dipilih sebagai wakil rakyat atau pemimpin, tak lagi ingat apa yang mereka janjikan ketika kampanye.
Bibir tak hanya dua belahan mulut yang terbentuk indah. Bahkan selalu dihias indah. Secara fisik, bibir menegaskan ‘kesempurnaan’ rupa manusia.
Dalam proses komunikasi sebagai bagian interaksi dan interrelasi manusia, bibir berperan besar. Berbeda dengan mata yang langsung mengekspresikan apa yang tersimpan di hati, bibir mampu menyembunyikan kata hati yang sesungguhnya. Bahkan, mampu mengubah kata hati menjadi retorika.

Bibir menampakkan ‘penghiburan’ yang tak senyatanya. Itulah lip service. Termasuk janji-janji manis. Apalagi, bibir segera menyembunyikan pahitnya lidah.
Melalui aneka ekspresi bibir, kita bisa mengenali dengan baik: sukacita, kesedihan, ketulusan, dan kepura-puraan. Melalui bibir pula, manusia merefleksikan gejolak batinnya.
Dalam kehidupan manusia yang paling basic, khasnya perempuan, bibir menjadi bagian dari sex appeal. Karenanya, banyak sekali kaum lelaki yang terpikat hanya karena bentuk dan gerak bibir lawan jenisnya.
Dalam konteks kesehatan anatomis, bibir yang ideal nampak kenyal dan kemerahan. Begitu warnanya pucat, mudah diduga, pemiliknya sedang mengalami sirkulasi darah yang buruk.
Bila bibir bawah nampak bengkak, mudah diduga pemiliknya sedang mengalami gangguan pencernaan atau sembelit. Bila bibir dihiasi bintik gelap, pemiliknya, dapat diduga sedang bermasalah, aliran getah pencernaannya sedang terganggu.
Dalam konteks perangai, bibir menjadi bagian indria manusia yang berfungsi etalatif. Menyembunyikan kondisi dan situasi yang sebenarnya, teruta bagi mereka yang pandai berpura-pura. Bibir laksana jendela indah bercermin buram.
Bagi mereka yang tulus dan berperangai ikhlas, bibir laksana pintu fleksibel yang selalu menyediakan kebajikan dan kearifan, dan mudah dibuka siapa saja.
Saya selalu merasa beruntung acap mendapat staf dan dan pemimpin yang tipis bentuk bibirnya (atas dan bawah). Selain tegas dan rasional, pemilik bibir semacam ini efisien dalam pekerjaannya.
Ia juga senang melakukan pekerjaan rutin. Bahkan cenderung merupakan seorang workaholic. Agak sedikit pemalu, tetapi mampu mengendalikan emosinya.
Beberapa staf dan pemimpin saya yang bibirnya tebal dan berukuran sama, berperangai asyik. Selain menunjukkan dirinya mempunyai keseimbangan emosional, ia juga seorang yang dapat memberi dan menerima keadaan secara seimbang. Ia juga dapat mengekspresikan pendapatnya secara terbuka, mengejutkan, dan tiba-tiba. Bicaranya langsung pada topik dan tidak berbelit-belit: tepat pada sasaran. Kabarnya, pemilik bibir seperti ini: bergairah dan sensual.
Bila bibir bawahnya lebih tebal? Pemiliknya senang mencibir. Pandai menyembunyikan ketidak-mampuan dalam melakukan hubungan timbal balik. Malas memberi respons pada setiap kesempatan.
Bila bibir atas lebih tebal, umumnya dia senang memberi dan memperhatikan orang lain. Ia pun mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik. Ia berbakat menjadi komunikator dan negosiator andalan.

Saya selalu berhati-hati menghadapi staf dan pemimpin yang berbibir penuh, sama besar, dan bulat, saya selalu berhati-hati menyikapinya. Ya, karena selain komunikatif dan penuh perhatian, pemilik bibir seperti ini juga sensitif. Enaknya, dia mudah bergaul, apa yang disampaikannya mudah dimengerti dan dipahami. Ketika memberi petunjuk, arahnya jelas.
Beberapa teman, sering merasa beruntung mempunyai staf yang bibirnya tak terlalu tebal tak pula terlalu tipis. Staf semacam ini: setia dan loyal. Tapi, berhati-hatilah dengan staf dan pemimpin yang bibirnya besar dan melewati batas normal. Pemilik bibir seperti ini, boros, berselera mahal dan mewah. Bicaranya pedas dan keras, meski murah hati dan ekspresif.
Saya juga berhati-hati dengan staf atau pemimpin yang bibirnya kecil, terkatup rapat, lantaran dia egois dan tak ramah. Judes dan ringan mengeluarkan kata yang melukai hati: menyakitkan. Bila bentuk bibirnya melengkung ke bawah, menunjukkan dia sering tak bahagia dan tak puas dalam banyak hal. Akibatnya, wajahnya sering murung.
Bagaimana dengan kita? Lihatlah bibirmu, mulailah mematu -patut bibir kita masing-masing.. Da, kenali siapa dirimu.. !!|