Kamis Literasi - Gothe Institut

Masih Sedikit Karya Sastra Indonesia yang Mendunia

| dilihat 3768

JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | Novel-novel asing banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan novel-novel Indonesia sedikit yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Akibatnya, karya sastra Indonesia masih belum banyak diapresiasi dunia. Hal ini mengemuka dalam Kamis Literasi di Goethe Institut, Jakarta (29/1/15).  Hadir sebagai pembicara dalam kesempatan itu: Anton Kurnia - penerbit Serambi; Salman  Farid - CEO (Chief Executive Officer) Bentang Pustaka, penulis Okky Madasari, dan lainnya.

Informasi dari Asosiasi Penerbit Indonesia, menunjukkan karya sastra di Indonesia telah berkembang dari sekitar 6.000 judul per tahun menjadi lebih dari 30.000 pada tahun 2013. Perkembangan jumlah judul tersebut tidak dibarengi oleh giatnya penerjemahan novel dari bahasa Indonesia ke berbagai bahasa asing. Inilah yang menjadi faktor lemahnya apresiasi karya sastra Indonesia di kancah internasional.

Ada beberapa penyebab mengapa novel-novel Indonesia tidak banyak diapresiasi pembaca internasional. Salah satunya kendala penerjemahan. Anton Kurnia mengatakan, “Perlu lembaga atau semacam  laboratorium bertaraf nasional yang melakukan studi penerjemahan karya sastra secara serius.” Menurutnya,  kerja penerjemahan seperti itu sangat penting. Karena, di tangan merekalah karya-karya penulis tanah air dapat ‘terbaca’ oleh kalangan mancanagera.

Di Indonesia, dunia penerjemahan karya sastra saat ini punya posisi pelik. Mereka mematok biaya yang cukup tinggi. “Satu kali biaya penerjemahan biasanya memakan 10 kali biaya produksi buku,” ungkap Salman Farid. Hal ini dikarenakan faktor eksklusif dan sedikitnya pilihan novel yang diterjemahkan, sehingga ongkos alih bahasa tersebut melambung tinggi.

Selain nominal biaya, ternyata karya-karya sastra atau novel yang berkualitas dan ‘pantas’ diterjemahkan di Indonesia juga masih sedikit. “Industri buku saat ini menginginkan judul-judul dengan tema yang lebih ringan. Bukan karya sastra yang relatif lebih sulit dicerna khalayak umum,” tambah Salman.

Meskipun sedikit, bagi karya sastra yang beruntung dapat diterjemahkan ternyata masih harus berjuang mendapatkan tempat di toko-toko buku. Hal seperti ini dialami Okky Madasari. Ternyata, bukunya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris tidak bernasib baik saat dijual di toko buku.

Okky yang pernah meraih Khatulistiwa Literary Award 2012 lewat novelnya berjudul Maryam menambahkan, “Harus diingat pula, novel yang dapat diterima mancanegara adalah karya yang menceritakan wajah Indonesia apa adanya.”

Hal serupa juga diungkapkan Salman, “Laskar Pelangi punya perjalanan panjang sampai akhirnya bertemu dengan nasibnya yang baik. Novel tersebut menceritakan sisi lain Indonesia yang tidak banyak diketahui orang-orang internasional bahkan masyarakat kita sekalipun.”

Pada tahun 2005 Laskar Pelangi yang sukses diterjemahkan ke dalam 8 bahasa asing. Sebelumnya, Saman, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998 diterjemahkan ke dalam 6 bahasa. Lebih jauh, novel-novel Pramoedya Ananta Toer­ sejak penghujung dekade 90-an juga banyak mendapatkan penghargaan internasional, dan sukses diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.

Judul-judul tersebut adalah contoh sedikitnya jumlah karya sastra Indonesia yang mampu berbicara di dunia. Ketiga pembicara berharap, kenyataan tersebut membuka mata pemerintah untuk membuat langkah konkret menyelesaikan masalah ini.

Diskusi ini merupakan pemantik bagi masyarakat pencinta literasi Indonesia. Karena, tahun ini Indonesia didapuk sebagai tamu kehormatan Fankfurt Book Fair 2015. Tentu semangat dan sukacita dunia sastra Indonesia saat ini memerlukan hal yang bukan sekadar keikutsertaan pada ajang internasional tersebut. Namun, lebih memerhatikan masalah yang agak mendalam, seperti sulitnya karya-karya sastra Indonesia yang sanggup berbicara di ranah internasional. |Ahimas Faisal 

Editor : Web Administrator