Film "Mazhar e-Sharif"

Jendela Insani Tragedi Pembantaian Diplomat Iran Oleh Taliban

| dilihat 279

catatan film haédar mohammad

Republik Islam Iran merupakan salah satu negara, yang dalam kondisi bagaimanapun, tak pernah henti memproduksi film. Karya-karya sineas Iran menunjukkan kualitas artistik -estetik dan teknik yang mampu bertandang di ajang internasional. Termasuk di ajang Festival Film Cannes, Perancis.

Dengan genre film drama (termasuk dark drama) yang menampakkan perwatakan kuat, baik dalam mengungkap cerita tradisi, roman, maupun cerita-cerita modern, karya sineas Iran sangat layak ditonton.

Salah satu film drama tragedi yang menarik dan patut disimak -- apalagi kini sudah disajikan dalam platform You Tube -- adalah Mazar e-Sharif.

Meski diproduksi tahun 2015, film bertajuk nama kota di Afganistan, ini menjadi relevan ditonton saat ini, ketika Taliban kembali menguasai Afganistan, setelah selama dua dekade tersingkir oleh rezim pemerintahan yang dibina Amerika Serikat dan sekutunya (NATO).

 Film irani garapan sutradara Abdolhassan Barzideh yang sekaligus menulis skenarionya, ini berkisah tentang serangan Taliban yang merangsek ke konsulat jendral Iran di kota Mazar e-Sharif, yang menyebabkan 10 diplomat Iran dan seorang jurnalis koresponden IRNA di kota itu terbunuh, 8 Agustus 1998.

Dalam peristiwa itu, seorang diplomat Allahmadad Shahsavan, berhasil lolos, dibantu sebuah keluarga Afghanistan, sehingga berhasil  mencapai wilayah Iran susah payah melewati rure berbahaya. Shahsavan (diperankan Hosein Yari), akhirnya selamat, setelah menempuh perjalanan selama 19 hari.

 Selain Hosein, Mahtab Keramati, dan Masoud Rayegan, Reza Azizi, Masoud Sakhaei, Mahdi Agahi, film ini dibintangi para aktor yang gemilang, dan mampu memindahkan realitas pertama peristiwa yang sebenarnya menjadi realitas kedua (film) yang mengusik kemanusiaan kita.

Sejak detik pertama, dengan black flat melatari rolling caption putih diiringi soundtrack dan musik yang menggugah, film ini sudah menjanjikan untuk ditonton. Selebihnya, setting - in door -- kantor konsulat jendral Iran di Mazar e-Sharif dan ruang dalam benteng pertahanan di perbatasan, dan setting out door - situasi sekitar kantor konsulat jendral, dan rute perjalanan menuju Iran melintasi  pegunungan berbatu khas Afganistan, tergarap sangat apik.

Penulis skenario dan sutradara menggunakan teknik back to back dengan menghindari teknik cut to cut, mengelola alur cerita sesuai dengan ritme rasa pemirsa.

Cerita diawali dengan dialog antara seorang petinggi di benteng perbatasan Iran dengan Shahsavan - diplomat yang lolos. Dia mempertanyakan, bagaimana bisa meloloskan diri dari tragedi pembantaian yang dilakukan pasukan Taliban.

Lantas mengalirlah kisah tragis yang dialami diplomat Iran dan jurnalis IRNA dengan sangat tragis, serta mengabaikan hukum internasional dan diplomasi.

Shahsavan sedang bekerja di ruang kerjanya, ketika terjadi ledakan bom, yang memang kerap mewarnai perang antara Taliban dengan pasukan Afganistan yang didukung Amerika dan sekutunya. Kali ini, ledakan yang didengarnya berbeda. Sangat dekat dengan kantor konsulat. Ketika naik ke roof kantornya memantau situasi, Shahsavan melihat situasi yang berbeda.

Masyarakat di lingkungan sekitar kantornya kalang kabut. Dia ke kantor IRNA yang terkunci dan kemudian mendapati jurnalis yang baru meliput dari lapangan. Lantas keduanya kembali ke kantor.

Tak berapa lama, orang-orang Thaliban bersenjata sudah merangsek ke dalam kantor, melakukan penggeledahan, termasuk mengambil uang di kantor, itu.

Thaliban dengan ekpresi wataknya 'menekan' para diplomat Iran dan jurnalis IRNA. Kemudian menggelandang mereka ke satu sudut ruangan, setelah sebelumnya, Taliban yang lain memaksa meminta kunci dan melarikan mobil diplomat Iran.

Orang-orang bersenjata Taliban membantai para diplomat dan jurnalis itu, dengan menembakinya dari jarak sangat dekat. Shahsavan selamat. Hanya kakinya yang tertembak. Pembunuhan yang dilakukan terhadap diplomat dan jurnalis itu sangat keji dan tak dapat dipahami logika kemanusiaan dan islam.

Shahsavan keluar kantor untuk mengobati luka kakinya. Ahmad, warga Afganistan dekat kantor konsulat melihatnya yang jalan terpincang di tengah hilir mudik orang.

Ahmad, yang nampak sudah menjadi sahabatnya, dengan spirit kemanusiaan, membantunya. Ia disembunyikan dan dilindungi di rumah Ahmad, sahabat yang berusaha mengubah penampilan dan pakaiannya sebagaimana orang Afganistan pada umumnya.

Sesudah luka bekas tembakan Taliban membaik, Ahmad bersama keluarga dan anak-anaknya dengan menggunakan gaz (jeep Rusia) tua berusaha mengantarkan Shahsavan ke perbatasan wilayah Afganistan dengan Iran.

Tapi malang, mobil tua itu kerap mogok, karena radiator mesinnya berkali-kali mengalami kekeringan, karena panas. Dalam situasi menghadapi orang-orang Taliban yang menjaga dan mencegatnya di perbatasan, Ahmad dan keluarganya beralasan akan mengunjungi familinya di perbatasan.

Tapi, lagi-lagi.. gaz tua itu bermasalah. Di suatu perbukitan, ketika mobil mogok dan mereka mendapatkan sumber air - sungai kecil di sela perbukitan batu yang kering berdebu, datang orang-orang Taliban, yang segera 'menyeret' mobil itu pergi entah ke mana.

Shahsavan dan perempuan Afgan - keluarga Ahmad (Mahtab Keramati) hanya bisa menyaksikan saja dari balik bebatuan, sampai mobil itu hilang dari pandangan. Perempuan Afgan itu melihat kaki Shahsavan berdarah lagi.

Kondisi Shahsavan kian melemah. Tak mungkin meminta bantuan siapapun, apalagi menumpang kendaraan orang lain. Apalagi, sebelumnya mereka melihat bagaimana orang-orang Taliban menyeret dua lelaki dengan mobil. Lantas keluarga dan seorang anak perempuannya, mereka pukuli dan kemudian mereka tembak.

Di sekitar perempuan Afgan dan Shahsavan, hanya ada rongsokan mobil truck bak terbuka. Sebuah gerobak memberi harapan. Setelah memeriksanya dan yakin gerobak dapat berjalan, keluarga Ahmad ini, melapisinya dengan rerumputan, kemudian meminta Shahsavan naik ke atasnya.

Keluarga Ahmad menarik gerobak itu dengan susah payah, hingga tangannya terluka. Ia hampir putus asa, melihat kondisi Shahsavan. Berulang-ulang ia berdo'a, memohon pertolongan Allah.

Ia merasa senang, ketika melihat jemari Shahsavan bergerak. Ia meneteskan air dari kanal kecil ke kepala Shahsavan, dan bangkit lagi semangatnya melihat reaksi Shahsavan.

Perempuan Afgan itu sudah tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Tangan, kaki dan seluruh tenaganya sudah habis. Shahsavan sendiri sudah mulai sanggup berjalan, meski terpincang-pincang. Keluarga Ahmad itu meminta Shahsavan melanjutkan perjalanannya menuju ke Iran. 

Shahsavan tak tega. Tapi, kemudian mengikuti saran perempuan Afgan itu. Ia pergi. Mereka berpisah dengan nasibnya sendiri-sendiri.

Adegan-adegan menghentak yang menggambarkan aksi kejam orang bersenjata Taliban, dengan teknik flash back di awal dan tengah cerita, berubah menjadi adegan mengharukan sampai akhir cerita.

Mahtab Keramati sangat luar biasa memerankan tokoh yang diperankannya, yang menghadirkan realitas sebenarnya, luah simpati atas insiden teroris ini. Dia berhasil mengeksplorasi ungkapan simpati dan empati khusus rakyat Afghanistan yang tertindas yang menjadi korban terorisme buta.

Adegan yang dimainkannya, menghadirkan manifestasi insaniah  yang bersinar dari ikatan mendalam antara rakyat dua negara. Ikatan yang selalu terbentuk di tengah perang yang tidak adil dan mengorbankan rakyat Afghanistan yang selalu tertindas. Simpati dan empati yang mengundang apresiasi dan respek. Sesuatu yang sesungguhnya mendulang hubungan mendalam dan sejati antara rakyat Iran dan Afghanistan yang mampu mengadopsi pendekatan konstruktif dalam memuliakan manusia dan kemanusiaan.

Film ini memberi isyarat bagaimana Iran memberi apresiasi dan respek mendalam kepada diplomat dan jurnalisnya, sebagai martir, sekaligus sebagai manifestasi sikap anti teror yang sebenarnya.

Meskipun peristiwa (8 Agustus 1998) yang terjadi ketika Taliban merebut Mahzar e-Sharif itu, masih diselimuti oleh misteri panjang, termasuk pertanyaan: mengapa Taliban melakukan pembantaian itu? Pertanyaan ini, mesti dijawab oleh Taliban, kini, ketika mereka kembali menguasai Afganistan. Paling tidak, untuk membuktikan, bahwa mereka kini berubah.

Akting Mahtab Keramati dan Hosein Yari di satu sisi dan akting Masoud Rayegan di sisi lain, dengan daya musikal yang digarap sangat apik dan detil oleh komposer Behzad Abdi menjadi 'ruh' film kemanusiaan, ini. Efek visual film ini, termasuk beberapa insert visual di awal dan tengah film, telah membuat film ini mampu mengabarkan kepada dunia, betapa ajaran agama yang berhenti hanya sebagai dogma, dan perang memperebutkan kekuasaan, merupakan petaka yang merampas kemanusiaan.

Sangat wajar bila kemudian soundtrack film ini mendapat penghargaan Crystal Simorgh dalam  kompetisi nasional, Festival Film Fajr ke 33. Film ini sangat pantas mendapat apresiasi, sama seperti penghargaan yang diberikan Festival Film Internasional Victoria Canada 2016, sebagai film terbaik. Demikian juga dengan Festival Film Internasional Phoenix 2016 Australia, yang memilih Mahzar e-Sharif sebagai film terbaik.

Penghargaan yang diberikan Festival Film Internasional Tamil Nadu India 2016 kepada Abdolhassan Barzideh sebagai sutradara terbaik dan Mahtab Keramati sebagai aktris terbaik sangat tepat. Begitu juga dengan penghargaan Madrid Imagine India festival Culture 2019, yang memilih Mehrab Keramati  sebagai presiden Festival Film Internasional Imagineindia ke-19, yang akan diadakan di ibu kota Spanyol, Madrid. pada tahun lalu.

 Mahtab Keramati, yang memenangkan penghargaan aktris terbaik di Imagineindia 2015 untuk penampilannya di "Ghosts" (karya sutradara Dariush Mehrjui) memang aktris berkualitas. Akan halnya Hossein Yari merupakan  aktor yang berbakat besar, sejak ia membintangi film “Little Soldier” karya Saeid Bakhsh Alian (1984), disusul oleh perannya dalam “Saadat Abad” ( Maziar Miri), film seri “Brother” (Javad Afshar), film seri “Asheghaneh” (Manouchehr Hadi), dan "Ghalbe Yakhi" musim ketiga yang disutradarai Mohammad Hossein Latifi.

Mazar e-Sharif yang juga telah memenangkan penghargaan untuk fitur terbaik dengan anggaran di bawah $250.000 di Phoenix Film Festival Melbourne (PFFM), Australia, 2017, ini akan menjadi referensi baik untuk melihat realitas Taliban. Mampukah mereka berubah? Menjadi sungguh islami, islam yang merupakan jalan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Film baik ini, salah satu jendela untuk mengetahui Taliban di hari lampau.  |

Editor : eCatri
 
Lingkungan
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 166
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 655
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1571
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya