Cengengesan

| dilihat 4185

GUYON, canda, gurau adalah manusiawi. Cengengesan? Boleh jadi refleksi kejiwaan yang rentan. Bila gurauan saja diisyaratkan sebagai aksi yang berpotensi bisa mematikan hati, saya yakini cengengesan membunuh hati itu sendiri.

Sikap cengengesan dalam pergaulan hidup sehari-hari, biasanya menjadi pakaian harian mereka yang tak mempunyai kompetensi. Terutama karena cengengesan dalam banyak pengalaman, melekat pada manusia yang selalau cenderung menggampangkan masalah dan mudah lari dari tanggung jawab. Dari aspek etimologi cengengesan merupakan tertawa dengan sikap kurang sopan.

Cengengesan yang berketerusan, mengabaikan tidak hanya etika dalam interaksi manusia, tapi menampakkan ekspresi ketidak-cerdasan, bahkan mungkin kebebalan. Itu sebabnya, sejak kecil kita kerap diperingatkan ibu untuk tidak cengengesan dalam banyak hal.

Esensi dari cengengesan adalah sikap cengenges yang terbit dari sikap melecehkan dan merendahkan orang lain, sekaligus menunjukkan karakter manusia tak berpendirian kuat. Tak konsisten dan tak juga konsekuen dalam mewujudkan komitmen.

Mereka yang kerap cengengesan dalam banyak hal, cenderung licik. Dia lebih suka menyimak pendapat orang dan pelit menyampaikan pendapatnya. Bahkan dalam kesempatan lain, bisa mengklaim pendapat orang sebagai pendapat dirinya. Karenanya, mereka yang hidup kesehariannya karib dengan perilaku cengengesan, mudah mencemooh dan merendahkan orang lain. Dia tidak tahu dan tidak mau tahu bahwa sikapnya merupakan ekspresi buruk yang gampang dia berikan kepada siapa saja. Bahkan kepada mereka yang semestinya dia hormati.

Bagaimana dengan pemimpin yang kerap cengengesan. Banyak pendapat bisa dikemukakan.

Pertama, pemimpin yang kerap cengengesan adalah pemimpin yang amat lihai ngeles terhadap substansi persoalan yang dihadapinya. Dalam proses decision maker atau pengambilan keputusan, ia cenderung menentukan keputusan sesuka hatinya sendiri. Pemimpin yang seperti pandai bersandiwara.

Kedua, pemimpin yang semacam ini lebih suka mencari alasan atas persoalan yang dihadapi, bukan mencari cara untuk memperoleh dan menentukan solusinya. Cara ini ditempuh untuk menutupi kondisi obyektif kelemahan diri dan pribadinya. Pemimpin yang semacam ini bisa mengalami persoalan besar bagi dirinya, understressed ketika dalam sendiri dan kesendirian.

Ketiga, pemimpin yang cengengesan adalah pemimpin yang terbiasa memindahkan masalah dari satu persoalan ke persoalan lain, kemudian dengan sangat mudah mengorbankan orang lain sebagai sumber kesalahan.

Dalam etika komunikasi sosial, cengengesan adalah aib selalu harus dihindari. Karena sikap cengengesan merupakan ekspresi dalam (inner expression) yang di sebaliknya menunjukkan sikap rendah diri (bukan rendah hati) yang bisa berubah drastis dan diametral menjadi sikap tinggi hati.  Karenanya, cengengesan tidak mencerminkan kejujuran dan kesahajaan yang sebenarnya.

Bahkan bagi seorang alan-alan (pelawak) pun cengengesan harus dihindari, karena selain tak lucu, sikap cengengesan cenderung memuakkan. Bahaya bagi sebuah bangsa bila berada dalam asuhan pemimpin yang cengengesan. Sebab, selain tak memberi solusi atas persoalan yang dihadapi bangsa itu, pemimpin semacam ini akan membebani rakyatnya dengan alasan-alasan mubazir yang suatu ketika akan membahayakan. |

Editor : Web Administrator