
NEW YORK | "Kita berada dalam keadaan darurat pembangunan global," ujar Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjend PBB) António Guterres hari ini kepada pers di Pers Room markas besar PBB, Senin (14/7/25).
Selaras dengan hal tersebut, Guterres menjelaskan kaitan keadaan darurat pembangunan tersebut dengan konflik di berbagai belahan dunia. Menjawab pertanyaan tentang Gaza, Guterres mengatakan, “Kita semua mengutuk serangan yang mengerikan. terhadap Gaza. Apa yang kita saksikan di Gaza adalah tingkat kematian dan kehancuran yang tak tertandingi akhir-akhir ini, dan itu adalah sesuatu yang merusak kondisi paling mendasar dari martabat manusia bagi penduduk Gaza.
Pers briefing dilakukan terkait dengan laporan tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Sustainable Development Goal's (SDG's). Dikatakannya, “Laporan hari ini menunjukkan bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan masih dapat dicapai. Namun, hanya jika kita bertindak — dengan urgensi, persatuan, dan tekad yang teguh.”
Meskipun tantangan global terus berjatuhan, menurutnya, laporan tentang SDG's mendokumentasikan pencapaian global yang penting. Pada saat yang sama, laporan ini menyoroti tantangan yang terus menghambat kemajuan pembangunan berkelanjutan.
Laporan ini juga menyerukan tindakan di enam bidang prioritas, dimana upaya intensif dapat menghasilkan dampak transformatif : sistem pangan, akses energi, transformasi digital, pendidikan, lapangan kerja dan perlindungan sosial, serta aksi iklim dan keanekaragaman hayati.
Temuan laporan PBB, ini SDG's telah meningkatkan taraf hidup jutaan orang selama dekade terakhir, tetapi kemajuannya masih belum memadai, demikian temuan laporan PBB. Laporan SDG's 2025 ini merupakan laporan kemajuan tahunan edisi ke 10. Satu dekade setelah SDG's diadopsi. Laporan ini menyajikan penilaian yang tajam dan seruan yang kuat untuk bertindak.
Dikemukakan, meskipun jutaan orang telah meningkatkan taraf hidup mereka melalui peningkatan di bidang kesehatan, pendidikan, energi, dan konektivitas digital, laju perubahannya masih belum memadai untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada tahun 2030.

Akar Ketidakadilan dan Ketimpangan
Data terbaru yang tersedia menunjukkan, hanya 35 persen target yang berada di jalur yang tepat atau menunjukkan kemajuan moderat, sedangkan hampir setengahnya bergerak terlalu lambat dan 18 persen mengalami kemunduran.
Laporan ini juga mendesak pemerintah dan mitra untuk menerapkan Kerangka Kerja Aksi Medellín, sebuah peta jalan yang diadopsi pada Forum Data Dunia PBB 2024, guna memperkuat sistem data yang penting bagi pembuatan kebijakan yang responsif.
Guterres mengatakan, “35 persen dari tujuan tersebut tepat sasaran, dan beberapa di antaranya sangat penting: Kemiskinan Ekstrem telah berkurang; angka kematian anak dan perempuan telah berkurang drastis; dan akses anak perempuan terhadap pendidikan -- dan secara umum--, akses terhadap pendidikan telah meningkat secara substansial. Jadi, jika tidak ada SDG's, banyak dari pencapaian ini tidak akan pernah tercapai.”
Lebih jauh Guterres mengatakan, “Saya pikir pembahasannya bukanlah tentang apakah kita telah mencapai tujuan yang cukup atau belum, melainkan tentang apa akar dari ketidakadilan dan ketimpangan dalam sistem ekonomi dan keuangan global kita, yang membuatnya begitu sulit untuk menerapkan hal-hal yang diakui semua orang sebagai hal ehwal yang dibutuhkan agar kita dapat hidup bermartabat.”
Jumpa pers tersebut dihadiri juga oleh Wakil Sekjend PBB, Amina J Mohammed dan Asisten Sekjend PBB di Departemen Ekonomi dan Sosial Björk Sundair. Dijelaskan, bahwa laporan ini merupakan gambaran singkat tentang posisi kita saat ini.
Sejak 2015, -- berakhirnya Millenium Development Goals - MDG's) dan awal SDG's -- jutaan orang telah mendapatkan akses listrik, memasak bersih, dan internet. Demikian juga halnya dengan perlindungan sosial yang kini menjangkau lebih dari separuh populasi dunia.
Terjadi pula peningkatan yang signifikan dibandingkan satu dekade lalu. Akses pendidikan pun terus meningkat, dan lebih banyak anak perempuan yang tetap bersekolah. Pernikahan dini menurun.
Guterres juga menjelaskan, kapasitas energi terbarukan terus meningkat, dipelopori oleh dengan negara-negara berkembang. Representasi perempuan di berbagai pemerintahan, bisnis, dan masyarakat, juga meningkat.

Perlu Genjatan Senjata Segera di Gaza
Pencapaian ini menunjukkan bahwa investasi dalam pembangunan dan inklusi membuahkan hasil. Namun, perlu diperjelas, kita belum berada di tempat yang seharusnya. Hanya 35 persen target SDG's yang berada di jalur yang tepat atau menunjukkan kemajuan yang moderat.
Hampir separuhnya bergerak terlalu lambat, bahkan 18 persen bergerak mundur. "Kita berada dalam keadaan darurat pembangunan global, yang diukur dengan lebih dari 800 juta orang yang masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, dampak iklim yang semakin intensif, dan layanan yang terus-menerus menguras sumber daya yang diperlukan negara untuk berinvestasi pada rakyatnya," ungkap Guterres.
Lebih lanjut Guterres mengatakan, kita harus menyadari keterkaitan yang mendalam antara keterbelakangan dan konflik. "Itulah sebabnya kita harus terus mengupayakan perdamaian di Timur Tengah. Kita memerlukan gencatan senjata segera di Gaza, pembebasan segera semua sandera, dan akses kemanusiaan tanpa hambatan sebagai langkah awal untuk mencapai solusi dua negara."
Guterres juga mengatakan, kita memerlukan gencatan senjata permanen antara Iran dan Israel. Kita perlu perdamaian yang adil dan abadi di Ukraina berdasarkan Piagam PBB, hukum internasional, dan resolusi PBB. "Dan, kita memerlukan diakhirinya kengerian dan pertumpahan darah di Sudan. Dari Republik Demokratik Kongo hingga Somalia, dari Tenggara hingga Myanmar, kita tahu bahwa pembangunan berkelanjutan, diperlukan," jelas Guterres.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, laporan PBB yang diluncurkan hari itu, menunjukkan jalan menuju kemajuan. "Jalur transformasional dalam bidang pangan, energi, akses digital, pendidikan, lapangan kerja, dan iklim adalah peta jalan kita. Kemajuan di satu bidang dapat melipatgandakan kemajuan di semua bidang tersebut. Namun, kita harus bergerak lebih cepat dan kita harus bergerak bersama," ungkapnya.
Sebelum meninggalkan ruangan unttuk bergabung dalam pembukaan HLPF (High Level Political Forum) di ruang sidang utama, Guterres menjelaskan, kini kita berada pada momen yang sangat menentukan. Laporan SDG's 2025 berfungsi sebagai wadah bagi kita, sekaligus ajakan untuk bertindak, dengan memberikan bukti kritis yang diperlukan untuk memandu diskusi di HLPF dan seterusnya. | Jeanny