Rima Rima Pasutri

Apresiasi Suami

| dilihat 1772

WAJAH Nieta bercahaya. Matanya berbinar. Sukacita mengaliri seluruh sukmanya. Ulang tahunnya kali ini, sedemikian berarti. Bukan karena cincin berlian yang diberikan Dipta, sang suami, kepadanya. Tapi, lebih karena sang suami, mengucapkan terima kasih atas segala pengabdiannya sebagai istri.

Perempuan lembut dan molek, itu merasa, Dipta sebagai suami telah amat menghargainya. Ucapan terima kasih bagi Nieta adalah penghargaan jiwani, yang mengekspresikan rasa hormat suami kepada istri. Artinya, Dipta telah menempatkan dirinya, bukan hanya sebagai mitra setara. Melainkan, sebagai subjek.

Nieta merasa, ungkapan terima kasih yang dibarengi dengan konsistensi Dipta mewujudkan komitmen pernikahannya, merupakan bagian dari ekspresi penghormatan suami yang tak ternilai.

Bagi Dipta, Nieta adalah istri dan mitra hidup yang sangat bermakna baginya. Sepanjang pernikahannya, di mata Dipta, Nieta telah banyak berbuat. Tidak hanya karena Dipta bersikap, bahwa dalam pernikahan suami istri pada dasarnya setara. Keduanya hanya dibedakan oleh fungsi semata. Suami berfungsi memandu dan memimpin keluarga, sedang istri menata dan mengelola rumah tangga.

Dalam konteks itu, Nieta telah memainkan peran sebagai penata dan pengelola rumah tangga. Ia telah menciptakan suasana rumah tangga yang damai. Lebih dari itu, Nieta di mata Dipta, juga telah menunjukkan kemampuannya memberi kekuatan mental dan keberanian hidup.

Tak jarang Dipta memuji Nieta.

“Nieta adalah sumber inspirasi yang memungkinkan karirku berkembang. Ia juga sumber inspirasi bagiku untuk mengembangkan berbagai gagasan kreatif,” ungkapnya suatu ketika, saat berbincang dengan salah seorang sahabatnya.

Kepada ibunya, bahkan Dipta mengatakan,  keberadaan Nieta sebagai istri, telah mendorong perkembangan karirnya, sehingga ia – kini – terbilang, sebagai salah seorang chief executive officer  yang andal di perusahaan pertambangan tempatnya bekerja.

Selama ini, Nieta hanya mendengar pujian sang suami dari mertuanya. Ia lebih merasa nyaman dengan perangai Dipta. Bukan dari pujian melalui kata-kata dan ungkapan. Tapi, acapkali sang mertua menyampaikan pujian Dipta kepadanya, Nieta tak merasakan kedalamannya.

Kali ini berbeda. Telinga dan seluruh rongga sukmanya, menerima langsung pujian sang suami. Dan, Nieta merasakan resonansinya. Memang, sejak awal mengenal Dipta, ia selalu merasa dawai cintanya selalu bergetar, mendendangkan kidung kinasih nan bening. Getaran dawai cinta kian terasa menggelora, saat mereka melangsungkan pertunangan. Lantas, berkembang menjadi partitur keindahan cinta saat melangsungkan pernikahan.

Selama lebih dari sedasawarsa menjalani pernikahan, Nieta dan Dipta kian mampu memainkan partitur kidung kinasih. Bahkan, keduanya mampu mengekspresikannya ke dalam partitur cinta tempat harmoni hidup rumah tangganya tercipta. Bagi Nieta dan Dipta, kini, cinta adalah kedalaman nurani dalam nada dan irama kehidupan yang tak pernah henti. |

 

Editor : N Syamsuddin Ch. Haesy | Sumber : Zuwad - N. Syamsuddin Ch. Haesy
 
Polhukam
Sporta
02 Okt 22, 12:46 WIB | Dilihat : 269
Tragedi Kemanusiaan di Kanjuruhan
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 465
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
Selanjutnya