Penyebab Banjir di Jakarta

Jangan Selalu Tuding Ciliwung ...

| dilihat 1740
 
JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | Jumat lalu warga Jakarta menghadapi banjir besar dan memang seolah sudah menjadi tradisi, banjir selalu hadir pada setiap pergantian musim hujan. Terutama bagi mereka yang hidup di pinggir bantaran sungai, anehnya mindset mereka seolah begitu akrab dengan banjir, relokasi sementara adalah solusi setiap tahun, mereka tersiksa tapi menjadi terbiasa. 
 
Adapun bila ditanyakan alasan utama yang menjadi penyebab banjir di Jakarta, kebanyakan masyarakat menjawab adalah akibat meluapnya sungai Ciliwung karena curah hujan yang tinggi dan gunungan sampah. 
 
Sudah menjadi tabiat manusia, bila terjadi bencana seringnya alam yang menjadi kambing hitam. Termasuk menyalahkan sungai Ciliwung, sedangkan menurut hukum alam, bila air akan mengalir dari hulu ke hilir, dari daerah tinggi ke daerah rendah. Faktanya bila hampir 40 persen wilayah ibu kota berada di bawah permukaan laut. Tanpa adanya tanggul-tanggul seperti di Eropa, Jakarta selalu mempunyai potensi kebanjiran. Siapa suruh membangun ibu kota di Jakarta? 
 
Sejarah mengatakan dalam teks “A History” Susan Balckburn, sejak zaman kolonial hingga saat ini, krisis air seperti banjir dan pasokan air bersih pernah menjadi pembunuh di Jakarta. Tercatat pada tahun 1878, 134 tahun yang lalu, Batavia (Jakarta tempo dulu) sudah mengalami banjir dikarenakan hujan selama 40 hari berturut-turut. Selanjutnya banjir besar pada Januari-Februari 1918, 1919, 1923, Desember 1931, Januari 1932, Maret 1933 banjir terus kembali berulang. 
 
Berlanjut pada Jakarta setelah kemerdekaan, Januari 1952, 1953, November 1954, 1956, banjir kembali melanda Jakarta sampai ada karikatur untuk banjir berulang ini. Tahun 1950-1960 tercatat banjir terjadi di daerah Sungai Ciliwung hilir. Tercatat pada bulan Februari 1960 Jakarta mengalami banjir besar, paling parah terjadi di daerah Grogol-Jakarta Barat. Selama ini banjir hanya ditangani oleh masyarakat, baru tahun 1963 masalah banjir ditangani oleh tim khusus pemerintah.
 
Di mulai periode tahun 1960-1970 daerah banjir semakin meluas dan penduduk yang tinggal di bantaran sungai semakin banyak. Selanjutnya tahun 1970-1980 siklus banjir semakin sering terjadi. 1976 di zaman gubernur Ali Sadikin, terjadi banjir hebat dan terus berlanjut hingga gubernur selanjutnya, termasuk Jokowi. Banjir seperti berevolusi dengan berbagai penyebabnya yang semakin diperparah dengan pembuangan sampah, tata kota yang kompleks dan kurangnya daerah resapan air. 
 
Pada masa Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat ini, usaha-usaha yang bisa dilakukan masih pada taraf pengendalian banjir, tapi masih akan menjadi kerja panjang untuk mengatasi banjir sama sekali. Termasuk dengan pelebaran sungai Ciliwung yang telah semakin mengalami penyempitan karena padatnya penduduk.
 
Di sinilah membuktikan bila Ciliwung yang menjadi kambing hitam sebenarnya adalah urat nadi masyarakat Jakarta yang menggantungkan hidupnya sekaligus mencacinya sebagai penyebab banjir. Di sisi lain begitu sulit dilakukan relokasi untuk masyarakat.  Menganalisa persoalan banjir akan menjelaskan wajah Jakarta dari masyarakat, ekologi dan masa depan Jakarta. Kita hanya bisa berharap, agar masyarakat Jakarta tidak selalu menyalahkan Ciliwung dan hujan sebagai berkah selalu menjadi faktor utama banjir. Semoga Jakarta kelak tidak akan menjadi kota yang tenggelam.   |Ratu Selvi Agnesia
Editor : Nur Baety Rofiq
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 302
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 391
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 556
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 540
Mengharap Garuda di Langit
Selanjutnya
Lingkungan