Pesta Rakyat di Panggung Publik Sumatera

| dilihat 2165

AKARPADINEWS.COM | PESTA rakyat di Panggung Publik Sumatera #4 yang digelar tanggal 28-30 Mei 2015, mampu membangkitkan antusiasme masyarakat Padang Panjang, Sumatera Barat. Mereka rela berlama-lama dan berduyun-duyun memadati kompleks Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) dan Lapangan Anas Karim agar dapat larut bersama dalam pesta itu.

Di lapangan yang diapit oleh sejumlah bangunan dan diseliumuti udara dingin dengan pemandangan Gunung Marapi dari kejauhan, terdengar keriuhan masyarakat. Di ruang publik itu, masyarakat diberi ruang untuk bergumul di pentas seni. Kondisi yang jauh berbeda dibandingkan pertunjukan seni umumnya. Di ajang itu, festival budaya tak lagi perayaan tahunan yang digelar masyarakat sebagai bentuk ritual. Namun, festival budaya menjadi forum pertemuan secara guyub dan membuka ruang dialog bagi masyarakat dan seniman melalui karya seninya.

Panggung Publik Sumatera yang dimotori oleh Teater Sakata bekerjasama dengan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Diporbudpar) Kota Padang Panjang itu memang bertujuan mendekatkan seni pada masyarakat. Pesta itu sengaja digelar di ruang terbuka agar masyarakat tidak gagap dalam menyaksikan dan menanggapi pertunjukan seni. Berbeda dengan pertunjukan seni-seni lainnya di kota-kota besar.

Sajian seni kebanyakan terkesan angkuh dan dipertunjukan di balik tembok dengan harga tiket yang selangit.  “Di sini sulit sekali untuk menemukan event budaya yang dapat menarik daya masyarakat menonton sekaligus memberikan pertunjukan menarik bagi masyarakat khususnya dalam pentas teater,” jelas Tya Setyawati, salah satu penggagas dan sutradara Teater Sakata.

Panggung Publik Sumatera tahun ini mengulas tema Dapur Kita, sebuah tema sederhana, namun dapat ditafsir secara luas sebagai dapur kebudayaan. Para seniman mencoba menyajikan pertunjukan, hasil resep masakan di daerahnya masing-masing, yang mengisahkan dapur kebudayaan antara lingkup tradisi dan modern.

Ranah Teater Padang misalnya, menampilkan Dendang Pakaba yang berkisah tentang Perang Padri. Sementara Komunitas Aceh membawakan Teater Tutur tentang sosok Cantoy yang mirip Abu Nawas. Lalu, Monolog Inggit Ganarsih dari Teater Gates-Banten. Kemudian monolog Pekanbaru yang mengisahkan perang batin seorang ibu ketika anaknya diculik yang diambil dari Cerpen Seno Gumira Ajidarma, dan Performing Art yang menyoal kerusakan ekologi danau oleh limbah sampah dari Rumah Karya Indonesia-Medan dan lain-lain.

Sebelumnya, terdapat workshop dan pertunjukan pantomime dari Bengkel Mime Theater-Yogyakarta.  Di sela-sela pertunjukan teater, untuk menarik apresiasi penonton, khususnya dari kalangan remaja, ditampilkan pula pertunjukan musik dari beberapa band. Lalu, digelar pula fashion show, pameran foto, sarasahan budaya, pemutaran film dokumenter berjudul Mengejar Bayang-Bayang tentang kawin paksa di Tanah Minang dan film Basiba sebagai upaya melestarikan baju adat Minangkabau.    

Berbagai pertunjukan yang ditampilkan menunjukan negosiasi antara Teater Sakata yang secara ideologis ingin menampilkan seni pertunjukan terpilih, dengan pemerintah dan masyarakat yang menginginkan pertujunkan yang kental hiburan. Namun, hadirnya beberapa pertunjukan yang terlalu percaya diri untuk pentas di ruang terbuka dengan teater yang cerewet pada teks dengan durasi lama, justru menimbulkan kebosanan penonton. 

Di hari terakhir, dihadirkan dua pertunjukan yang menarik dan interaktif yaitu Randai ABG Maimbau Pariaman yang menampilkan pertunjukan randai dibalut Silek (Pencak Silat) Minang dan Sandiwara Kampuang yang ditampilkan anak-anak muda.

Disuguhkan pula pertunjukan Carito dari Bukik Tui yang dipentaskan Teater Sakata sebagai hasil riset tentang penambangan kapur sebagai lahan hidup masyarakat miskin yang digerus arus kapitalisasi. “Tuan…, jika kami harus pergi, kemana kami harus pergi? Tempat ini adalah lahan kami bekerja dan anak-anak sekolah,” demikian teks yang digaungkan dalam Carito dari Bukit Tui.

Kedua pertunjukan ini menjadi sajian menarik yang menutup perhelatan pesta rakyat. “Festival ini memberi ruang baru. Publik harus diinjeksikan tentang wacana dan praktik seni menjadi peristiwa budaya dan seni yang organis,” jelas Wicaksono Adi, salah satu pembicara Sarasehan Budaya di PPS #4.

Panggung Publik Sumatera #4 menjadi kegiatan seni di ruang publik yang layak diapresiasi. Sebuah festival budaya yang tidak sekadar mempertontonkan karya seni. Namun juga memperluas definisi seni sekaligus menimbulkan efek keberlanjutan eksistensi seni dalam kehidupan masyarakat.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Humaniora
11 Mei 26, 09:34 WIB | Dilihat : 508
Sandal dan Kain Ihram Gratis
30 Apr 26, 15:18 WIB | Dilihat : 321
Layanan Fast Track Memudahkan Jamaah Haji 2026
Selanjutnya
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 421
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 704
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 803
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya