Arsitek Perlu Membangun Ruang Hidup

| dilihat 5637

AKARPADINEWS.COM | THE World Without Us menjadi tema utama Architecture Universitas Indonesia (UI) Fair (AFAIR). Tema ini merujuk pada pentingnya sikap responsif seorang arsitek terhadap realitas perkembangan jaman.

Sebagian besar kalangan menilai, profesi arsitek hanya dinilai dari karyanya secara fisik. Namun, tidak melihat dimensi lain, di mana desain arsitektur mampu menciptakan ruang hidup yang turut mempengarui terciptanya pola interaksi manusia secara dinamis.

Melalui pameran inilah, para arsistek lewat karyanya berupaya berkomunikasi dan mencoba menjawab kebutuhan kontekstual dalam membangun ruang hidup. Itulah harapan dari pameran yang diinisiasi para calon arsitektur muda, mahasiswa Jurusan Arsitektur dan Arsitektur Interior Fakultas Teknik (FT) UI.

Pameran AFAIR 6 berlangsung sejak 27 Januari hingga 4 Februari 2016 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Ketika memasuki ruang pameran, terlihat berbagai karya-karya instalasi market, foto teks diagram dan berbagai konten arsitektur dalam bentuk desain pameran yang dikemas dengan menarik.

Berbagai maket yang ditampilkan para calon arsitektur muda, memiliki daya penarik imajinasi tersendiri bagi pengunjung pameran. Bentuk maket berupa rumah, gedung pencakar langit (tower), art space, taman, hotel, kafe hingga pasar untuk pedagang kaki lima, merupakan produk arsitektur yang kelak tidak hanya akan diwujudkan dalam bentuk fisik semata. Namun, juga memenuhi kebutuhan ruang yang elegan agar manusia dapat berinteraksi dengan baik.

Selain ajang bagi mahasiswa menunjukan eksistensi lewat karya arsitekturnya, pameran ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangannya, khususnya terkait dengan dunia aristektur kepada masyarakat.

Menurut Prof Yandi Andri Yatmo, kurator pameran dan Kepala Departemen Arsitektur FT UI, seorang arsitek penting dalam membangun ruang hidup. Arsitek harus menjalani proses berpikir dalam mendesain serta memahami konteks sehingga mampu menggagas karya arsitektur yang kontekstual.  Dengan begitu, diharapkan karya arsitekturnya akan menjadi indah dan bermakna.

Yandri juga memaparkan tentang proses dalam mendesain karya arsitektur, mulai dari proses berarsitektur pada ruang diri (menghadapi alam), pada ruang hidup berkelompok (menghadapi sebuah kuarga dan komunitas), hingga pada ruang hidup masyarakat luas (menghadapi kumpulan kelompok yang berhubungan dengan cara beragam).

Misalnya, pada proses dan pemikiran dalam ruang diri, yang menuntut arsitek dapat menghubungkan ruang dengan indera manusia. Sedangkan pada konteks kota Jakarta, arsitek dapat membedah pola kehidupan masyarakat dan menemukan isu terpendam di masyarakat Jakarta. Seperti pada karya maket, Distinct House dari Fakhira Juniba Sekarini.

Menurutnya, dalam konsep rumah, arsitektur adalah bidang yang bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kebutuhan penggunanya, termasuk karakter unik seperti untuk penyandang autis.

Ruangan dapat dengan mudah dikenali oleh anak-anak autis. Konsep rumah ini juga menjadi tempat bermain dan belajar, dengan tekstur berbeda sehingga mendorong anak-anak autis lebih dinamis.

Di sebuah rancangan arsitektur dan arsitektur interior tentang Iconic City of Jakarta, arsitek berusaha melihat Jakarta, baik dari sisi mikro dan makro. Dalam konteks ini, globalisasi turut andil menjadikan Jakarta sebagai kota dengan mobilitas tinggi, sehingga mempengaruhi ruang yang menjadi tempat tinggal manusia, baik digunakan secara temporal maupun permanen.

Kondisi ini mengharuskan seorang arsitek mengutamakan sebuah ruang dengan batasan yang rigid serta teknologi yang mendukung. Misalnya, pada maket karya berjuluk Interwofen dari Farah Nabila, mahasiswa arsitektur UI 2012. Ide dibalik bangunan tower kantor yang berlokasi di Senopati, Jakarta Pusat adalah menyimbolkan hubungan yang terjalin secara kontinu, antara manusia dengan bangunan dan alam sekitarnya.

Namun, dalam beberapa gagasan yang menyoal arsitektur dan ruang, terdapat beberapa konsep yang kurang memiliki relevansi dengan realitas. Misalnya, konsep kampung yang terlihat tumpang tindih dengan arsitektur yang rumit untuk diterapkan dan memakan banyak ruang.

Selain memamerkan karya mahasiswa, AFAIR 6 juga memamerkan desain aristektur dari berbagai kampus, kuliah terbuka. Acara itu juga mengelar sayembara desain i-shelter, serta memperkenalkan kembali community project keseharian dan arsitektur, yang digagas sejak tahun 2008 hingga saat ini. Tujuannya, agar karya arsitektur merespon berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 115
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 243
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 205
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 566
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 197
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 201
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 161
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 238
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya